Internasional

Korban Baru Perang AS-Iran, Maskapai Bangkrut dan Setop Operasi

tfa, CNBC Indonesia
Senin, 04/05/2026 06:05 WIB
Foto: REUTERS/Marco Bello

Jakarta, CNBC Indonesia - Maskapai berbiaya rendah Amerika Serikat (AS), Spirit Airlines, resmi menutup operasionalnya setelah gagal mengamankan dana talangan pemerintah sebesar US$500 juta atau sekitar Rp8,5 triliun. Penutupan ini menjadi salah satu korban terbaru dari gejolak global akibat perang AS-Iran yang mendorong lonjakan tajam harga bahan bakar.

Dalam pernyataan resminya, Spirit mengumumkan "dengan kekecewaan besar" bahwa mereka memulai penutupan operasional secara teratur dan langsung membatalkan seluruh penerbangan.

"Semua penerbangan Spirit telah dibatalkan, dan penumpang tidak boleh pergi ke bandara," tulis perusahaan, seperti dikutip BBC International, Senin (4/5/2026).


Keputusan drastis ini terjadi hanya beberapa bulan setelah maskapai tersebut keluar dari proses kebangkrutan keduanya. Namun, lonjakan harga avtur pasca eskalasi konflik di Iran membuat beban biaya membengkak dan menghantam bisnis yang sudah rapuh.

CEO Spirit, Dave Davis, mengungkapkan bahwa perusahaan sebenarnya sempat mencapai kesepakatan restrukturisasi dengan pemegang obligasi pada Maret 2026.

"Namun, kenaikan harga bahan bakar yang tiba-tiba dan berkelanjutan dalam beberapa minggu terakhir akhirnya membuat kami tidak punya pilihan selain menutup perusahaan," ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah AS membantah bahwa perang menjadi penyebab utama. Menteri Transportasi Sean Duffy menegaskan Spirit sudah bermasalah jauh sebelum konflik.

"Model bisnis mereka tidak berhasil. Perang bukanlah pemicunya," katanya.

Krisis ini berdampak langsung pada ribuan penumpang yang terlantar. Salah satu pelanggan mengaku baru mengetahui pembatalan penerbangannya setelah tiba di bandara. Ia menyebut email pembatalan baru masuk sekitar pukul 1 pagi.

Salah satu penumpang lain mengaku harus membeli tiket pengganti seharga US$180 (Rp3,06 juta), lebih mahal dari tiket awal Spirit senilai US$108 (Rp1,84 juta).

"Saya pikir aplikasinya diretas. Tapi ternyata nyata, dan saya harus cepat cari penerbangan pulang," katanya.

Maskapai lain seperti Delta Air Lines, United Airlines, American Airlines, dan Frontier Airlines langsung menawarkan "tarif penyelamatan" bagi penumpang terdampak.

Analis maskapai dari Raymond James, Savanthi Syth, menyebut lonjakan harga bahan bakar sebagai "paku terakhir di peti mati" bagi Spirit. Biaya bahan bakar sendiri bisa mencapai 40% dari total pengeluaran maskapai, dan sejak konflik pecah, harga avtur dilaporkan melonjak drastis.

Sementara itu, serikat pekerja International Association of Machinists and Aerospace Workers (IAM) menyebut kabar ini sebagai pukulan telak bagi ribuan karyawan.

"Ini sangat menghancurkan. Anggota kami tidak menyebabkan kegagalan ini; kesalahan manajemen dan tata kelola keuangan yang buruklah penyebabnya," tegas IAM.

Kebangkrutan Spirit mempertegas tekanan berat yang dihadapi industri penerbangan global. Selain kenaikan harga bahan bakar, sejumlah maskapai mulai mengurangi frekuensi penerbangan dan menaikkan tarif untuk bertahan di tengah ketidakpastian geopolitik.


(tfa/tfa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video:Siaga Perang As-Iran Jilid 2 - Ini Modus Penyeleweng BBM-LPG