Internasional

Amerika Serikat Disebut Sedang "Dibunuh" dari Dalam, Kenapa?

tfa, CNBC Indonesia
Senin, 13/04/2026 15:35 WIB
Foto: (CNBC Internasional)

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) disebut sedang "dibunuh". Pelaku "pembunuhnya sendiri" bahkan adalah sosok dari dalam.

Hal ini setidaknya dimuat The Guardian, dalam analisanya, Minggu. Analisa dibuat kolumnis untuk AS, Rebecca Solnit, yang juga penulis buku "The Beginning Comes After the End: Notes on a World of Change".


Menurutnya ada pelemahan sistemik di tubuh pemerintahan federal. Ini berpotensi menyeret dampak luas terhadap ekonomi global.

Awalnya, ia menyebut berbagai fungsi krusial negara, yang mengalami tekanan akibat pemangkasan anggaran dan restrukturisasi. Mulai dari pengawasan persenjataan nuklir, keamanan siber, hingga kontra-terorisme.

Kondisi ini dinilai melemahkan kapasitas negara dalam menjaga stabilitas domestik maupun internasional. Tak hanya itu, sektor layanan publik seperti kesehatan, program vaksinasi, keamanan pangan, hingga perlindungan lingkungan juga disebut terdampak.

"Pemerintah federal yang melayani publik sedang dilemahkan, sementara prioritas anggaran bergeser ke sektor lain," tulis laporan yang dikutip Senin (13/4/2026).

Sorotan utama diarahkan pada kebijakan era Donald Trump yang dinilai mengubah arah belanja negara secara signifikan.Pemangkasan pada sejumlah program sosial dan lingkungan disebut terjadi di tengah peningkatan belanja pertahanan dan keamanan dalam negeri.

Tokoh bisnis Elon Musk turut disinggung terkait kebijakan efisiensi yang berdampak pada lembaga bantuan luar negeri AS, USAID, saat ia ditunjuk sebagai pimpinan lembaga efisiensi Trump, Department of Government Efficiency (DOGE), meski kemudia keluar. Langkah tersebut dinilai memperburuk krisis kemanusiaan di sejumlah negara berkembang.

Di saat yang sama, ketegangan geopolitik, termasuk konflik dengan Iran, memperparah tekanan ekonomi global. Gangguan rantai pasok, khususnya komoditas penting seperti pupuk, berisiko memicu krisis pangan di berbagai kawasan.

Lebih lanjut, kebijakan tarif impor yang berubah-ubah juga disebut menciptakan ketidakpastian bagi pelaku usaha global. Dunia usaha dinilai kesulitan menyusun perencanaan jangka panjang di tengah arah kebijakan yang fluktuatif.

"AS dulunya memimpin dunia dalam penelitian ilmiah, termasuk penelitian medis, yang telah menghasilkan terobosan penting dalam pengobatan penyakit dan kesehatan, tetapi semua itu telah dipangkas habis-habisan. Ini adalah pembunuhan," tegasnya.

"Konsekuensinya dapat berlangsung dalam jangka panjang, termasuk terhadap ekonomi dan lingkungan," tulis laporan itu.

Terakhir, laporan tersebut menekankan pentingnya pembenahan struktural di AS guna memulihkan kepercayaan dan stabilitas. Tanpa perbaikan mendasar, dampak dari pelemahan internal ini dinilai akan terus menjalar dan membebani perekonomian dunia.


(tfa/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump: Tuhan Mendukung AS Dalam Perang Dengan Iran