Internasional

Presiden Iran Kirim Surat ke Warga AS, Bongkar Borok Trump dan Israel

tps, CNBC Indonesia
Kamis, 02/04/2026 10:30 WIB
Foto: Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. (Iranian Presidency / AFP)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengirimkan surat terbuka yang ditujukan langsung kepada rakyat Amerika Serikat (AS) di tengah berkecamuknya perang. Pezeshkian mendesak publik AS untuk melihat melampaui banjir distorsi dan narasi buatan, sembari mempertanyakan kepentingan siapa yang sebenarnya sedang dilayani oleh perang AS-Israel terhadap Iran saat ini.

Dalam surat terbuka yang dibagikan oleh lembaga penyiaran negara Iran, PressTV pada Rabu, (02/04/2026), Pezeshkian mempertanyakan apakah kebijakan "America First" milik Presiden Donald Trump benar-benar menjadi prioritas pemerintah AS saat ini. Ia menyoroti dampak kemanusiaan dan reputasi global AS akibat konflik tersebut.

"Tepatnya kepentingan rakyat Amerika yang mana yang benar-benar dilayani oleh perang ini? Apakah pembantaian anak-anak yang tidak berdosa, penghancuran fasilitas farmasi pengobatan kanker, atau kebanggaan atas pengeboman sebuah negara 'kembali ke zaman batu' melayani tujuan lain selain merusak reputasi global Amerika Serikat?" tulis Pezeshkian.


Pezeshkian juga menolak keras penggambaran Teheran sebagai ancaman global. Ia mencatat bahwa Iran telah dua kali diserang saat para perundingnya sedang berpartisipasi dalam pembicaraan nuklir multilateral, yakni saat Israel meluncurkan perang 12 hari pada Juni 2025 yang sempat dibantu AS, serta serangan terbaru pada akhir Februari tahun ini.

"Menyerang infrastruktur vital Iran, termasuk fasilitas energi dan industri, secara langsung menargetkan rakyat Iran. Selain merupakan kejahatan perang, tindakan tersebut membawa konsekuensi yang meluas jauh melampaui perbatasan Iran," kata Pezeshkian.

Lebih lanjut, Pezeshkian menegaskan bahwa tindakan agresi tersebut hanya akan menciptakan ketidakstabilan dan meningkatkan biaya ekonomi yang harus ditanggung banyak pihak. Menurutnya, serangan terhadap infrastruktur bukan menunjukkan kekuatan, melainkan sebuah kegagalan strategi.

"Tindakan itu menghasilkan ketidakstabilan, meningkatkan biaya manusia dan ekonomi, serta melanggengkan siklus ketegangan, menanam benih dendam yang akan bertahan selama bertahun-tahun. Ini bukan demonstrasi kekuatan; ini adalah tanda kebingungan strategis dan ketidakmampuan untuk mencapai solusi yang berkelanjutan," tegasnya.

Surat dari Presiden Iran ini muncul hanya beberapa jam setelah Trump mengeluarkan ancaman terbaru terhadap Teheran melalui media sosial. Trump menyatakan bahwa AS akan terus membombardir Iran hingga terlupakan atau kembali ke "Zaman Batu" kecuali Selat Hormuz dibuka kembali. Trump juga mengklaim bahwa Pezeshkian telah meminta gencatan senjata, namun klaim tersebut dibantah keras oleh pejabat Iran.

Al Jazeera melaporkan pada Rabu malam bahwa pemerintah AS dan Iran saat ini sedang terlibat dalam "perang narasi" yang mematikan. Poin kunci dari surat Pezeshkian adalah penegasan bahwa negaranya memiliki hak untuk mempertahankan diri dari serangan AS-Israel, namun tetap menekankan tidak ada permusuhan terhadap rakyat Amerika.

"Sementara pemerintahan Amerika mencoba memaksakan narasi kemenangannya, kemapanan Iran mencoba mendorong narasinya sendiri sebagai pihak yang sedang diserang," tulis Al Jazeera.

Selain menyerang kebijakan Trump, Pezeshkian dalam suratnya juga mempertanyakan apakah pemerintahan Trump telah dimanipulasi oleh sekutu utama mereka di Timur Tengah, yakni Israel, dalam meluncurkan perang pada 28 Februari lalu. Sejak perang pecah bulan lalu, militer Israel memang mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap infrastruktur kritis Iran.

"Bukankah benar juga bahwa Amerika telah memasuki agresi ini sebagai proksi bagi Israel, yang dipengaruhi dan dimanipulasi oleh rezim tersebut?" tanya Pezeshkian dalam surat pada Rabu tersebut.

Ia juga mempertanyakan apakah Israel sengaja menciptakan narasi ancaman Iran untuk mengalihkan perhatian dunia dari krisis di Palestina. Pezeshkian menuding Israel sengaja memanfaatkan sumber daya Amerika Serikat demi ambisi sepihak yang merugikan kawasan tersebut.

"Bukankah jelas bahwa Israel sekarang bertujuan untuk melawan Iran hingga tentara Amerika terakhir dan dolar pembayar pajak Amerika terakhir, mengalihkan beban delusinya ke Iran, kawasan tersebut, dan Amerika Serikat sendiri demi mengejar kepentingan yang tidak sah?" tulis Pezeshkian.


(tps/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Sirene Serangan Menggema di Yerusalem, Iran Rudal Israel