MARKET DATA

RI Bakal Luncurkan BBM Baru B50, Berapa Harganya?

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
22 April 2026 16:15
Seorang teknisi laboratorium berpose untuk foto sambil memegang sebotol bahan bakar biodiesel sawit 50% selama acara pengujian B50, seiring Indonesia berencana untuk menaikkan tingkat pencampuran wajib untuk biodiesel berbasis sawit dari 40% menjadi
Foto: Seorang teknisi laboratorium berpose untuk foto sambil memegang sebotol bahan bakar biodiesel sawit 50% selama acara pengujian B50, seiring Indonesia berencana untuk menaikkan tingkat pencampuran wajib untuk biodiesel berbasis sawit dari 40% menjadi 50%, standar yang dikenal sebagai B50, yang merupakan bagian dari rencana pemerintah yang lebih luas untuk mengurangi risiko yang timbul dari perang Iran, di Lembang, Provinsi Jawa Barat, 21 April 2026. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)

Lembang, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mematangkan formulasi harga untuk bahan bakar biodiesel 50% atau B50. Program tersebut direncanakan diimplementasikan pada 1 Juli 2026 mendatang.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menjelaskan bahwa penetapan harga B50 nantinya akan merujuk pada regulasi yang sudah ada. Pemerintah akan mengeluarkan harga patokan tersebut secara rutin setiap bulannya untuk menjaga kepastian bagi pelaku usaha maupun konsumen.

"Mengikuti formula. Kalau itu mengikuti formula kan tiap bulan kita keluarkan harganya," ujarnya saat di Stasiun Blending dan Pengisian Bahan Bakar Uji Jalan B50, Lembang, dikutip Rabu (22/4/2026).

Terkait rincian penghitungan komponen bahan bakar nabati atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME), pihaknya sedang melakukan koordinasi dengan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas).

"Kita sedang berhitung dengan Dirjen Migas karena prediksi hingga Desember itu kan perlu diklarifikasi karena ini kan misal ada penghematan ada pembahasan terus nih kalau yang minyak," lanjutnya.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, implementasi program B50 diproyeksikan mampu memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi negara melalui peningkatan nilai tambah minyak sawit mentah (CPO). Dari sisi fiskal, kebijakan tersebut berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp 157,28 triliun pada tahun 2026, meningkat dari target awal program B40 yang sebesar Rp 140 triliun.

"Pasokan tadi kan saya bilang kita sedang berhitung terus tapi cukup kalau saya prediksi cukup FAME-nya cukup," tutur Eniya saat ditanya kesiapan bahan baku untuk implementasi Juli mendatang.

Pemerintah menargetkan implementasi awal B50 dimulai pada Juli 2026 seiring dengan adanya dinamika energi global dan upaya penguatan ketahanan energi nasional.

"Kalau itu kita menyesuaikan dengan Dirjen Migas. Target pengurangan impornya kan hitungannya 50%-nya. Sekarang itu serapan biodiesel kira-kira 25% sudah terserap," pungkas Eniya.

(pgr/pgr) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Program Biodiesel B50 Bakal Berlaku di Semester II 2026


Most Popular
Features