MARKET DATA

RI Bakal Bangun 2 Pabrik Metanol di Aceh & Kaltim, Ini Efek Dahsyatnya

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
07 April 2026 16:40
Ilustrasi metanol/Doc.BulelengKab.go.id
Foto: Ilustrasi metanol/Doc.BulelengKab.go.id

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pupuk Indonesia (Persero) mempercepat langkah mendukung kebijakan mandatori biodiesel B50 yang ditargetkan berjalan pada 2026. Perusahaan pelat merah ini menyiapkan pembangunan dua pabrik metanol di Aceh dan Kalimantan Timur sebagai kunci pasokan bahan baku biodiesel.

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi menegaskan pembangunan fasilitas ini merupakan penugasan langsung pemerintah untuk memastikan konversi minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) menjadi biofuel berjalan optimal.

"Kami ditugaskan untuk mendukung transisi menuju B50, di mana B50 itu membutuhkan 2 pabrik metanol supaya bisa mengkonversi dari CPO (minyak sawit mentah) menjadi biofuel," kata Rahmad dalam Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (7/4/2026).

Adapun metanol berperan sebagai reaktan penting dalam proses produksi biodiesel. Tanpa tambahan kapasitas produksi dalam negeri, kebutuhan metanol berpotensi melonjak tajam seiring peningkatan mandatori campuran biodiesel.

Saat ini, Indonesia masih sangat bergantung pada impor. Rahmad mengungkapkan volume impor metanol mencapai sekitar 1,5 juta ton per tahun.

"Tanpa pembangunan ini kita akan meningkat impornya menjadi 2,5 (juta ton)," sebut dia.

Dalam paparannya, ia juga menyebut kebutuhan metanol nasional pada 2025 diperkirakan mencapai 1,8 juta ton per tahun, sementara kapasitas produksi domestik baru sekitar 400 ribu ton. Dengan implementasi B50, kebutuhan itu diproyeksikan melonjak hingga 2,9 juta ton.

"Tanpa ada peningkatan kapasitas produksi metanol dalam negeri, impor metanol akan meningkat dari 1,4 (juta ton) menjadi 2,5 juta ton," tegas Rahmad.

Untuk menutup gap tersebut, dua pabrik metanol akan dibangun di Lhokseumawe, Aceh dan Bontang, Kalimantan Timur, lokasi yang dinilai strategis dari sisi kesiapan infrastruktur dan akses bahan baku.

"Yang di lokasi sumber gas sudah ada, sudah punya kawasan industrinya, pelabuhan sudah ada, feasibility-previsibiltas sudah selesai. Jadi kalau disuruh bangun di situ bisa lebih cepat. Untuk gas dengan Mubadala (Energy) sudah MoU, kemudian dengan Kaltim sedang berprogres," tuturnya.

Ditemui usai rapat, Rahmad menambahkan, proyek ini masih dalam tahap perhitungan investasi, meski kebutuhan kapasitasnya sudah ditetapkan.

"Wah, ini kan lagi CAPEX (Capital Expenditure atau belanja modal) nya lagi dihitung semua. Tapi yang jelas secara volume kita sudah sepakati kebutuhannya," terang dia.

Dari sisi waktu, Rahmad menyebut pembangunan dua fasilitas ini diperkirakan memakan waktu lebih dari tiga tahun atau sekitar 40 bulan sebelum bisa mulai beroperasi.

"Kita ngebangun itu butuh sekitar 40 bulanlah kira-kira," ungkap Rahmad.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan penugasan pembangunan pabrik metanol ini merupakan penugasan langsung dari Kementerian Pertanian dan juga telah mengantongi dukungan dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara sebagai superholding BUMN.

Dengan pembangunan ini, pemerintah menargetkan ketergantungan impor metanol dapat ditekan, sekaligus memastikan keberlanjutan program biodiesel nasional di tengah lonjakan kebutuhan energi berbasis nabati.

(wur) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Program Biodiesel B50 Bakal Berlaku di Semester II 2026


Most Popular
Features