Internasional

Trump 'Masuk' Jebakan Iran: AS Bikin Masalah Baru-Susah Menang Perang

Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
Selasa, 17/03/2026 17:50 WIB
Foto: Orang-orang menghadiri protes menentang serangan AS dan Israel terhadap Iran, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Kota New York, AS, 7 Maret 2026. (REUTERS/Eduardo Munoz)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dinilai telah terjebak dalam lubang peperangan yang ia gali sendiri tanpa memiliki strategi keluar yang jelas. Alih-alih mendapatkan kemenangan cepat, Washington kini justru terseret dalam perang urat syaraf dan ekonomi yang dipasang oleh Iran.

Pengamatan ini disampaikan oleh Tamer Ajrami, seorang akademisi ilmu politik, yang menyoroti kegagalan strategi Gedung Putih dalam menghadapi ketegangan di Timur Tengah. Ajrami menilai Trump tidak hanya gagal belajar dari sejarah, tetapi juga buta terhadap realitas yang terjadi di lapangan saat ini.

"Presiden Trump tidak hanya gagal belajar dari sejarah. Ia juga gagal belajar dari apa yang terjadi saat ini," ujar Ajrami dikutip dari Middle East Monitor, Selasa (17/3/2026).


Menurut Ajrami, ini bukanlah sekadar kesalahan taktis kecil, melainkan kesalahan fatal karena Trump melangkah ke medan perang tanpa rencana keluar. Trump juga terlambat menyadari bahwa Iran telah mengatur medan tempur untuk perang yang melelahkan, bukan kemenangan cepat.

Titik Lemah di Selat Hormuz

Memasuki minggu ketiga peperangan, muncul pertanyaan besar di internal Washington mengenai definisi kemenangan itu sendiri. Ajrami menekankan bahwa titik lemah terbesar Trump dalam konfrontasi ini adalah Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia yang secara de facto berada di bawah kendali pengaruh Teheran.

"Miskalkulasi terbesar Trump adalah percaya bahwa kekuatan tempur saja dapat memaksa Iran menyerah sebelum Iran mengubah Hormuz menjadi alat penekan global. Kenyataannya berbeda. Kendali atas selat itu bukanlah keputusan Amerika. Itu adalah keputusan Iran," tegas Ajrami.

Dampak dari gangguan di selat tersebut tidak memerlukan militer besar. Satu insiden kecil dari tentara Iran di atas perahu motor dengan peluncur roket (RPG) sudah cukup untuk membuat pasar panik dan melambungkan harga minyak serta biaya asuransi pengiriman. Hal ini membuat Washington terjebak dalam dilema ganda.

"Jika AS menyatakan 'misi selesai' dan menarik diri sementara Hormuz masih di bawah ancaman, ia akan terlihat kalah perang secara ekonomi. Jika ia melakukan eskalasi untuk memaksa selat tetap terbuka, ia memasuki perang yang lebih luas dengan biaya lebih tinggi dan tanpa jaminan yang jelas," jelas Ajrami.

Melesetnya Asumsi Israel dan Tekanan Sekutu

Ajrami memaparkan bahwa jebakan ini sebagian besar bermula dari asumsi intelijen Israel yang meyakinkan Trump bahwa serangan terhadap petinggi Iran akan memicu keruntuhan rezim secara internal. Namun, prediksi bahwa rakyat Iran akan turun ke jalan untuk menggulingkan sistem tersebut terbukti meleset total.

"Asumsi itu gagal. Sistem tidak runtuh, dan jalanan tidak meledak seperti yang diharapkan. Iran mengorganisir kepemimpinan dengan cepat dan menutup kekosongan politik apa pun yang diandalkan pihak luar," kata Ajrami.

Kondisi ini menciptakan ketegangan di dalam aliansi sendiri, di mana Washington ingin fokus pada Hormuz, sementara Israel mendorong perluasan perang hingga ke Lebanon. Di sisi lain, negara-negara Teluk menginginkan kemenangan cepat demi stabilitas harga energi, namun kekuatan tempur AS tidak mampu memulihkan kepercayaan pasar dalam semalam.

"Kekuatan tempur memang bisa menghancurkan target, tetapi tidak bisa memulihkan kepercayaan pasar dalam semalam, dan tidak bisa menghentikan Iran untuk menjaga selat tersebut tetap berada di bawah risiko konstan," tambah Ajrami.

Perang Biaya dan Strategi Kelelahan Iran

Akademisi tersebut juga menyoroti ambiguitas tujuan Washington yang mencoba mengamankan Selat Hormuz sekaligus menyelesaikan masalah nuklir Iran yang tersimpan di situs-situs berbenteng. Upaya mencari "solusi cepat" untuk masalah nuklir justru dianggap akan menyeret AS ke dalam operasi darat yang memakan waktu lama dan biaya raksasa.

Bagi Ajrami, perang ini tidak lagi diukur dari berapa banyak serangan yang diluncurkan, melainkan dari sumber daya yang terbakar setiap harinya, mulai dari pertahanan udara hingga amunisi mahal. Iran disebutnya sedang bertaruh pada waktu untuk menjadikan perang ini beban global.

"Iran tidak perlu mengalahkan AS secara militer. Ia hanya perlu menjaga perang tetap berlangsung cukup lama untuk mengubahnya menjadi beban global: harga minyak yang lebih tinggi, inflasi yang lebih tinggi, investasi yang lebih lemah, dan krisis politik di dalam Washington yang tidak bisa ditutupi oleh pidato kemenangan," papar Ajrami.

Sebagai penutup, Ajrami menegaskan bahwa Trump kini menghadapi dilema nyata di mana ia tidak bisa menyatakan kemenangan selama Hormuz tertekan, namun tidak bisa mengakhiri perang tanpa konsesi atau jaminan.

"Ini bukan perang yang akan diputuskan oleh pidato-pidato keras. Ini akan ditentukan oleh siapa yang mampu menanggung biaya lebih lama. Iran mencoba menunjukkan bahwa dalam perang ini, ekonomi mungkin lebih kuat daripada rudal dalam memutuskan kapan perang berakhir," pungkas Ajrami.


(tps/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Presiden Iran Minta Maaf ke Negara Arab Yang Kena Imbas Perang