Perang Iran VS AS-Israel Makin Melebar, Kelompok Irak Ikut Campur
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang yang terjadi di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran makin melebar. Kelompok-kelompok di Irak, mulai ikut campur.
Dilaporkan AFP, Rabu, kelompok yang didukung Teheran itu, berulang kali menyerang kepentingan AS, baik pangkalan yang menampung pasukan, misi diplomatik, atau fasilitas minyak. Kelompok-kelompok bersenjata, yang oleh AS ditetapkan sebagai organisasi teroris, memperingatkan bahwa konflik Timur Tengah akan menjadi perang gesekan yang berkepanjangan.
Lalu siapa saja mereka?
Beberapa disebut kelompok utama. Salah satunya Al-Nujaba.
Kelompok ini masuk daftar hitam AS bersama "poros perlawanan" yang didukung Iran. Poros ini mencakup Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza dan Houthi di Yaman.
"Produksi drone dan roket di dalam poros perlawanan telah menjadi hal yang umum seperti membuat Kleicha di rumah," kata gerakan itu dalam sebuah pernyataan, merujuk pada makanan manis buatan rumah Irak yang biasanya diisi dengan kurma atau kacang-kacangan.
Selain Al-Nujaba, ada juga kelompok lain seperti Kataeb Hizbullah, Kataeb Sayyid al-Shuhada, lalu Asaib Ahl al-Haq. Di antara semuanya, Kataeb Hizbullah diketahui yang paling keras, di mana ini telah lama memimpin serangan terhadap kepentingan AS di Irak.
Targetkan Kepentingan AS
Kelompok-kelompok yang didukung Iran ini telah menargetkan kedutaan besar AS di ibu kota Irak, fasilitas diplomatik dan logistiknya di bandara Baghdad, termasuk ladang minyak yang dioperasikan oleh perusahaan asing. Wilayah otonom Kurdistan, yang menampung pasukan Amerika dan konsulat utama AS, juga menjadi target penting.
Masih belum jelas apa yang telah diserang kelompok-kelompok ini di wilayah yang lebih luas. Tetapi sebelumnya dalam perang Kuwait, mereka memanggil duta besar Irak terkait serangan terhadap wilayahnya.
Analis dari International Crisis Group, Lahib Higel, yang berbasis di Brussels mengatakan, kelompok-kelompok ini ikut campur. Karena, mereka menganggap perang kali ini merupakan pertempuran eksistensial bagi rezim Iran.
"Dalam poros Iran, mereka adalah garis pertahanan terakhir, dan pembunuhan Pemimpin Tertinggi (Ali) Khamenei adalah sinyal bahwa kelangsungan hidup mereka sendiri berada dalam risiko," ujarnya.
Kelompok Al-Nujaba mengklaim memiliki persediaan besar drone dan roket yang diproduksi di bengkel-bengkel kecil. Higel mengatakan Iran telah menahan senjata berat dari kelompok-kelompok ini, tidak seperti Hizbullah di Lebanon atau Houthi di Yaman.
Kelompok-kelompok Irak memiliki drone dan roket, serta "rudal balistik jarak pendek", yang telah mereka gunakan di masa lalu. Ini, kata Higel, jelas merupakan perang gesekan bagi mereka, dengan tujuan mengusir AS dari Irak.
Reaksi AS
Selama bertahun-tahun, AS telah menyerang kelompok-kelompok ini, membunuh beberapa komandan mereka. Dalam perang dengan Iran yang dimulai 28 Februari, serangan juga sepertinya dilakukan AS-Israel ke benteng utama Kataeb Hezbollah dan pangkalan Jurf al-Sakher di selatan Baghdad.
Setidaknya 43 pejuang yang didukung Iran, serta anggota Hashed al-Shaabi, telah tewas, menurut perhitungan AFP berdasarkan faksi dan sumber keamanan. Pada hari Sabtu, sebuah rudal menghantam sebuah rumah di ibu kota, menewaskan tiga anggota Kataeb Hezbollah, termasuk seorang komandan.
(sef/sef) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]