MARKET DATA
INTERNASIONAL

Netanyahu Kumat Lagi, Israel Kembali Serang Wilayah Negara Arab Ini

Tommy Patrio Sorongan,  CNBC Indonesia
06 January 2026 09:20
Asap mengepul setelah serangan Israel menyusul perintah evakuasi militer Israel, di Chehour, Lebanon selatan, 19 November 2025. REUTERS/Ali Hankir
Foto: Asap mengepul setelah serangan Israel menyusul perintah evakuasi militer Israel, di Chehour, Lebanon selatan, 19 November 2025. REUTERS/Ali Hankir

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan di Timur Tengah kembali eskalasi setelah militer Israel (IDF) meluncurkan serangkaian serangan udara ke wilayah Lebanon Timur dan Selatan pada Senin (5/1/2026). Serangan ini dilakukan di tengah upaya pemantauan gencatan senjata yang kian rapuh dan tekanan diplomatik besar dari Washington terhadap Beirut.

Militer Israel mengonfirmasi telah menargetkan infrastruktur militer milik Hizbullah dan Hamas di empat desa utama: Hammara dan Ain el-Tineh di Lembah Bekaa, serta Kfar Hatta dan Annan di wilayah selatan.

Saksi mata dan fotografer AFP melaporkan kepanikan di desa Kfar Hatta saat puluhan keluarga bergegas melarikan diri sesaat setelah perintah evakuasi dikeluarkan oleh militer Israel. Drone militer terpantau aktif di udara sementara ambulans dan pemadam kebakaran dalam posisi siaga tinggi.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan serangan drone terhadap sebuah mobil di desa Braikeh yang melukai dua orang. Israel mengklaim serangan tersebut menargetkan anggota aktif Hezbollah. Insiden ini menyusul serangan mematikan pada hari Minggu di Ayn al-Mizrab yang menewaskan dua orang.

Meskipun AS telah menengahi gencatan senjata pada akhir tahun 2024, kenyataan di lapangan menunjukkan hal berbeda. Israel terus melakukan pemboman rutin dan masih menduduki lima wilayah di Lebanon.

Laporan PBB pada November lalu mengungkapkan fakta mengerikan: sedikitnya 127 warga sipil, termasuk anak-anak, telah tewas di Lebanon sejak gencatan senjata diberlakukan. Pejabat PBB bahkan memperingatkan bahwa serangan berkelanjutan ini dapat dikategorikan sebagai "kejahatan perang."

Analis keamanan yang berbasis di Beirut, Ali Rizk, menilai eskalasi ini merupakan dampak langsung dari pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pekan lalu.

"Ada laporan bahwa Israel mendapat 'lampu hijau' untuk meningkatkan eskalasi terhadap Hezbollah," ujar Rizk kepada Al Jazeera.

Ia juga menyoroti strategi baru Israel yang mulai memasukkan nama Hamas sebagai target di Lebanon. Hal ini dinilai sebagai taktik untuk menekan pemerintah Lebanon agar tidak hanya melucuti senjata Hizbullah, tetapi juga kelompok anti-Israel lainnya yang berada di wilayah tersebut.

Situasi ini menempatkan pemerintah Lebanon dalam posisi sulit. AS dan Israel menuntut pelucutan senjata Hizbullah di selatan Sungai Litani diselesaikan segera.

Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, menyatakan pada hari Minggu bahwa upaya pelucutan senjata yang dilakukan Lebanon saat ini "masih jauh dari cukup."

(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Israel Serang Negara Arab Lagi, 2 Orang Penting Tewas


Most Popular
Features