Bos Motor Listrik RI Tiba-Tiba Happy Dapat Kabar Ini

Ferry Sandi, CNBC Indonesia
Kamis, 26/03/2026 17:50 WIB
Foto: Penjualan motor listrik di awal tahun cukup tersendat imbas tidak adanya subsidi Rp 7 juta dari pemerintah. Pantauan CNBC Indonesia di dua diler motor listrik wilayah Jakarta Selatan pada Senin (13/1/2024) minim pengunjung yang datang. (Dok. Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Munculnya antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah daerah mulai menjadi perhatian pelaku industri otomotif, khususnya sektor kendaraan listrik. Kondisi ini dinilai berpotensi mendorong masyarakat mempertimbangkan alternatif energi.

Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) Budi Setiyadi, mengungkapkan bahwa fenomena antrean BBM mulai terlihat di beberapa wilayah, salah satunya di Kalimantan Barat. Kondisi ini dinilai bisa menjadi indikator awal adanya gangguan distribusi.

"Sekarang yang saya ikuti di media sosial, di Kalimantan Barat antrean BBM sudah cukup panjang sekali," kata Budi kepada CNBC Indonesia, Kamis (26/3/2026).


Jika kondisi tersebut meluas ke daerah lain, maka perubahan perilaku masyarakat bisa terjadi secara bertahap.

"Kalau itu semakin merata di beberapa daerah, mungkin masyarakat mulai berpikir untuk tidak menggunakan sepeda motor bensin," ujarnya.

Kondisi distribusi energi memiliki peran penting dalam membentuk keputusan konsumen. Ketika akses terhadap BBM mulai terbatas, maka kendaraan listrik bisa menjadi pilihan alternatif.

"Nah mungkin sebagai pengganti, masyarakat bisa mulai melirik sepeda motor listrik," katanya.

Situasi ini menjadi momentum bagi industri untuk meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai manfaat kendaraan listrik.

Foto: Penjualan motor listrik di awal tahun cukup tersendat imbas tidak adanya subsidi Rp 7 juta dari pemerintah. Pantauan CNBC Indonesia di dua diler motor listrik wilayah Jakarta Selatan pada Senin (13/1/2024) minim pengunjung yang datang. (Dok. Istimewa)
Penjualan motor listrik di awal tahun cukup tersendat imbas tidak adanya subsidi Rp 7 juta dari pemerintah. Pantauan CNBC Indonesia di dua diler motor listrik wilayah Jakarta Selatan pada Senin (13/1/2024) minim pengunjung yang datang. (Dok. Istimewa)

"Ini bisa jadi momentum untuk mendorong dan mengedukasi masyarakat, bahwa kalau BBM mahal atau sulit, bisa beralih ke motor listrik," ungkapnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa peralihan tersebut tidak akan terjadi secara instan. Dibutuhkan kesiapan industri dan dukungan kebijakan yang konsisten dari pemerintah.

Di sisi lain, industri juga tengah melakukan konsolidasi untuk memastikan kesiapan dalam menghadapi potensi lonjakan permintaan.

Pihaknya akan segera melakukan pertemuan internal untuk membahas kapasitas produksi dan kesiapan infrastruktur. Selain itu, koordinasi dengan pemerintah juga akan diperkuat guna memastikan program transisi energi berjalan efektif.

Ia menekankan bahwa kesiapan industri harus sejalan dengan arah kebijakan nasional agar dampaknya optimal.

"Kalau memang nanti arahnya ke sana kita siap mendukung dan menjadi bagian dari solusi," ujarnya.


(fys/wur) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Selat Hormuz Ditutup, Industri Otomotif Dunia Terancam Lumpuh