MARKET DATA
Internasional

Tak Takut Ancaman Trump, Iran Nyatakan Siap Perang Lawan AS

luc,  CNBC Indonesia
13 January 2026 09:40
Warga Iran menghadiri unjuk rasa pro-pemerintah di Taheran, Iran, Senin (12/1/2026). (Stringer/WANA via REUTERS)
Foto: Warga Iran menghadiri unjuk rasa pro-pemerintah di Taheran, Iran, Senin (12/1/2026). (Stringer/WANA via REUTERS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan antara Teheran dan Washington kembali meningkat di tengah gelombang protes besar di Iran, setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi secara terbuka memperingatkan Amerika Serikat bahwa negaranya siap menghadapi perang jika AS tetap memilih jalur militer.

Pernyataan keras itu muncul menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump yang mempertimbangkan tindakan militer terhadap Iran atas respons keras pemerintah terhadap demonstrasi antipemerintah yang meluas.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera Arabic pada Senin (12/1/2026), Araghchi mengatakan Iran tetap membuka jalur komunikasi dengan Amerika Serikat di tengah situasi dalam negeri yang bergejolak. Namun, ia menegaskan Teheran telah menyiapkan segala kemungkinan.

Menurutnya, kemampuan pertahanan Iran kini jauh lebih siap dibandingkan tahun lalu, ketika negara itu terlibat dalam perang selama 12 hari.

"Jika Washington ingin menguji opsi militer yang sebelumnya sudah pernah diuji, kami siap menghadapinya," kata Araghchi.

Meski demikian, ia menyatakan harapannya agar Amerika Serikat memilih "opsi yang bijak", yakni dialog, seraya memperingatkan adanya pihak-pihak yang berupaya "menyeret Washington ke dalam perang demi melayani kepentingan Israel".

Pernyataan Araghchi itu disampaikan sehari setelah Presiden Trump mengatakan sedang mempertimbangkan "opsi-opsi keras" terhadap Iran terkait tindakan aparat terhadap demonstrasi. Protes yang awalnya dipicu oleh kesulitan ekonomi tersebut telah berkembang menjadi tuntutan perubahan sistemik di berbagai wilayah Iran.

Trump menyebut kemungkinan tindakan militer sebagai salah satu opsi, meskipun ia juga mengungkapkan rencana pertemuan dengan Teheran untuk membahas program nuklir Iran.

"Kami sedang menyiapkan pertemuan untuk bernegosiasi mengenai program nuklir, tetapi kami mungkin harus bertindak karena apa yang terjadi sebelum pertemuan itu," ujar Trump pada Minggu.

Dalam wawancara yang sama, Araghchi menyinggung meningkatnya jumlah korban jiwa selama unjuk rasa. Ia mengulang klaim pemerintah Iran bahwa terdapat "unsur-unsur teroris" yang "menyusup ke dalam kerumunan demonstran dan menargetkan aparat keamanan serta para demonstran".

Teheran selama dua pekan terakhir menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang memprovokasi kerusuhan di dalam negeri.

Media pemerintah Iran melaporkan lebih dari 100 personel keamanan tewas dalam beberapa hari terakhir. Sementara itu, para aktivis oposisi menyebut jumlah korban jiwa lebih tinggi dan mencakup ratusan demonstran. Al Jazeera menyatakan belum dapat memverifikasi secara independen angka-angka tersebut.

Situasi di lapangan juga diperburuk oleh terputusnya arus informasi akibat pemadaman internet yang diberlakukan sejak Kamis lalu. Araghchi mengatakan pada Senin bahwa layanan internet akan dipulihkan dengan koordinasi bersama aparat keamanan. Lembaga pemantau NetBlocks melaporkan pada hari yang sama bahwa Iran telah mati selama 96 jam.

Di tengah eskalasi ini, Araghchi mengungkapkan bahwa komunikasinya dengan Utusan Khusus AS Steve Witkoff "terus berlanjut sebelum dan sesudah protes, dan masih berlangsung hingga sekarang". Ia mengatakan sejumlah gagasan yang dibahas dengan Washington tengah dipelajari di Teheran.

Namun, ia menilai "ide-ide yang diajukan Washington dan ancaman terhadap negara kami tidak sejalan".

"Kami siap duduk di meja perundingan nuklir, dengan syarat tanpa ancaman atau diktat," kata Araghchi, sembari mempertanyakan apakah Washington "siap untuk negosiasi yang adil dan jujur".

"Ketika itu siap, kami akan mempertimbangkan masalah ini secara serius," tambahnya.

Nada keras juga datang dari pimpinan parlemen Iran. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf pada Minggu memperingatkan bahwa militer AS dan Israel akan menjadi "target yang sah" jika Washington melakukan intervensi dalam situasi saat ini. Ia menuding Amerika Serikat berisiko melakukan "salah perhitungan".

Dari pihak AS, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menuduh Iran menyampaikan pesan yang "sangat berbeda" dalam komunikasi tertutup dibandingkan dengan pernyataan publiknya. Pernyataan itu disampaikannya dalam wawancara dengan Fox News pada Senin.

Sementara itu, The Wall Street Journal melaporkan bahwa Gedung Putih sedang menimbang tawaran Iran untuk terlibat dalam pembicaraan militer lanjutan, meskipun Trump pada saat yang sama mempertimbangkan kemungkinan serangan terhadap Iran.

Adapun ketegangan terbaru ini mengingatkan pada eskalasi tahun lalu, ketika Amerika Serikat bergabung dengan Israel dalam perang 12 hari melawan Iran dan mengebom sejumlah fasilitas nuklir negara tersebut.

 

(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Iran Tiba-Tiba Tembak Rudal Terbaru, Siap Perang Lawan Israel?


Most Popular
Features