Harga Energi Dunia Gonjang-Ganjing, Bos Motor Listrik Bilang Begini
Jakarta, CNBC Indonesia - Gejolak geopolitik di Timur Tengah mulai memicu kekhawatiran akan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia meski saat ini masih mampu ditahan pemerintah. Situasi ini pun ikut menyeret perhatian pelaku industri kendaraan listrik yang masih berkembang populasinya di Tanah Air.
Di tengah kondisi tersebut, produsen motor listrik ALVA melihat adanya perubahan dinamika pasar. Meski belum membuka angka penjualan secara rinci, perusahaan menangkap sinyal kuat meningkatnya ketertarikan konsumen.
"Untuk angka spesifik pertumbuhan penjualan, kami belum dapat menyampaikan data internal pada tahap ini. Yang dapat kami sampaikan adalah kami melihat interaksi dengan konsumen semakin aktif dan pertanyaan yang masuk semakin mendalam menjadi sinyal kuat bagi kami bahwa minat pasar terus tumbuh secara nyata," ujar Purbaja Pantja, Chief Executive Officer ALVA kepada CNBC Indonesia, Senin (13/4/2026).
Di lapangan, isu kenaikan harga energi disebut ikut memperkuat relevansi kendaraan listrik. Namun, dorongan tersebut lebih bersifat pemicu awal ketimbang faktor utama keputusan pembelian.
"Saat ini kami melihat isu kenaikan harga energi memang ikut memperkuat relevansi motor listrik di mata konsumen, yang memang mulai mendorong masyarakat untuk semakin rasional dalam menghitung biaya operasional kendaraan sehari-hari," kata Purbaja.
Di sisi lain, keputusan konsumen tetap dipengaruhi berbagai aspek yang lebih luas. Tidak hanya soal harga BBM, tetapi juga menyangkut kesiapan ekosistem hingga kenyamanan penggunaan.
"Keputusan konsumen membeli motor listrik tetap dipengaruhi beberapa faktor sekaligus, mulai dari efisiensi biaya penggunaan, kesiapan ekosistemnya seperti boost charge station & layanan purna jual, kemudahan kepemilikan, sampai rasa aman dalam penggunaan sehari-hari," jelasnya.
ALVA juga menegaskan bahwa momentum ini bukan sekadar lonjakan sesaat, melainkan peluang untuk memperkuat edukasi pasar terkait kendaraan listrik sebagai solusi jangka panjang.
"ALVA melihat momentum ini sebagai kesempatan untuk terus mengedukasi pasar bahwa motor listrik bukan sekadar alternatif saat harga BBM naik, tetapi solusi mobilitas jangka panjang yang lebih efisien dan relevan untuk keseharian masyarakat Indonesia," imbuh Purbaja.
Lebih jauh, perubahan perilaku konsumen mulai terlihat, terutama di wilayah perkotaan. Konsumen kini tidak lagi sekadar membandingkan harga beli, melainkan menghitung total biaya penggunaan dalam jangka panjang.
"Ada indikasi bahwa konsumen kini semakin terbuka untuk membandingkan motor listrik dengan motor konvensional, terutama dari sisi total biaya operasional dan kepraktisan penggunaan harian," ungkapnya.
Kelompok komuter harian menjadi salah satu yang paling responsif terhadap perubahan ini, diikuti oleh konsumen dengan gaya hidup digital yang lebih adaptif terhadap teknologi baru.
"Selain itu, segmen konsumen yang sudah terbiasa dengan gaya hidup digital juga cenderung lebih cepat menerima motor listrik karena mereka melihat kendaraan bukan hanya sebagai alat transportasi, tetapi bagian dari ekosistem mobilitas yang lebih modern, praktis, dan terkoneksi," tutur Purbaja.
Seiring meningkatnya literasi pasar, pola pertanyaan konsumen pun ikut berubah. Hal ini menjadi indikator bahwa pasar mulai bergerak menuju fase yang lebih matang.
"Bagi ALVA, perubahan perilaku ini juga makin terlihat ketika konsumen tidak lagi hanya bertanya soal harga unit, tetapi juga mulai lebih detail menanyakan soal biaya charging, jarak tempuh, ketersediaan boost charge station, layanan purna jual, dan skema pembiayaan. Itu menunjukkan pasar semakin matang," katanya.
(hoi/hoi) [Gambas:Video CNBC]