11 Update Perang Iran-AS: UEA Cabut dari OPEC-Gencatan Senjata Runtuh
Jakarta, CNBC Indonesia - Eskalasi konflik di Timur Tengah semakin memanas seiring dengan aksi blokade militer Amerika Serikat (AS) di perairan strategis, ketidakpastian gencatan senjata dengan Iran, serta situasi di Lebanon dan Palestina. Situasi ini memicu kekhawatiran global akan lonjakan harga energi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa tahun terakhir pada Rabu (29/4/2026).
Berikut adalah 11 pembaruan terkini mengenai situasi perang Iran yang dirangkum dari Al Jazeera, AFP, dan CNBC Indonesia:
1. AS Geledah Kapal Kargo di Jalur Blokade Iran
Militer Amerika Serikat dilaporkan telah menaiki kapal komersial lainnya selama blokade pelabuhan Iran. Berbeda dengan kasus sebelumnya, kapal kali ini diizinkan untuk melanjutkan perjalanannya setelah dipastikan tidak menuju wilayah Iran.
Komando Pusat AS (US Central Command) menyatakan bahwa pasukan Marinir telah menaiki kapal Blue Star III. Namun, pihak militer segera melepaskan kapal tersebut setelah melakukan pencarian.
"Kami melepaskan kapal tersebut setelah melakukan penggeledahan dan mengonfirmasi bahwa perjalanannya tidak mencakup persinggahan di pelabuhan Iran," tulis pernyataan US Central Command mengutip Al Jazeera.
2. Gedung Putih: AS Tidak Akan Terburu-buru Terkait Kesepakatan Buruk
Hingga saat ini, status gencatan senjata antara AS dan Iran masih belum menemui titik terang setelah Presiden Donald Trump membahas proposal dari Teheran. Meskipun de-eskalasi dapat meredakan tekanan politik bagi Trump, hal itu dikhawatirkan memberi ruang bagi Iran untuk membangun kembali program nuklirnya.
Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menegaskan bahwa AS masih terlibat dalam negosiasi dengan pihak Iran. Ia menekankan bahwa pihaknya tidak akan terdesak oleh waktu.
"Kami tidak akan terburu-buru membuat kesepakatan yang buruk. Presiden hanya akan menyepakati perjanjian yang mengutamakan keamanan nasional AS, dan dia telah menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah boleh memiliki senjata nuklir," ujar Kelly mengutip Al Jazeera.
3. Menlu Palestina Sebut Israel Ingin Otoritas Palestina Runtuh
Menteri Luar Negeri Palestina, Varsen Aghabekian Shahin, menyampaikan kekhawatirannya di hadapan Dewan Keamanan PBB (UNSC). Ia menuduh Israel tengah berupaya menghancurkan struktur pemerintahan Palestina.
Shahin menuntut penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza yang merupakan bagian integral dari Palestina. Ia menegaskan bahwa pengaturan transisi apa pun harus mengarah pada penyatuan kembali wilayah.
"Setiap pengaturan transisi harus mengarah pada reunifikasi Tepi Barat dan Jalur Gaza di bawah payung Otoritas Nasional Palestina, dan tidak boleh terhalang oleh kebijakan pengusiran paksa serta aneksasi," tegas Shahin mengutip kantor berita Wafa.
4. Trump Semprot Kanselir Jerman Soal Kritik Perang Iran
Presiden Donald Trump melontarkan kritik pedas terhadap Kanselir Jerman Friedrich Merz. Hal ini dipicu oleh pernyataan Merz yang menyebut Iran telah mempermalukan Amerika Serikat dalam pembicaraan damai.
Melalui media sosial Truth Social, Trump menuding Merz tidak memahami situasi yang sebenarnya di lapangan. Trump merasa keberatan dengan sikap sekutu NATO-nya tersebut.
"Kanselir Jerman, Friedrich Merz, berpikir tidak apa-apa bagi Iran untuk memiliki Senjata Nuklir. Dia tidak tahu apa yang dia bicarakan!" tulis Trump mengutip akun media sosialnya.
5. AS Jatuhkan Sanksi pada Jaringan 'Perbankan Bayangan' Iran
Di tengah kebuntuan negosiasi, Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi terhadap 35 entitas dan individu yang terlibat dalam jaringan perbankan bayangan Iran. Langkah ini diambil untuk memutus aliran dana ilegal Teheran.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa dana gelap yang jumlahnya mencapai puluhan miliar dolar tersebut digunakan untuk mendanai aktivitas yang merugikan keamanan.
"Dana terlarang ini mendukung operasi teroris Iran. Perusahaan mana pun yang melakukan pembayaran tol kepada Iran untuk melewati Selat Hormuz yang diblokade akan menghadapi sanksi yang signifikan," kata Bessent mengutip pernyataan resmi Departemen Keuangan AS.
