IEA Siap Lepas Lagi Cadangan Minyak Darurat, Asia Dapat Jatah Segini
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) membuka peluang untuk kembali melepaskan cadangan minyak darurat. Kabar ini muncul guna meredam lonjakan harga global di tengah konflik di Selat Hormuz yang belum mereda.
Kepala IEA, Fatih Birol, mengatakan negara-negara anggota masih memiliki stok cadangan minyak dalam jumlah besar meski sebelumnya telah menyetujui pelepasan terbesar dalam sejarah pasar energi.
"Meskipun ada pelepasan besar-besaran ini, kita masih memiliki banyak stok yang tersisa," ujar Birol, seperti dikutip The Guardian, Selasa (17/3/2026).
Ia menambahkan, pelepasan saat ini hanya akan mengurangi sekitar 20% dari total cadangan darurat negara anggota IEA. "Artinya, lebih banyak cadangan masih bisa dilepas jika dan bila diperlukan," katanya.
Harga minyak sempat melonjak tajam di awal perdagangan pekan ini. Minyak mentah Brent naik hampir 3% menjadi sekitar US$106,50 per barel, sebelum terkoreksi sekitar 2% namun tetap bertahan di atas US$100 per barel.
IEA juga mengonfirmasi sekitar 100 juta barel minyak darurat akan tersedia bagi pembeli di Asia pekan ini. Langkah ini merupakan bagian dari rencana distribusi besar mencapai 400 juta barel guna menutup gangguan pasokan dari negara-negara Teluk, yang telah mendorong harga minyak global melonjak hingga 40% sepanjang bulan ini.
Birol menegaskan, meski cadangan darurat dapat menjadi penyangga sementara, pemulihan pasar energi global sangat bergantung pada pembukaan kembali Selat Hormuz. Jalur strategis ini sebelumnya mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mendesak para pemimpin global untuk mengambil langkah membuka blokade di jalur tersebut.
"Beberapa sangat antusias tentang hal itu, dan beberapa tidak. Tingkat antusiasme itu penting bagi saya," kata Trump kepada wartawan.
Ketegangan meningkat setelah AS melancarkan serangan ke Pulau Kharg, pusat ekspor utama minyak Iran yang menyumbang sekitar 90% ekspor minyak negara tersebut. Meski tidak merusak fasilitas utama, serangan itu memperdalam kekhawatiran terhadap pasokan minyak dari kawasan Teluk.
IEA memperingatkan, jika konflik berlanjut, pasar energi global akan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih, bahkan setelah ketegangan mereda.
(tfa/luc) Add
source on Google