RI Impor Emas Perhiasan dari Australia, Naik 646% di Awal Tahun
Jakarta, CNBC Indonesia - Impor komoditas logam mulai atau emas hingga perhiasan mengalami kenaikan pesat di Indonesia. Secara spesifik impor itu bahkan naik kencang dari Australia, negara tetangga Indonesia di kawasan pasifik dalam dua bulan pertama tahun ini.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kenaikan impor emas dan perhiasan ini bahkan turut mendorong kelompok impor bahan baku atau penolong periode Januari-Februari 2026. Secara kumulatif nilainya untuk impor kelompok itu US$ 29,40 miliar, atau tumbuh 9,27% dari periode yang sama tahun lalu US$ 26,91 miliar.
"Impor bahan baku penolong yang naik cukup besar terutama di sini logam mulia dan perhiasan atau permata HS71," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers, Rabu (1/4/2026).
Impor kelompok penggunaan bahan baku atau penolong ini nilainya secara kumulatif menjadi yang terbesar, sedangkan sisanya untuk barang konsumsi US$ 3,60 miliar dari sebelumnya US$ 3,11 miliar, dan barang modal US$ 9,10 miliar dari sebelumnya 6,77 miliar.
Salah satu negara yang menjadi asal impor untuk komoditas logam mulai dan perhiasan atau permata Indonesia hingga Februari 2026 ialah Australia. Nilainya sebesar US$ 865,74 juta untuk periode Januari-Februari 2026. Nilai impor itu naik sekitar 646% dibanding periode yang sama tahun lalu dengan porsi dari total produk impor asal Australia mencapai 41,84%.
"Impor non migas dari Australia tercatat US$ 2,07 miliar, terutama didominasi impor logam mulia dan perhiasan dengan HS71, jadi perhiasan logam mulia cukup banyak nih dari Australia bahkan tumbuh sangat tinggi 646% secara c-to-c," tegas Ateng.
(arj/mij) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]