6. Bank Dunia Ramal Lonjakan Harga Energi Terparah dalam 4 Tahun
Bank Dunia memproyeksikan harga energi akan melonjak sebesar 24% tahun ini, mencapai level tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Hal ini merupakan dampak langsung dari guncangan perang Iran terhadap pasar komoditas global.
Laporan Commodity Markets Outlook memprediksi harga minyak mentah Brent akan rata-rata berada di level US$ 86 (Rp 1.483.758) per barel pada 2026, melonjak dari US$ 69 (Rp 1.190.457) pada 2025.
"Serangan terhadap infrastruktur energi dan gangguan pengiriman di Selat Hormuz telah memicu kejutan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, yang awalnya memotong pasokan minyak global sebesar 10 juta barel per hari," tulis laporan Bank Dunia mengutip CNBC Indonesia.
7. Pemimpin Teluk Berkumpul di Arab Saudi Bahas Dampak Perang
Para pemimpin dan pejabat dari seluruh kawasan Teluk bertemu di Jeddah, Arab Saudi, untuk membahas krisis regional yang dipicu oleh perang AS-Israel melawan Iran. Ini adalah pertemuan tatap muka pertama anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC) sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.
Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, menyatakan bahwa pertemuan ini menunjukkan solidaritas negara-negara Teluk dalam menghadapi situasi keamanan yang genting.
"Pertemuan ini mewujudkan posisi Teluk yang bersatu terhadap situasi saat ini dan apa yang dibutuhkannya dalam hal koordinasi serta konsultasi yang intensif," kata Al Thani mengutip unggahan media sosialnya di AFP.
8. Kejutan! Uni Emirat Arab Keluar dari OPEC
Uni Emirat Arab (UEA) secara mengejutkan mengumumkan pengunduran dirinya dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mulai 1 Mei mendatang. Keputusan ini diambil untuk mempercepat investasi dalam produksi energi domestik.
Menteri Energi UEA, Suhail Al Mazrouie, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan evolusi kebijakan yang selaras dengan fundamental pasar jangka panjang.
"Keputusan UEA untuk keluar dari OPEC mencerminkan evolusi berbasis kebijakan yang selaras dengan fundamental pasar jangka panjang. Kami tetap berkomitmen pada keamanan energi, menyediakan pasokan yang andal, bertanggung jawab, dan rendah karbon sambil mendukung pasar global yang stabil," ungkap Mazrouie mengutip akun X resminya.
9. Serangan Israel Tewaskan 8 Orang di Lebanon
Meskipun gencatan senjata telah dideklarasikan, serangan Israel di Lebanon selatan menewaskan sedikitnya delapan orang. Serangan tersebut menyasar bangunan warga dan petugas penyelamat yang sedang membantu korban.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, mengecam keras tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai serangan sistematis terhadap pekerja kemanusiaan.
"Kebebasan bertindak kami untuk menggagalkan ancaman, baik ancaman langsung maupun ancaman yang muncul, adalah bagian dari perjanjian yang kami buat dengan Amerika Serikat dan juga dengan pemerintah Lebanon," kata Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengutip pernyataannya kepada personel militer.
10. Mediator Pakistan Tunggu Proposal Revisi dari Iran
Sumber mediator di Pakistan mengharapkan proposal baru dari Iran dalam beberapa hari ke depan. Hal ini menyusul penolakan Presiden Trump terhadap versi proposal sebelumnya yang dinilai tidak memadai.
Trump mengklaim melalui media sosial bahwa Iran saat ini berada dalam kondisi yang sangat lemah akibat tekanan blokade di Selat Hormuz.
"Iran telah memberi tahu AS bahwa mereka berada dalam 'Negara yang Runtuh' (State of Collapse). Teheran ingin Selat Hormuz dibuka seiring upaya mereka menentukan kepemimpinan mereka," tulis Trump mengutip unggahan media sosialnya di CNN.
11. Tanker LNG Pertama Berhasil Lintasi Selat Hormuz yang Terblokade
Sebuah kapal tanker LNG yang penuh muatan dilaporkan berhasil melewati Selat Hormuz untuk pertama kalinya sejak perang dimulai. Kapal bernama Mubaraz tersebut diduga mematikan transpondernya untuk menghindari deteksi saat melintasi jalur berbahaya tersebut.
Analis senior Kpler, Charles Costerousse, menyebutkan bahwa meskipun ada satu kapal yang lolos, lalu lintas di selat tersebut masih sangat terbatas.
"Mungkin saja kapal tersebut berhasil menyeberangi selat selama akhir pekan 18-19 April, ketika beberapa kapal mencoba menyeberang, namun hal ini belum terkonfirmasi," kata Costerousse mengutip laporan firma analitik pengiriman Kpler.
(tps/tps) Add
source on Google