Bahlil Beberkan Sumber Impor Minyak, BBM-LPG RI, dari Malaysia-AS

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Selasa, 17/03/2026 14:40 WIB
Foto: REUTERS/Lucas Jackson/

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan telah menyiapkan sejumlah alternatif sumber impor minyak mentah, Bahan Bakar Minyak (BBM), hingga Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk mengantisipasi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.

Bahlil menjelaskan bahwa kondisi cadangan energi di dalam negeri saat ini berada di atas batas minimal standar nasional. Ia membeberkan bahwa pemerintah telah menyusun strategi diversifikasi rantai pasok dari berbagai negara agar tidak terpaku pada satu kawasan yang terimbas kondisi geopolitik.

"Jadi total LPG kita dari 100% dari 7,6 juta impor itu 70% sampai 75% kita ambil dari Amerika. 20% dari Middle East sisanya dari negara lain seperti Australia," ungkap Bahlil dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara yang ditayangkan secara daring, pekan lalu.


Untuk mengamankan pasokan LPG, pemerintah melakukan diversifikasi impor dengan mengamankan kontrak dengan Amerika Serikat dan memperbanyak kargo dari negara sekitar.

Terbarunya, Bahlil memastikan akan ada tambahan dua kargo LPG dari Australia pada akhir bulan ini, disusul pasokan kargo lanjutan pada awal Maret guna mengamankan stok hingga April.

Sementara untuk impor minyak mentah (crude), dia mengakui bahwa selama ini Indonesia mengimpor 20% dari Timur Tengah. Selebihnya, dari Afrika seperti Angola, Nigeria, serta ada juga dari Brasil, Amerika dan Malaysia.

"Nah yang kita impor dari Middle East itu Bapak adalah crude-nya. Jadi minyak mentahnya itu 20% memang dari Middle East. Sisanya kita dapat dari Angola, Nigeria, Brasil kemudian sebagian Amerika, sebagian dari Malaysia," tuturnya.

Untuk mengalihkan pasokan minyak dari Timur Tengah, pemerintah akan mengimpor minyak dari Amerika Serikat. Namun memang, lanjutnya, durasi pengiriman atau pengapalan dari AS ini akan lebih lama ketimbang pengiriman dari Timur Tengah.

Pengiriman dari Amerika Serikat memakan waktu sekitar 40 hari, jauh lebih lama dibandingkan rute Timur Tengah yang memakan waktu dua hingga tiga minggu, sehingga kontrak jangka panjang diperlukan.

Sementara untuk produk bensin jadi, pasokannya saat ini mengandalkan impor dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

"Sementara untuk bensin yang kita impor, yang kita impor ini tinggal bensin. Bensin ini kita impor dari sebagian dari Malaysia, sebagian dari Singapura," ucapnya.

Namun demikian, Bahlil mengaku sempat ada insiden impor minyak dari Singapura belum lama ini.

"Tiga dua hari lalu kita sudah membeli minyak dari Singapura sudah berangkat ditenderkan oleh Pertamina lewat trader sudah berangkat, sudah masuk laut Indonesia kemudian disuruh kembali lagi dua kargo. Jadi sekarang perekonomian sekarang untuk urusan minyak ini Pak hukum normalnya sudah tidak berlaku," ungkapnya.

Merespons insiden penarikan kargo secara sepihak oleh trader tersebut, pihaknya langsung menegur dan mengancam gugatan hukum. Langkah tersebut membuat pihak pengirim melunak dan berjanji akan mengembalikan pengiriman dua kargo BBM tersebut pada tanggal 18 bulan ini.

Di lain sisi, Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan kembali kebijakan prioritas pemenuhan kebutuhan dalam negeri sebelum melakukan ekspor. Prabowo memastikan aturan ini tidak hanya berlaku untuk migas, tetapi juga komoditas lain seperti batu bara dan kelapa sawit yang hasilnya harus diutamakan untuk rakyat.

"Bener semua itu milik bangsa Indonesia, bukan milik pengusaha. Boleh usaha tapi kepemilikan bangsa Indonesia. Semua kekayaan alam yang ada itulah milik bangsa saya tegaskan itu," tegas Prabowo.


(wia) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Meski ada Perang, Menteri Bahlil Sebut Pasokan BBM dan LPG RI Aman