Hadapi Suhu Panas Mendidih, Amran Umumkan Kabar Penting Ini ke Petani
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong petani mulai mengadopsi teknologi hemat air untuk menghadapi ancaman musim kemarau yang semakin tidak menentu, termasuk potensi El Nino "Godzila" yang diprediksi BRIN beberapa waktu lalu.
Salah satu metode yang diandalkan adalah Alternate Wetting and Drying (AWD), yang terbukti mampu menghemat penggunaan air irigasi hingga 20% tanpa menurunkan produktivitas padi.
Upaya efisiensi air ini dinilai krusial di tengah tekanan perubahan iklim yang berdampak pada ketersediaan air. Melalui metode AWD, petani dapat mengatur pemberian air secara lebih terukur, sehingga tanaman tetap tumbuh optimal meskipun dalam kondisi keterbatasan air.
Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menegaskan, pengelolaan air menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian, terutama saat risiko kekeringan meningkat.
"Pengelolaan air menjadi faktor krusial dalam keberhasilan produksi pertanian. Ketersediaan air yang terencana dan efisien sangat menentukan dalam menekan risiko kekeringan serta menjaga produktivitas," kata Amran dalam keterangannya, dikutip Jumat (27/3/2026).
Sejalan dengan itu, Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementan, Fadjry Djufry menyebut AWD sebagai solusi adaptif untuk menjawab tantangan keterbatasan air di lapangan, khususnya saat musim kemarau.
"Teknologi Alternate Wetting and Drying (AWD) merupakan solusi adaptif dalam menghadapi keterbatasan air. Dengan pengaturan air yang terukur, petani dapat menjaga kondisi tanaman tetap optimal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggenangan terus-menerus, sehingga lebih siap menghadapi risiko kekeringan," ungkap Fadjry.
Ia menjelaskan, teknologi AWD pertama kali dikembangkan oleh International Rice Research Institute pada 2009 dan mulai diadaptasi di Indonesia sejak 2013.
"Berdasarkan hasil pengujian selama enam musim tanam, melalui teknik AWD ini, kelangkaan air di lahan sawah dapat ditekan, bahkan dihindari. Teknologi ini dapat menghemat penggunaan air irigasi 17%-20%," ucapnya.
Selain efisiensi air, penerapan AWD juga dinilai membawa dampak positif bagi lingkungan, termasuk perbaikan kondisi tanah dan penurunan emisi gas rumah kaca dari lahan sawah.
"Selain itu, metode ini juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan melalui perbaikan kondisi tanah dan penurunan emisi gas rumah kaca dari lahan sawah," lanjut Fadjry.
Sementara itu, analis BRMP Lingkungan Pertanian Ali Pramono menjelaskan, penerapan AWD dilakukan dengan mengatur siklus pengairan berdasarkan kondisi kelembaban tanah, sehingga sawah tidak terus-menerus tergenang.
"Pengamatan kondisi air dilakukan menggunakan alat sederhana berupa pipa paralon berdiameter 10-15 cm dengan panjang 30-100 cm yang dilubangi di semua sisinya dan dibungkus kain kasa, kemudian dibenamkan hingga tersisa 10 cm-20 cm di atas permukaan tanah. Pipa ini memiliki prinsip kerja seperti piezometer (alat ukur tekanan cairan-red) sederhana," terang Ali.
Pipa tersebut ditempatkan di area yang mudah diakses untuk memantau kedalaman air yang mewakili kondisi lahan secara umum.
"Pengairan kembali umumnya dilakukan ketika muka air di dalam pipa telah turun hingga kisaran 10-15 cm di bawah permukaan tanah, kemudian air diberikan kembali dalam jumlah terbatas hingga tinggi muka air 3-5 cm untuk menjaga kelembaban tanah," imbuhnya.
Siklus pengairan ini dilakukan berulang dengan penyesuaian terhadap kondisi cuaca dan lahan, serta tetap menjaga kecukupan air pada fase kritis tanaman, seperti pemupukan hingga fase berbunga.
Menurut Ali, metode ini tidak hanya meningkatkan efisiensi penggunaan air, tetapi juga memperbaiki struktur tanah dan perakaran, sehingga tanaman lebih tahan terhadap cekaman kekeringan dan berpotensi meningkatkan hasil panen.
"AWD tidak sekadar menjadi teknik pengairan, tetapi juga bagian dari strategi mitigasi yang memperkuat ketahanan sistem produksi padi," jelas Ali.
Sebelumnya, BRIN memprediksi Indonesia akan menghadapi fenomena El Nino dengan intensitas kuat atau yang kerap dijuluki "Godzilla" pada tahun ini. Kondisi ini berpotensi membuat musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering, terutama di wilayah barat dan selatan Indonesia.
El Nino sendiri merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator yang berdampak pada penurunan curah hujan di Indonesia. Dalam fase kuat, fenomena ini disebut "Godzilla" karena mampu memicu anomali iklim yang signifikan.
"El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator. Fenomena El Nino, termasuk potensi variasi kuat 'Godzilla', menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan kering," tulis Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin, dikutip dari unggahan Instagaram resmi @/brin_indonesia, Sabtu (21/3/2026).
(wur) Add
source on Google