Siaga El Nino, Petani Buru-Buru Tanam-Ganti Bibit Padi, Pilih Palawija
Jakarta, CNBC Indonesia - Prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi El Nino dan musim kemarau yang datang lebih awal pada 2026 berpotensi menekan produksi padi nasional. Penurunan produksi bahkan diperkirakan bisa mencapai 10% hingga 20%, terutama di wilayah yang bergantung pada lahan tadah hujan.
Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Agroekologi dan Perbenihan Serikat Petani Indonesia (SPI)Â Kusnan mengatakan, petani mulai melakukan berbagai langkah antisipasi setelah BMKG memprediksi sekitar 46,5% wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau lebih cepat, yakni mulai April.
"Kami menanggapi prediksi ini dengan kewaspadaan tinggi namun tetap tenang. BMKG menyebutkan sekitar 46,5% wilayah Indonesia akan mengalami kemarau lebih cepat, bahkan ada yang dimulai sejak April. Ini adalah alarm bagi kami untuk mempercepat masa tanam selagi sisa curah hujan masih ada di bulan Maret ini," ujar Kusnan kepada CNBC Indonesia, Jumat (6/3/2026).
Menurutnya, percepatan masa tanam menjadi salah satu strategi utama agar tanaman padi tidak terkena dampak kekeringan saat puncak musim kemarau.
"Dengan percepatan tanam, petani yang biasanya baru menanam di akhir April, harus mengejar start (mulai) di awal Maret agar saat puncak kemarau Agustus, padi sudah masuk masa panen atau setidaknya sudah melewati fase vegetatif yang butuh banyak air," jelasnya.
Selain percepatan tanam, petani juga mulai menyiapkan pola tanam alternatif, terutama di wilayah yang bergantung pada curah hujan.
"Pola tanam alternatif di beberapa lahan tadah hujan, kami mengarahkan petani untuk tidak memaksakan padi pada musim tanam kedua (MT II) jika ketersediaan air meragukan, dan beralih ke palawija yang lebih hemat air," kata dia.
Adapun kondisi waduk dan embung, kata Kusnan, saat ini masih relatif aman. Namun, pengelolaan air harus dilakukan secara disiplin untuk mengantisipasi kemungkinan kemarau yang lebih panjang.
"Sejauh ini, kondisi waduk dan embung utama masih dalam kategori cukup aman, namun kami harus sangat disiplin dalam manajemen gilir giring atau pembagian air secara bergantian. Tantangannya adalah jika kemarau ini berlangsung lebih panjang, di atas 6 bulan, maka debit air di saluran irigasi tersier biasanya akan menyusut drastis," ujarnya.
Untuk mengantisipasi penurunan debit air, petani juga memastikan kesiapan pompa air di tingkat kelompok tani.
"Kami sedang memastikan pompa-pompa air di tingkat kelompok tani dalam kondisi prima untuk mengambil air dari sungai-sungai permukaan," tambahnya.
Meski begitu, Kusnan mengingatkan potensi penurunan produksi tetap ada jika kemarau berlangsung lebih panjang dari normal.
"Jika kemarau panjang terjadi, lebih kering dari normal, potensi penurunan produksi bisa berkisar antara 10% hingga 20% di wilayah-wilayah yang tidak memiliki akses irigasi teknis tadah hujan. Namun, untuk lahan irigasi teknis, kami berupaya menjaga agar penurunan tidak lebih dari 5% melalui intervensi teknologi dan manajemen air yang ketat dengan memanfaatkan sumur bor dengan pompa air tenaga diesel ataupun sible," jelasnya.
Sebagai langkah adaptasi, petani juga mulai mengoptimalkan penggunaan varietas padi yang lebih tahan terhadap kekeringan.
"Ya, ada instruksi untuk mengoptimalkan varietas unggul yang toleran kekeringan atau Gogo Sawah. Beberapa varietas yang menjadi andalan antara lain: Inpari 42 dan Inpari 32. Itu masih menjadi primadona karena daya tahannya," kata Kusnan.
Selain itu, varietas dengan masa panen lebih cepat juga mulai didorong agar tanaman bisa dipanen sebelum kekeringan mencapai puncaknya.
"Kami juga mendorong penggunaan varietas Genjah yang masa panennya lebih singkat di bawah 100 hari, agar bisa panen sebelum air benar-benar habis seperti Padi SPI 20 dan SPI 21 yang sudah kami kembangkan sangat genjah panen umur 75 hari dan 85 hari dan tahan terhadap kekeringan," ujarnya.
Meski berbagai langkah antisipasi sudah dilakukan petani, Kusnan menilai dukungan pemerintah tetap dibutuhkan untuk meminimalkan dampak kemarau terhadap produksi pangan.
"Penambahan bantuan mesin pompa air dan perbaikan saluran yang bocor sangat krusial," katanya.
Selain itu, distribusi sarana produksi pertanian juga perlu dipastikan tepat waktu.
"Pastikan benih tahan kekeringan tersedia di kios-kios resmi sebelum musim tanam tiba," ucap dia.
Ia juga berharap pemerintah dapat mengoptimalkan program asuransi pertanian untuk melindungi petani dari risiko gagal panen.
"Kami berharap pemerintah mempermudah proses klaim asuransi jika terjadi gagal panen (puso) akibat kekeringan, agar petani punya modal untuk menanam kembali di musim berikutnya," pungkas Kusnan.
source on Google [Gambas:Video CNBC]