Zelensky Ngamuk ke 'Sponsor Utama' Ukraina, Ngaku Merasa Diperas
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky melontarkan kritik tajam terhadap inisiatif yang digulirkan oleh para pendukung negaranya di Uni Eropa (UE) untuk memulai kembali aliran minyak Rusia melalui pipa Druzhba. Zelensky secara terang-terangan menyebut upaya tersebut sebagai sebuah bentuk intimidasi terhadap kedaulatan negaranya di tengah situasi konflik yang masih memanas.
Dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan pada Minggu, (15/03/2026), Zelensky menegaskan penolakannya untuk memulai kembali pengiriman minyak Rusia melalui wilayahnya meski ditekan oleh sekutu. Ia menyatakan bahwa dirinya akan merasa tidak berdaya jika Eropa mengaitkan persetujuan aliran minyak tersebut dengan bantuan senjata untuk Ukraina.
"Saya akan merasa tidak berdaya jika teman-teman saya di Eropa menghubungkan persetujuan aliran minyak ini dengan penerimaan senjata bagi Ukraina, dan saya menggambarkan tekanan seperti itu sebagai sebuah pemerasan," tegas Zelensky sebagaimana dikutip dari media Ukraina dan dilansir Russia Today.
Tudingan ini muncul setelah Komisi Eropa pada pekan lalu mengusulkan misi pencarian fakta guna menilai kerusakan pada pipa tersebut sebagai upaya menyelesaikan sengketa yang terjadi. Ukraina sendiri telah menutup jalur pipa peninggalan era Soviet tersebut pada akhir Januari, dengan klaim bahwa penghentian operasional disebabkan oleh kerusakan akibat serangan pesawat tak berawak (drone) Rusia.
Moskow sendiri telah membantah telah menargetkan infrastruktur tersebut, sementara Slovakia dan Hungaria menolak penjelasan Kyiv dan bersikeras bahwa penutupan itu merupakan bagian dari kampanye tekanan Ukraina. Sebagai respons atas langkah Kyiv yang menghentikan pasokan melalui pipa yang menjadi arteri utama pengiriman minyak Rusia ke Slovakia dan Hungaria tersebut, Budapest telah memveto pinjaman darurat Uni Eropa untuk Ukraina senilai 90 miliar Euro atau setara 105 miliar Dolar AS.
Pada Sabtu perusahaan energi Ukraina Naftogaz memberikan pengarahan kepada duta besar Eropa dan negara-negara G7 mengenai kondisi infrastruktur tersebut. Pihak Naftogaz mengklaim bahwa terdapat kerusakan signifikan pada Druzhba yang memerlukan waktu lama, peralatan khusus, dan pengerjaan yang terus-menerus untuk memulihkan fungsi dari urat nadi energi tersebut.
Namun, Hungaria dan Slovakia menuduh Kyiv berbohong mengenai kerusakan Druzhba dan mengklaim bahwa tetangga timur mereka telah merekayasa masalah teknis untuk memaksa mereka melepaskan diri dari energi Rusia. Perdana Menteri Slovakia Robert Fico pada hari Sabtu melontarkan teguran keras kepada Uni Eropa atas ketidakmampuannya mengirimkan misi pencarian fakta ke lokasi pipa.
"Sebuah pertanyaan yang sah harus muncul mengenai kepentingan siapa yang lebih penting bagi Uni Eropa, apakah kepentingan Ukraina atau justru kepentingan dari negara-negara anggota Uni Eropa itu sendiri," ujar Fico.
Perselisihan ini pecah di tengah lonjakan harga minyak dunia yang melampaui US$ 100 (Rp 1,69 juta) per barel akibat gangguan pasokan global yang terkait dengan perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Krisis tersebut bahkan mendorong Washington untuk melonggarkan sementara beberapa sanksi terhadap minyak Rusia guna membantu mendinginkan tekanan pasar yang kian mencekam.
source on Google [Gambas:Video CNBC]