Iran Ngamuk Bom Kuwait, Kilang Meledak-Makan Korban Tewas
Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah serangan Iran menghantam fasilitas pembangkit listrik dan instalasi desalinasi air di Kuwait pada Senin (30/03/2026). Insiden mematikan ini menewaskan seorang pekerja asal India dan menyebabkan kerusakan infrastruktur yang sangat parah di tengah berkecamuknya perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.
Kementerian Listrik Kuwait mengonfirmasi bahwa serangan tersebut menyasar gedung layanan vital milik negara. Otoritas setempat menyebut tindakan ini sebagai bagian dari agresi militer yang dilakukan oleh pihak Teheran terhadap kedaulatan Kuwait.
"Sebuah gedung layanan di pembangkit listrik dan instalasi desalinasi air diserang sebagai bagian dari agresi Iran terhadap Negara Kuwait, yang mengakibatkan kematian seorang pekerja India dan kerusakan material yang signifikan pada bangunan tersebut," bunyi pernyataan resmi Kementerian Listrik Kuwait pada Senin, dilansir Al Jazeera.
Tim teknis dan unit tanggap darurat segera diterjunkan ke lokasi sesaat setelah ledakan terjadi. Langkah ini diambil untuk menangani dampak serangan serta memastikan operasional fasilitas tetap berjalan guna menjaga pasokan listrik dan air bagi warga.
"Tim teknis dan tanggap darurat segera dikirim ke lokasi untuk menangani dampak serangan dan memastikan kelanjutan operasi yang normal," tambah kementerian tersebut.
Hingga saat ini, belum ada komentar resmi dari pemerintah Iran mengenai serangan itu. Namun, media pemerintah Iran terpantau mengutip pernyataan kementerian di Kuwait yang menyebutkan adanya kerusakan luas di lokasi pembangkit listrik akibat hantaman rudal.
Al Jazeera melaporkan bahwa Kuwait terus menjadi sasaran serangan berulang sejak perang AS-Israel melawan Iran pecah lebih dari sebulan lalu. Intensitas serangan udara di wilayah kedaulatan Kuwait dilaporkan terus meningkat secara drastis dalam beberapa hari terakhir.
"Baru kemarin malam, Kementerian Pertahanan mengatakan bahwa 14 rudal dan 12 drone terdeteksi di ruang udara Kuwait, dan beberapa dari drone tersebut menargetkan kamp militer, di mana 10 personel militer terluka. Mereka telah dibawa ke rumah sakit dan telah menerima perawatan medis," tulis Al Jazeera.
Serangan ini terjadi setelah rangkaian gempuran AS dan Israel ke Iran yang telah menewaskan lebih dari 2.000 orang, termasuk mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Otoritas Iran mengeklaim serangan tersebut juga menghancurkan infrastruktur kritis dan menewaskan sedikitnya 216 anak-anak.
Sebagai balasan, pasukan Iran meluncurkan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel serta negara-negara kawasan yang menampung aset militer AS. Iran juga telah memblokir Selat Hormuz, jalur krusial bagi 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia, yang memicu lonjakan harga energi dan mengguncang pasar keuangan global.
Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menghentikan sementara rencana serangan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari hingga 6 April mendatang. Namun, Iran menegaskan akan membalas dengan serangan serupa ke situs-situs energi di seluruh wilayah Teluk jika fasilitas mereka tetap menjadi sasaran.
Konfrontasi bersenjata ini telah menyingkap kerentanan infrastruktur air kritis di Timur Tengah, salah satu wilayah paling langka air di dunia. Perang yang melibatkan kekuatan nuklir dan ekonomi ini kini mengancam ketahanan energi dan sumber daya dasar bagi jutaan penduduk di kawasan Teluk.
(tps/luc) Add
source on Google