Waspada! Efek Perang Iran Terhadap Ekonomi RI Muncul di Tengah Tahun

Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
Rabu, 22/04/2026 09:40 WIB
Foto: Suasana gedung bertingkat di Jakarta, Selasa (27/8/2019). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Efek perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang terjadi sejak akhir Februari diperkirakan akan tercermin pada pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal kedua 2026. ‎Hal ini disampaikan oleh Direktur Neraca Pengeluaran Badan Pusat Statistik (BPS) Windhiarso Ponco Ali.

‎Windhiarso mengatakan perang di Iran akan memiliki dampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diukur melalui Produk Domestik Bruto, utamanya terkait ekspor dan impor.

‎Dampak perang yang tercermin di PDB pada kuartal pertama 2026 diperkirakan akan sedikit dibandingkan pada kuartal kedua. Penyebabnya adalah perhitungan PDB pada kuartal pertama dibatasi pada 31 Maret, sehingga dampak perang yang tercatat hanya sebulan. Berbeda dengan kuartal kedua yang mencatat dampak perang lebih banyak.


‎"Misalkan harga impor-ekspor naik, ya nanti potensinya di triwulan 2. Di April, kalau di April. Tapi kalau selama dari 28 Februari sampai dengan 31 Maret belum ada dampak yang signifikan dari perang, berarti dampaknya masih kecil," ucapnya saat memberikan pemaparan dalam acara Workshop BPS kepada awak media di Gedung BPS Pusat, Jakarta pada Selasa (21/4/2026).

‎Efek perang Iran juga akan memengaruhi inflasi karena adanya fluktuasi harga komoditas global, seperti minyak mentah dan emas. Penyebabnya adalah adanya gangguan rantai pasok, utamanya terhadap pasokan minyak mentah dunia, akibat ditutupnya selat Hormuz.

‎Direktur Statistik Harga Badan Pusat Statistik (BPS) Saparno menjelaskan dampak perang akan terasa pada biaya produksi yang turut meningkat.

‎"Tentunya ini akan berdampak pada biaya produksi, karena seperti misalnya minyak itu adalah sebagai bahan bakar untuk semua faktor produksi," ucap Saparno saat memberikan pemaparan dalam acara Workshop BPS kepada awak media di Gedung BPS Pusat, Jakarta pada Selasa (21/4/2026).

‎Secara tidak langsung, perang Iran turut memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah yang melemah. Hal ini dikatakan Saparno akan membuat nilai barang-barang impor semakin tinggi.

‎"Volatilitas nilai tukar, terutama ketika rupiah kita sangat volatile gitu ya, bisa naik dan turun, ini tentunya akan membuat barang-barang impor. Karena biasanya transaksi perdagangan internasional, kita kan dalam dolar ya, ketika nilai trans apa, kurs rupiah turun, maka import kita menjadi lebih mahal," kata Saparno.


(haa/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Inflasi Indonesia di Maret 2026 Capai 3,48% (yoy)