Iran vs AS, Siapa Tahan Paling Lama di Perang Ekonomi?
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketidakpastian berakhirnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kian menekan ekonomi global. Dengan negosiasi damai yang mandek dan Presiden AS Donald Trump tak memberikan tenggat waktu jelas, muncul pertanyaan besar: siapa yang mampu bertahan lebih lama dalam perang ini?
Sejumlah indikasi menunjukkan Iran berada di posisi yang relatif lebih kuat. Tanpa harus kembali ke serangan militer besar-besaran, Teheran dinilai telah mencapai tujuan utamanya, yakni mendorong harga minyak naik. Lonjakan harga energi ini secara tidak langsung memberi tekanan kepada AS untuk melunak dalam negosiasi.
Di sisi lain, Trump tetap menunjukkan sikap percaya diri. "Saya punya banyak waktu, tetapi Iran tidak, waktu terus berjalan! Waktu tidak berpihak pada mereka!" tulisnya di media sosial.
Namun, dinamika di lapangan menunjukkan hal berbeda. Media yang dekat dengan pemerintah Iran bahkan mulai membahas potensi target berikutnya, termasuk infrastruktur strategis seperti kabel data bawah laut di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan global.
Ancaman juga meluas ke fasilitas energi di kawasan Teluk. Target yang disebut termasuk kilang Ruwais di Uni Emirat Arab (UEA) serta Abqaiq di Arab Saudi, yang merupakan fasilitas pengolahan minyak terbesar di dunia.
Meski kekuatan militer AS jauh lebih unggul, Iran memainkan strategi asimetris. Armada kapal kecil mereka terus mengganggu jalur pelayaran di sekitar Selat Hormuz. Taktik ini dinilai efektif dalam jangka pendek, meski berisiko tinggi jika konflik berkepanjangan.
Sementara itu, retorika Trump yang sebelumnya agresif mulai mereda. Klaimnya soal kesepakatan yang hampir tercapai justru dibantah oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Ia bahkan secara tegas menyebut Trump "berbohong."
Ketegangan semakin meningkat setelah Iran absen dalam pembicaraan di Islamabad. Di saat yang sama, militer AS dilaporkan telah mencegat lebih dari 30 kapal sejak memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Namun Iran tetap menunjukkan perlawanan. Setidaknya lima kapal dilaporkan diserang di jalur perdagangan strategis tersebut. Ghalibaf pun menegaskan posisi negaranya.
"Musuh telah dikalahkan secara strategis," ujarnya dalam pidato terbaru, seperti dikutip CNN International, Jumat (24/4/2026).
Iran juga kembali memainkan strategi diplomasi khasnya, yakni bergerak perlahan namun pasti. Mereka menolak negosiasi di bawah tekanan, sembari tetap membuka ruang manuver di balik layar.
"Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman," tulis Ghalibaf.
Bagi Iran, diplomasi bukan sekadar negosiasi terbuka, melainkan seni membaca situasi dan mengambil keuntungan tanpa terlihat meminta. Salah satu target berikutnya adalah pencabutan blokade AS di Selat Hormuz, sebuah permintaan yang sejauh ini ditolak mentah-mentah oleh Trump.
Di tengah kebuntuan diplomatik, pasar global menjadi cerminan paling nyata dari konflik ini. Hal ini terlihat dari pergerakan harga minyak dan volatilitas ekonomi dunia yang terus menanjak.
(tfa) Add
source on Google