MARKET DATA
Internasional

Gencatan Senjata Terancam Bubar, Iran Ngamuk Israel Serang Lebanon

tps,  CNBC Indonesia
09 April 2026 06:40
Bendera Iran. (REUTERS/Raheb Homavandi/File Photo)
Foto: Bendera Iran. (REUTERS/Raheb Homavandi/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran secara terbuka menyatakan kemarahannya terhadap Israel setelah serangan udara besar-besaran kembali menggempur wilayah Lebanon. Hal ini terjadi setelah mitra utama Israel, Amerika Serikat (AS), sepakat melakukan gencatan senjata dengan Teheran yang seharusnya meredakan ketegangan di kawasan tersebut pada Rabu, (08/04/2026).

Pernyataan keras tersebut datang dari negosiator utama sekaligus Ketua Parlemen Iran, Mohammed Bager Qalibaf. Mengutip laporan Reuters, ia menyebut pembicaraan damai permanen menjadi tidak masuk akal setelah Israel menggempur Lebanon habis-habisan dan menuduh Amerika Serikat telah melanggar kesepakatan karena terus mendesak agar Iran sepenuhnya menghentikan ambisi nuklirnya.

"Dalam situasi seperti ini, gencatan senjata bilateral atau negosiasi adalah hal yang tidak masuk akal," ujar Mohammed Bager Qalibaf dalam pernyataan resminya.

Pihak Israel dan Amerika Serikat kemudian memberikan tanggapan bahwa kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu tersebut memang tidak mencakup wilayah Lebanon. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer terhadap sasaran di Lebanon akan terus berlanjut tanpa henti meskipun ada keberatan dari pihak Teheran.

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance, yang memimpin delegasi Washington di Budapest, turut memberikan komentarnya mengenai ketegangan tersebut. Ia menilai ada salah persepsi yang mendasar dari pihak Iran mengenai cakupan wilayah geografis dari kesepakatan yang baru saja diumumkan.

"Saya pikir pihak Iran mengira bahwa gencatan senjata tersebut mencakup Lebanon, padahal kenyataannya tidak demikian," kata Vance.

Masalah Baru: Nuklir

Perselisihan juga meruncing pada persoalan program nuklir Iran yang menjadi pemicu utama perang yang diluncurkan Donald Trump. Trump mengklaim Iran telah setuju untuk menghentikan pengayaan uranium dan menyerahkan seluruh stok yang ada, sebuah klaim yang langsung ia unggah ke media sosial.

"Amerika Serikat akan bekerja sama dengan Iran untuk menggali dan memindahkan seluruh 'Debu' Nuklir yang terkubur sangat dalam," tulis Trump.

Namun, Qalibaf langsung membantah klaim tersebut dan menekankan bahwa berdasarkan ketentuan gencatan senjata, Iran sebenarnya masih diizinkan untuk melanjutkan aktivitas pengayaan uranium. Ketegangan ini membuat Netanyahu menegaskan bahwa militer Israel tetap dalam posisi siaga penuh untuk kembali bertempur secara total jika diperlukan.

"Israel telah meletakkan jarinya di pelatuk dan siap untuk kembali bertempur kapan saja," tegas Netanyahu.

Layanan pertahanan sipil Lebanon melaporkan sebanyak 254 orang tewas akibat serangan Israel di seluruh Lebanon pada Rabu, dengan angka kematian tertinggi berada di ibu kota Beirut. Kondisi ini membuat warga Teheran, Alireza, merasa ragu bahwa proses diplomasi akan benar-benar membawa kedamaian yang berkelanjutan.

"Israel tidak akan membiarkan diplomasi bekerja dan Trump mungkin akan mengubah pandangannya besok. Tapi setidaknya kita bisa tidur malam ini tanpa ada serangan," kata Alireza kepada Reuters melalui telepon.

Meskipun Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengklaim kemenangan militer yang menentukan, pihak Iran merasa tetap mampu bertahan dari serangan negara adidaya tersebut. Dewan Keamanan Nasional Agung Iran bahkan merilis pernyataan yang menyebutkan bahwa pihak musuh telah mengalami kegagalan dalam upayanya.

"Musuh, dalam perangnya yang tidak adil, ilegal, dan kriminal melawan bangsa Iran, telah menderita kekalahan bersejarah dan telak yang tidak dapat disangkal," bunyi pernyataan resmi Dewan Keamanan Nasional Agung Iran.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Israel 'Kumat' Lagi! Serang Negara Arab Ini-Bubarkan Gencatan Senjata


Most Popular
Features