Peluang dan Tantangan Perbankan Dorong Ekonomi Kerakyatan
Jakarta, CNBC Indonesia - Peneliti Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manap Pulungan melihat potensi bank pelat merah mendongkrak laba dari upaya-upaya mendukung ekonomi kerakyatan dan UMKM.
Pasalnya, di tengah situasi penuh tekanan, banyak sektor-sektor ekonomi terkait program Asta Cita tetap berjalan seperti biasa, bahkan UMKM pun masih mendapatkan penjaminan dari pemerintah.
"Himbara mencetak laba signifikan tahun lalu. Sebagai agent of development, mereka harus berkontribusi nyata buat pertumbuhan ekonomi dengan menghidupkan ekosistem usaha terkait program-program pemerintah. Tapi justru itu ada bagusnya juga buat sisi bisnis mereka secara fundamental," jelasnya, Jumat, (3/4/2026).
Sebagai contoh, untuk mendukung ekosistem terkait program dalam Asta Cita pemerintah, beberapa di antaranya memaksa perbankan berekspansi ke wilayah-wilayah yang belum pernah dijangkau, alias keluar dari zona nyamannya.
Secara jangka panjang, bank-bank pelat merah pun jadi punya representasi, memperbesar peluang menambah basis nasabah, hingga menambah pundi-pundi pendapatan.
Namun, Manap mengingatkan bahwa upaya total mendukung ekosistem terkait program pemerintah jangan sampai memperburuk kualitas portofolio, apalagi sampai menghilangkan sisi bisnis.
"Terutama kalau berkaitan penyaluran kredit. Walaupun, seperti misalnya Bank Mandiri sudah punya cadangan kerugian penurunan nilai yang cukup tinggi, tetap harus hati-hati dan berimbang dalam menyalurkan, karena akan berpengaruh buat laba tahun depan," tambahnya.
Menurut Manap, ada baiknya para Himbara tetap masuk ke sektor ekonomi yang risikonya sudah biasa ditangani, demi menjaga laba dan non-performing loan (NPL) tahun depan tetap terjaga.
"Bank BUMN yang mendukung program pemerintah, kalau buru-buru masuk ke sektor-sektor berisiko tinggi dan dia belum terbiasa di sana, maka akan berpengaruh ke kinerja laba dan NPL periode 2027," ungkapnya.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menjadi salah satu contoh Himbara yang sukses bertumbuh karena mendukung sektor produktif terkait ekonomi kerakyatan.
Buktinya, berdasarkan laporan keuangan bulanan (bank only) Februari 2026, penyaluran kredit Bank Mandiri mencapai Rp1.513,1 triliun atau tumbuh 15,7% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Pertumbuhan ini turut diikuti oleh penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp1.644,8 triliun, meningkat 16,3% YoY, mencerminkan kepercayaan nasabah yang terus terjaga terhadap layanan Bank Mandiri.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan bahwa peningkatan kinerja tersebut sejalan dengan semakin aktifnya transaksi nasabah di berbagai kanal layanan Bank Mandiri, khususnya melalui platform digital.
"Laba bersih Bank Mandiri tumbuh 16,7% secara tahunan menjadi Rp8,9 triliun hingga Februari 2026, seiring dengan meningkatnya aktivitas transaksi digital masyarakat melalui Livin' by Mandiri yang turut mendorong pertumbuhan pendapatan berbasis komisi," ujar Novita, dalam keterangan resminya, beberapa waktu lalu.
Secara keseluruhan, hingga Februari 2026 volume transaksi melalui Livin' by Mandiri terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dengan total transaksi mencapai lebih dari 738,7 juta transaksi sejak awal tahun, atau tumbuh sekitar 28% secara tahunan (YoY). Peningkatan ini didorong oleh semakin luasnya pemanfaatan layanan digital oleh masyarakat untuk berbagai kebutuhan transaksi sehari-hari, mulai dari pembayaran tagihan, pembelian produk dan layanan digital, hingga transfer dana antar individu maupun pelaku usaha.
Selain itu, meningkatnya penggunaan transaksi pembayaran di berbagai merchant dan pelaku usaha, termasuk UMKM, juga turut memperkuat peran layanan digital Bank Mandiri dalam mendukung kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat serta memperluas akses transaksi yang lebih praktis, cepat, dan inklusif.
Sejalan dengan meningkatnya aktivitas transaksi digital tersebut, Bank Mandiri juga mencatatkan pertumbuhan pendapatan berbasis komisi (fee-based income) yang berasal dari berbagai layanan pembayaran, transfer, serta transaksi digital lainnya.
Hal ini tercermin dari pertumbuhan pendapatan berbasis komisi dari berbagai platform digital Bank Mandiri, termasuk Livin' by Mandiri sebesar Rp625 miliar yang meningkat 45,3% secara tahunan, serta platform wholesale Kopra by Mandiri sebesar Rp421 miliar yang tumbuh 29,3% YoY, seiring dengan semakin tingginya volume transaksi nasabah di kanal digital perseroan.
Di sisi lain, kinerja intermediasi Bank Mandiri juga tetap terjaga yang tercermin dari pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) sebesar Rp13,7 triliun, tumbuh 9,16% secara tahunan (YoY). Kinerja tersebut didukung oleh penyaluran kredit yang tetap terjaga, serta semakin aktifnya transaksi nasabah melalui berbagai kanal layanan digital Bank Mandiri, khususnya Livin' by Mandiri.
Peningkatan aktivitas transaksi ini turut memperkuat penghimpunan dana murah berbasis rekening transaksi sehingga mendukung efisiensi beban bunga perseroan. Pada saat yang sama, efisiensi operasional juga terus membaik dengan rasio Cost-to-Income Ratio (CIR) yang turun ke level 37,21 persen, mencerminkan pengelolaan biaya yang semakin disiplin sekaligus peningkatan produktivitas bisnis.
Dari sisi kualitas aset, kinerja Bank Mandiri tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) yang berada di level 0,98 persen, disertai coverage ratio yang kuat sebesar 246,5 persen. Kinerja tersebut mencerminkan penerapan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit serta penguatan manajemen risiko yang konsisten dilakukan perseroan.
Dengan fundamental bisnis yang tetap kuat tersebut, Bank Mandiri optimistis dapat menjaga momentum pertumbuhan ke depan. "Ke depan, Bank Mandiri akan terus memperkuat sinergi yang terintegrasi di seluruh lini bisnis guna mendorong akselerasi pertumbuhan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat keunggulan kompetitif perseroan. Langkah ini sejalan dengan peran Bank Mandiri sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendukung penguatan ekosistem ekonomi nasional," pungkas Novita.
(dpu/dpu) [Gambas:Video CNBC]