MARKET DATA
Internasional

Akun Misterius Bermunculan, Raup Miliaran dari Taruhan Iran-AS

Thea Fathanah Arbar,  CNBC Indonesia
09 April 2026 14:40
Orang-orang membakar bendera AS dan Israel, saat mereka berkumpul setelah gencatan senjata selama dua minggu dalam perang Iran diumumkan, di Teheran, Iran, 8 April 2026. (Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS)
Foto: Orang-orang membakar bendera AS dan Israel, saat mereka berkumpul setelah gencatan senjata selama dua minggu dalam perang Iran diumumkan, di Teheran, Iran, 8 April 2026. (via REUTERS/Majid-Asgaripour)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah akun misterius di platform pasar prediksi Polymarket dilaporkan meraup keuntungan miliaran rupiah dari taruhan terkait gencatan senjata Amerika Serikat (AS) dan Iran yang diumumkan secara mengejutkan.

Berdasarkan data blockchain publik yang dianalisis platform kripto Dune Analytics, puluhan akun baru memasang taruhan besar hanya beberapa jam sebelum Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata.

Padahal, sebelumnya situasi terlihat memanas. Trump sempat melontarkan ancaman keras terhadap Iran dan tidak ada sinyal kuat bahwa kesepakatan damai akan segera tercapai.

Salah satu akun yang baru dibuat pada hari yang sama tercatat memasang taruhan sekitar US$72.000 atau setara Rp1,2 miliar. Taruhan tersebut kemudian menghasilkan keuntungan hingga US$200.000 atau sekitar Rp3,4 miliar.

Selain itu, beberapa akun lain juga mencatat keuntungan besar, mulai dari ratusan juta hingga miliaran rupiah, dari taruhan serupa yang dipasang tepat sebelum pengumuman resmi.

Secara total, sejumlah akun bahkan dilaporkan meraup keuntungan lebih dari US$600.000 atau sekitar Rp10,2 miliar dari aksi taruhan ini.

Menariknya, sebagian besar akun tersebut merupakan akun baru tanpa riwayat transaksi sebelumnya. Aktivitas ini memicu kecurigaan publik karena pola taruhan yang sangat presisi terhadap momen pengumuman.

Data blockchain memang bersifat terbuka, namun tidak dapat mengungkap identitas di balik akun-akun tersebut. Sistem dompet anonim memungkinkan satu pihak mengendalikan banyak akun sekaligus.

Sejumlah taruhan bahkan masih belum dibayarkan karena status kontrak gencatan senjata ditandai sebagai "diperselisihkan". Hal ini lantaran situasi di lapangan belum sepenuhnya stabil, termasuk masih adanya pembatasan di Selat Hormuz dan serangan militer yang berlanjut.

Fenomena ini kembali memunculkan kekhawatiran soal potensi penggunaan informasi orang dalam di pasar prediksi. Apalagi, pola serupa sebelumnya juga terjadi dalam taruhan terkait peristiwa geopolitik lain.

"Inilah mengapa pasar-pasar ini membutuhkan regulasi. Kita tidak bisa membiarkan orang berdagang dengan informasi rahasia," ujar Todd Phillips, profesor di Georgia State University, seperti dikutip The Guardian, Kamis (9/4/2026).

Sejumlah anggota Kongres AS kini mendorong aturan baru untuk memperluas definisi insider trading agar mencakup aktivitas di pasar prediksi seperti Polymarket.

 

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Perang Iran Kian Panas, China-Pakistan Turun Tangan Selamatkan Hormuz


Most Popular
Features