Nih Hasil Kunjungan Purbaya ke AS: Temui 'Gajah' Sampai Debat IMF-WB
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bertemu dengan pejabat-pejabat penting lembaga keuangan dunia hingga investor global.
‎
‎Purbaya bercerita dirinya bertemu dengan lembaga investasi besar alias 'gajah' seperti Blackrock dan Fidelity saat melakukan jumpa dengan wartawan di Gedung Juanda I, Jakarta pada hari ini (21/4/2025).
‎
‎Lembaga investasi itu, kata Purbaya, ingin mengetahui apakah kebijakan fiskal Indonesia masuk akal atau tidak. Namun katanya paling penting adalah bagaimana penyampaian mengenai prospek ekonomi Indonesia.
‎
‎"Yang penting dia pengen lihat messenger-nya, apakah caranya menyampaikan masuk akal, atau kayak orang-orang yang menyampaikannya. Ternyata simpel mereka, pinter juga gue. Jadi abis itu keraguan-keraguan terhadap fiskal hilang, defisit segala macam nggak nanya lagi,' ucap Purbaya.
‎
‎Setelah itu, dirinya juga kembali bertemu dengan investor selama di New York yang ingin melihat dengan cermat kondisi ekonomi RI.
‎
‎Setelahnya Purbaya berangkat ke Washington DC, di sana dirinya bertemu dengan 17 orang dan melakukan debat 'seru'.
‎
‎Salah satu yang dibahas adalah bagaimana langkah pemerintah Indonesia untuk menjaga defisit 3% di tengah angka subsidi yang meningkat akibat harga minyak mentah dunia yang turut melonjak/
‎
‎"Ya kita jelaskan selama ini, kita jelaskan disini. Kita pelan-pelan penghematan sana-sini, terus ada income tambahan dari SDA, sumber daya mineral. Terus kita bilang juga nggak usah takut. Kalau ada apa-apa juga kita masih aman karena kita masih punya buffer yang Rp20 triliun itu. Itu utamanya," kata Purbaya.
‎
‎"Kemudian, Purbaya mengungkapkan IMF dan Bank Dunia memberikan penawaran utang ke Indonesia. Menurut Purbaya, kedua lembaga bisa menawarkan US$20 miliar hingga US$30 miliar ke negara membutuhkan. Kepada tawaran Bank Dunia, Purbaya mengaku diam saja. Namun, kepada IMF, dia menolak tawaran tersebut.
‎
‎"Ke WB saya diam saja. Terakhir nawarin lagi, suruh ngutang ke dia. IMF juga sama. Saya bilang terima kasih tawarannya, saya belum butuh itu saya pegang US$25 miliar dolar sendiri untuk itu. Jadi kondisi keuangan kita masih aman," tegasnya.
‎
‎Selain itu, Menkeu Purbaya mengadakan pertemuan dengan manajemen lembaga pemeringkat utang atau kredit dunia, yakni Standard & Poor's (S&P).
‎Dalam pertemuan itu, Purbaya mengaku pihak S&P ingin mengunjunginya pada Juni 2026 di Jakarta, untuk mendiskusikan tentang manajemen fiskal hingga stabilitas ekonomi Indonesia.
‎
‎"Jadi saya bilang juga waktu itu ke S&P, dia kan ke sini Juni, itu bukan untuk ubah lagi outlook kita hanya untuk diskusi aja kamu langkahnya betul apa enggak," imbuhnya.
‎
‎Selain itu, pihak S&P pada momen pertemuan itu juga memberikan jaminan bahwa rating utang atau kredit Indonesia akan terus terjaga sampai dua tahun mendatang, tepatnya sampai dengan 2028.
‎
‎"Dia bilang rating kita sampai 2 tahun ke depan aman, saya enggak begitu ngerti itu tapi dia ngomong gitu. Dia nanya gini ke saya, kamu ngerti enggak apa yang saya ucapkan barusan, enggak saya enggak ngerti tolong jelaskan, artinya sampai 2 tahun ke depan kita enggak akan mengubah rating," ujar Purbaya.
‎
‎Purbaya mengatakan alasan S&P yakin tidak mengubah peringkat BBB Indonesia tidak lepas dari kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang aman.
‎
‎"Pondasi ekonomi bagus di tengah gejolak ini masih bagus dan bisa terkendali," ungkap Purbaya.
‎
‎Sebagaimana diketahui, lembaga pemeringkat global yakni S&P Global telah merilis laporan mengenai dampak lonjakan harga energi terhadap kondisi fiskal dan eksternal negara-negara Asia Tenggara.
‎
‎Dalam laporan itu, S&P menyoroti empat negara utama di kawasan, yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam, yang dinilai sama-sama akan menghadapi tekanan jika gejolak energi global akibat konflik Timur Tengah berlangsung lebih lama.
‎
‎S&P menjelaskan, ketahanan fiskal dan eksternal negara-negara tersebut bisa terkikis bila pasar energi dunia tidak segera normal dalam beberapa bulan ke depan. Dalam skenario dasar mereka, intensitas perang diperkirakan mencapai puncaknya dan penutupan efektif Selat Hormuz mulai mereda pada April.
‎
‎Namun, gangguan dinilai masih bisa bertahan selama berbulan-bulan, apalagi jika kerusakan infrastruktur energi di Timur Tengah membuat produksi minyak dan gas tidak cepat pulih.
‎
‎Indonesia menjadi salah satu sorotan utama. S&P menegaskan bahwa peringkat utang Indonesia saat ini berada di level BBB/Stable/A-2.
‎
‎Namun, lembaga itu juga menilai peringkat Indonesia menjadi salah satu yang paling rentan tertekan bila konflik berkepanjangan dan gangguan pasar energi terus berlanjut.
‎
‎Sebagai catatan, lembaga pemeringkat global memang sedang menaruh perhatian besar terhadap kondisi Indonesia. Moody's Ratings misalnya, yang pada 5 Februari 2026 mengubah outlook sovereign Indonesia menjadi negative dari stable, sambil mempertahankan peringkat di level Baa2.
(ras/mij) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]