Batal! Pertemuan Trump & Xi Jinping Ga Jadi Dulu, Ini Sebabnya
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahannya telah meminta penundaan pertemuan terencana dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing. Trump mengungkapkan penundaan tersebut diperkirakan akan memakan waktu sekitar satu bulan akibat perang yang tengah berlangsung dengan Iran.
Sebelumnya, Trump dijadwalkan untuk melakukan perjalanan ke China pada akhir Maret guna mengadakan pertemuan tingkat tinggi dengan Xi. Namun, kepastian mengenai agenda tersebut kini menjadi tidak menentu seiring dengan meningkatnya eskalasi militer yang melibatkan Washington.
Saat ditanya di Ruang Oval pada Senin sore waktu setempat mengenai apakah rencana perjalanan tersebut masih tetap berjalan, Trump memberikan jawaban yang menunjukkan adanya perubahan strategi diplomatik. Dia menyebutkan bahwa pihak AS saat ini sedang mengupayakan penjadwalan ulang terkait pertemuan tersebut.
"Kami sedang berbicara dengan China. Saya ingin sekali melakukannya, tetapi karena perang ini, saya ingin berada di sini. Saya merasa saya harus berada di sini," ujar Trump, dikutip AFP, Selasa (17/3/2026).
Lebih lanjut, Trump menegaskan bahwa permintaan penundaan tersebut telah disampaikan secara resmi kepada pihak Beijing. Dirinya tetap menyatakan bahwa hubungan antara kedua pemimpin negara tersebut masih terjaga dengan baik meskipun ada penangguhan jadwal.
"Jadi, kami telah meminta agar itu ditunda sebulan atau lebih. Saya sangat menantikan untuk bertemu dengannya. Kami memiliki hubungan yang sangat baik," kata Trump.
Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan antara dua kekuatan ekonomi dunia yang tampak kembali memanas. Kondisi ini dipicu oleh pecahnya perang Iran dan pengumuman Amerika Serikat mengenai investigasi baru terhadap praktik perdagangan China.
Meski demikian, Trump bersikeras dalam komentarnya bahwa usulan penundaan tersebut semata-mata karena kebutuhan kehadirannya di Amerika Serikat untuk mengelola situasi perang. Dirinya membantah adanya motif tersembunyi di balik keputusan untuk menggeser jadwal diplomasi penting tersebut.
"Tidak ada trik di dalamnya juga. Ini sangat sederhana. Kita sedang menghadapi perang. Saya pikir penting bagi saya untuk berada di sini," tambah Trump.
Pejabat tinggi di pemerintahan Trump, termasuk sang presiden sendiri, sebelumnya memang telah memberikan sinyal bahwa perang Iran dapat mengganggu rencana pertemuan puncak profil tinggi di China tersebut. Hal ini sejalan dengan pernyataan Trump kepada Financial Times pada hari Minggu.
Trump menyampaikan kepada media tersebut bahwa China, sebagai pembeli utama ekspor minyak Iran yang menentang perang, seharusnya membantu AS mematahkan blokade de facto Iran di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan koridor energi global yang sangat vital bagi stabilitas pasar dunia.
Dia juga menekankan bahwa menunggu untuk melakukan tindakan tersebut hingga setelah pertemuan puncak selesai akan menjadi langkah yang terlambat. Namun, pernyataan keras tersebut sempat tampak melunak melalui penjelasan dari Menteri Keuangan Scott Bessent.
Alasan Logistik
Bessent menyatakan Senin pagi bahwa penjadwalan ulang pertemuan puncak tersebut murni karena alasan logistik. Dirinya yang baru saja bertemu dengan rekan-rekan dari China di Paris akhir pekan lalu mencoba meredam spekulasi adanya tuntutan politik yang kaku.
"Itu tidak akan ditunda karena presiden menuntut China menjaga keamanan di Selat Hormuz," kata Bessent, berbicara dengan CNBCÂ International.
Senada dengan itu, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan kepada Fox News pada Senin pagi bahwa sangat mungkin pertemuan tersebut akan ditunda. Pengumuman ini berbanding terbalik dengan prediksi para analis pada akhir Februari lalu.
Beberapa hari setelah AS meluncurkan serangan pertamanya ke Iran, analis mengatakan kepada CNBC bahwa mereka tidak memperkirakan pertempuran tersebut akan menggagalkan pertemuan Trump-Xi. Namun, mereka memperingatkan bahwa keadaan bisa berubah drastis tergantung pada bagaimana perang tersebut berkembang.
Pekan lalu, pemerintahan Trump meluncurkan investigasi baru terhadap praktik perdagangan yang berpotensi tidak adil oleh China dan lebih dari selusin negara lainnya. Penyelidikan tersebut diumumkan setelah Mahkamah Agung membatalkan tarif terbesar Trump, termasuk pungutan besar yang sebelumnya ia kenakan pada impor dari China.
(tps/sef) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]