5 Update Perang AS-Iran: Putin "Masuk"-Iron Dome Israel di Negara Arab
Jakarta, CNBC Indonesia - Eskalasi konflik di Timur Tengah kian membara dan berada di titik didih yang mengkhawatirkan setelah upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran menemui jalan buntu pada akhir pekan ini. Ketegangan global pun meroket seiring dengan kegagalan negosiasi yang memicu kekhawatiran akan terjadinya perang terbuka yang lebih luas.
Berikut perkembangan terbaru mengenai situasi panas di Timur Tengah yang melibatkan manuver diplomatik tingkat tinggi ke Rusia, ancaman kehancuran infrastruktur migas, hingga pengerahan sistem pertahanan udara antarnegara yang dirangkum dari berbagai sumber internasional, per Senin (27/4/2026)
Trump: "Mau Damai, Hubungi Kami"
Merespons kebuntuan diplomasi ini, Trump menyatakan bahwa pintu komunikasi sebenarnya tetap terbuka, namun dengan syarat yang tegas. Ia menyebutkan bahwa pihak Iran tahu apa yang harus dilakukan jika ingin ketegangan berakhir.
"Jika mereka ingin bicara, mereka bisa datang kepada kami, atau mereka bisa menelepon kami. Anda tahu, ada telepon. Kami memiliki saluran yang bagus dan aman," kata Trump dalam program "The Sunday Briefing" di Fox News.
Trump juga menegaskan bahwa poin utama dalam kesepakatan apa pun adalah penghentian total program nuklir militer Iran. Menurutnya, tanpa komitmen tersebut, pertemuan tatap muka tidak akan memiliki urgensi bagi Washington.
"Mereka tahu apa yang harus ada dalam perjanjian itu. Sangat sederhana: Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir, jika tidak, tidak ada alasan untuk bertemu," ujar Trump.
Putin "Masuk"
Di tengah ketegangan yang meningkat, Araqchi beralih ke sekutu lamanya, Rusia, setelah pembicaraan di Oman dan Pakistan. Utusan Iran di Rusia, Kazem Jalali, menyatakan bahwa kunjungan ini merupakan langkah strategis untuk menghadapi tekanan dari pihak Barat.
"Araqchi akan bertemu dengan Putin dalam kelanjutan jihad diplomatik untuk memajukan kepentingan negara dan di tengah ancaman eksternal," kata Jalali melalui unggahan di media sosial X mengutip Reuters.
Jalali juga menambahkan bahwa hubungan antara Teheran dan Moskow kini semakin solid dalam menghadapi dominasi global. Ia menyebut kedua negara berada dalam satu visi untuk melawan pengaruh sepihak dari kekuatan Barat.
"Iran dan Rusia hadir dalam satu front persatuan dalam kampanye kekuatan totaliter dunia melawan negara-negara merdeka dan pencari keadilan, serta negara-negara yang mencari dunia yang bebas dari unilateralisme dan dominasi Barat," ucap Jalali.
Blokade Maritim dan Ancaman Ekonomi Global
Perang yang dimulai sejak serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari ini telah melumpuhkan ekonomi global. Meskipun gencatan senjata sempat menghentikan pertempuran skala penuh, belum ada kesepakatan final untuk mengakhiri perang yang telah menewaskan ribuan orang dan memicu inflasi tinggi.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam pembicaraan telepon dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah pada tekanan blokade laut yang diterapkan Amerika Serikat.
"Iran tidak akan memasuki negosiasi yang dipaksakan di bawah ancaman atau blokade," kata Pezeshkian mengutip pernyataan resmi pemerintah Iran.
Pezeshkian menyatakan bahwa langkah pertama yang harus diambil Washington adalah menunjukkan itikad baik dengan membuka akses maritim. Ia menuntut penghapusan hambatan sebelum para perunding mulai meletakkan dasar bagi penyelesaian konflik.
"Amerika Serikat harus terlebih dahulu menghapus hambatan, termasuk blokade maritimnya, sebelum perunding dapat mulai meletakkan dasar bagi penyelesaian," tutur Pezeshkian.
Harga Minyak Melonjak, Trump Klaim Jalur Pipa Akan Meledak
Dampak dari kegagalan diplomasi ini langsung terasa di pasar komoditas. Harga minyak mentah melonjak sekitar 2% pada hari Minggu. Minyak mentah Brent naik menjadi US$ 107,89 (Rp 1.861.426) per barel, sementara minyak mentah AS (WTI) melonjak ke level US$ 96,63 (Rp 1.667.157).
Trump bahkan mengeluarkan klaim kontroversial bahwa blokade laut AS akan menyebabkan jalur pipa minyak Iran meledak dalam waktu tiga hari karena masalah teknis akibat produksi yang tersumbat.
"Ketika Anda memiliki jalur minyak dalam jumlah besar yang mengalir melalui sistem Anda, jika karena alasan apa pun jalur itu ditutup karena Anda tidak dapat terus memasukkannya ke dalam wadah atau kapal-yang telah terjadi pada mereka; mereka tidak memiliki kapal karena blokade-apa yang terjadi adalah jalur itu meledak dari dalam, baik secara mekanis maupun di dalam tanah," klaim Trump kepada Fox News mengutip CNN.
Namun, pakar energi Andy Lipow dari Lipow Oil Associates membantah klaim tersebut dan menyebutnya berlebihan. Menurutnya, fasilitas minyak tidak akan meledak begitu saja saat ekspor terhenti, melainkan hanya akan mengakibatkan pemotongan produksi secara bertahap.
"Ketika kapal tanker tidak lagi tersedia untuk memuat produksi minyak, inventaris di darat mulai penuh. Saat fasilitas darat penuh, orang mulai memangkas produksi. Itu sudah terjadi di Irak, Kuwait, dan UEA. Sejauh ini tidak ada ledakan dalam hal ini. Minyak tidak akan meledak," jelas Lipow mengutip CNN.
Iron Dome Israel di Negara Arab
Di sisi lain, kerja sama militer di kawasan semakin intensif. Israel dilaporkan telah mengirimkan sistem pertahanan udara Iron Dome ke Uni Emirat Arab (UEA) untuk menangkal serangan rudal dan drone Iran yang terus menghujani wilayah tersebut.
"Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan Pasukan Pertahanan Israel untuk mengirim baterai Iron Dome ke UEA, bersama dengan kru pencegat, menyusul panggilan telepon dengan Presiden Emirat Sheikh Mohammed bin Zayed," ungkap seorang sumber Israel mengutip laporan Axios dan CNN.
Langkah ini menandai tingkat kerja sama militer yang belum pernah terjadi sebelumnya antara kedua negara sejak Abraham Accords tahun 2020. UEA sendiri telah menjadi sasaran lebih dari 550 rudal balistik dan 2.200 drone selama konflik berlangsung.
(tps/tps) Add
source on Google