Internasional

Krisis Energi Kian Nyata, Negara Asia Balik Lagi ke Batu Bara

luc, CNBC Indonesia
Rabu, 01/04/2026 19:00 WIB
Foto: Ilustrasi (Photo by Pixabay from Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah negara Asia memilih kembali mengandalkan batu bara untuk menjaga pasokan listrik tetap stabil di tengah terganggunya pasokan gas dari Timur Tengah. Langkah ini memicu kekhawatiran baru dari para pakar iklim yang menilai krisis energi justru dapat memperlambat transisi menuju energi bersih.

Pemerintah di berbagai negara Asia meningkatkan penggunaan batu bara untuk menutup kekurangan energi yang dipicu perang Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Para ahli memperingatkan dampak lingkungan dari keputusan tersebut sekaligus menyerukan percepatan investasi energi terbarukan.

Di kawasan Asia Timur hingga Asia Selatan, pemerintah berupaya mengompensasi penurunan pasokan energi impor, yang sebagian besar berasal dari Timur Tengah.


Korea Selatan, misalnya, menunda penutupan pembangkit listrik tenaga batu bara dan mencabut batasan produksi listrik dari batu bara. Sementara itu, Thailand meningkatkan produksi di pembangkit batu bara terbesar di negara tersebut.

Filipina bahkan telah menetapkan "darurat energi nasional" akibat perang, dan berencana meningkatkan operasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Di Asia Selatan, India, yang bergantung pada batu bara untuk hampir 75% pembangkit listrik, meminta pembangkit batu bara beroperasi pada kapasitas maksimum serta menghindari penghentian terjadwal. Bangladesh juga meningkatkan produksi listrik berbasis batu bara serta impor batu bara pada Maret.

Lonjakan penggunaan batu bara terjadi karena negara-negara berlomba menutup kekurangan pasokan, terutama gas alam cair (LNG), yang sebelumnya dipromosikan sebagai bahan bakar transisi menuju energi lebih bersih. Banyak negara Asia menggunakan LNG untuk pembangkit listrik dan industri seperti produksi pupuk, dengan permintaan yang diperkirakan akan berlipat ganda dalam 25 tahun mendatang.

Namun, pasokan LNG terganggu setelah penutupan efektif Selat Hormuz. Serangan terhadap fasilitas ekspor LNG utama di Qatar juga memperparah kekurangan tersebut dan diperkirakan berdampak bertahun-tahun pada industri energi.

Henning Gloystein dari Eurasia Group mengatakan hampir 30 miliar meter kubik LNG hilang dari rantai pasok global, dengan lebih dari 80% kekurangan terjadi di kawasan Indo-Pasifik. Ia menambahkan bahwa kargo LNG terakhir yang melewati selat sebelum konflik meningkat akan tiba dalam sepekan.

"Pasar global berubah dalam empat minggu dari surplus pasokan yang cukup sehat menjadi defisit yang sangat parah, dan itu tidak hanya akan menyebabkan lonjakan harga, tetapi juga kekurangan bahan bakar nyata," katanya, dilansir The Guardian, Rabu (1/4/2026).

Ia menilai negara dengan cadangan batu bara akan memanfaatkannya sebagai solusi tercepat. "Negara-negara yang memiliki cadangan batu bara akan menggunakannya karena itu adalah cara tercepat dan termurah untuk menggantikan LNG," ujarnya, seraya mencatat bahwa India juga meningkatkan energi terbarukan.

Gloystein memperingatkan pemulihan pasokan LNG akan memakan waktu lama. "Ini bukan hal jangka pendek, orang berharap minggu depan ada semacam deeskalasi atau gencatan senjata dan kita kembali normal," katanya.

"Ini akan bertahan untuk sementara waktu karena kerusakan yang terjadi akan memakan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki," imbuhnya.

Pakar iklim dari King's College London, Pauline Heinrichs, mengatakan krisis ini seharusnya menjadi titik balik. Menurutnya, krisis energi saat ini menegaskan pentingnya energi terbarukan.

"Energi terbarukan bukan hanya prioritas iklim, tetapi pada akhirnya untuk keamanan energi yang lebih luas di Asia. Ekonomi yang memiliki porsi besar energi terbarukan sebenarnya kurang rentan," tuturnya.

Heinrichs memperingatkan agar penggunaan batu bara tidak menjadi permanen. "Kita perlu belajar bahwa ini adalah momen untuk memutus siklus merespons guncangan jangka pendek bahan bakar fosil dengan investasi pada bahan bakar fosil, karena itu tidak pernah jangka pendek, itu selalu investasi infrastruktur jangka panjang."

Dinita Setyawati dari lembaga riset energi Ember menegaskan hal serupa. "Tidak berkelanjutan bergantung pada batu bara," katanya. "Energi terbarukan domestik jelas merupakan jalan untuk meningkatkan keamanan dan ketahanan energi," katanya, dikutip The Guardian.

Selain meningkatkan penggunaan batu bara, negara-negara Asia juga mencari cara menghemat energi.

 


(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Pemerintah Siapkan 13 Proyek Hilirisasi Bernilai Rp 239 T