MARKET DATA

Penjualan Denza D9 Salip Alphard, Takhta Mobil Sultan di RI Berubah?

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
17 April 2026 11:30
MPV mewah Denza D9 ditampilkan dalam acara GIIAS 2025 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (23/7/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: MPV mewah Denza D9 ditampilkan dalam acara GIIAS 2025 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (23/7/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta CNBC Indonesia - Pasar mobil mewah di Indonesia tengah mengalami pergeseran besar. Dominasi lama Toyota Alphard sebagai simbol kendaraan premium keluarga kini mulai digoyang kuat oleh pendatang baru asal China, Denza D9.

Data distribusi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan, sepanjang Januari hingga Maret 2026, Denza D9 mencatatkan penjualan 1.117 unit. Angka ini jauh melampaui Alphard yang hanya terdistribusi 444 unit dalam periode yang sama.

Kesenjangan itu bukan fenomena sesaat. Sepanjang 2025, Denza D9 sudah lebih dulu menunjukkan dominasinya dengan penjualan 7.474 unit secara wholesales. Sementara Alphard hanya mencatatkan 2.397 unit, atau sekitar sepertiganya. Artinya, tren pergeseran minat konsumen kelas atas sudah berlangsung sejak tahun lalu dan semakin menguat di awal 2026.

Masuknya Denza D9 menjadi titik balik di segmen MPV premium yang selama bertahun-tahun praktis dikuasai pabrikan Jepang. Kini, peta persaingan berubah seiring meningkatnya minat terhadap kendaraan elektrifikasi, terutama di kalangan konsumen dengan daya beli tinggi.

Secara karakter, kedua model ini memang bermain di jalur berbeda. Alphard masih mengandalkan mesin bensin dan hybrid, sementara Denza D9 sepenuhnya mengusung tenaga listrik berbasis baterai. Perbedaan pendekatan ini justru menjadi faktor kunci dalam perubahan preferensi pasar.

Dari sisi harga, Denza D9 jelas lebih kompetitif. Mobil listrik premium itu dipasarkan di kisaran Rp 950 juta. Sebaliknya, Alphard dibanderol mulai Rp 1,2 miliar untuk versi bensin dan bisa menyentuh Rp 1,7 miliar untuk varian hybrid. Selisih ratusan juta rupiah ini menjadi pertimbangan besar, bahkan bagi konsumen kelas atas.

Keunggulan Denza D9 tak berhenti di harga beli. Biaya kepemilikan tahunan juga menjadi daya tarik signifikan. Mobil listrik ini praktis bebas Pajak Kendaraan Bermotor, sehingga pemilik hanya membayar Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas sekitar Rp 143 ribu per tahun. Sebaliknya, pemilik Alphard harus merogoh kocek hingga sekitar Rp 20-25 juta per tahun untuk pajak.

Dengan kombinasi harga lebih rendah, biaya operasional ringan, serta teknologi listrik yang semakin diterima pasar, Denza D9 berhasil menawarkan nilai yang sulit ditandingi oleh rival konvensionalnya.

Meski begitu, Alphard belum sepenuhnya kehilangan daya tarik. Citra sebagai simbol kemewahan dan kenyamanan masih melekat kuat, terutama di kalangan loyalis merek Jepang. Namun, tekanan dari pemain baru seperti Denza menunjukkan bahwa faktor emosional kini mulai ditantang oleh rasionalitas konsumen.

Perubahan ini sekaligus menandai babak baru dalam industri otomotif nasional. Masuknya merek-merek China dengan strategi harga kompetitif dan teknologi elektrifikasi bukan hanya menambah pilihan, tetapi juga menggeser standar lama di segmen premium.

Penjualan Januari-Maret 2026:

1. Toyota Alphard: 444 unit
2. Denza D9: 1.117 unit

Penjualan Sepanjang 2025:

1. Denza D9: 7.474 unit
2. Toyota Alphard: 2.397 unit

(hoi/hoi) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bocoran Harga BYD Atto 1 & M6, Bentar Lagi Naik Sampai Rp10-15 Juta


Most Popular
Features