Internasional

Raksasa NATO Gabung Konflik AS-Israel Vs Iran, Kirim 11 Kapal Perang

Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
Selasa, 10/03/2026 21:10 WIB
Foto: Kapal Induk Tenaga Nuklir di Prancis Charles de Gaulle. (AP/Daniel Cole)AP/Daniel Cole

Jakarta, CNBC Indonesia - Eskalasi konflik di Timur Tengah yang kian memanas memicu respons militer besar-besaran dari negara Barat. Prancis secara resmi mengumumkan pengerahan hampir selusin kapal perang, termasuk gugus tugas kapal induk ke Mediterania, Laut Merah, hingga kemungkinan masuk ke wilayah sensitif Selat Hormuz.

Langkah ini diambil sebagai bentuk dukungan defensif kepada sekutu yang terancam oleh konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan komitmen tersebut saat mengunjungi Siprus sebelum bertolak menuju kapal induk Charles de Gaulle yang telah tiba di wilayah Mediterania timur akhir pekan lalu.

Kunjungan Macron ke Siprus bertujuan untuk memberikan jaminan keamanan kepada negara tersebut setelah adanya insiden pencegatan drone yang mengarah ke pulau itu pada pekan lalu. Dalam pertemuan tersebut, Macron menekankan pentingnya solidaritas keamanan bagi seluruh negara anggota Uni Eropa yang terdampak langsung oleh konflik.


"Ketika Siprus diserang, maka Eropa diserang," ujar Macron dengan tegas setelah bertemu dengan Presiden Siprus Nikos Christodoulides dan Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis di Paphos, Senin (9/3/2026) dikutip Reuters.

Negara-negara Eropa kini berjuang keras untuk melindungi kepentingan ekonomi dan keamanan mereka setelah sempat tersisih dalam eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran. Serangan kelompok Hizbullah yang didukung Iran ke Israel telah menyeret Lebanon ke garis api, mengganggu jalur pelayaran global, dan memicu lonjakan harga minyak hingga menembus angka US$ 100 per barel.

Prancis menegaskan bahwa pengerahan armada tempur ini bukan bertujuan untuk melakukan serangan, melainkan untuk menjaga stabilitas kawasan yang semakin tidak menentu. Macron menyebut kehadiran militer Prancis adalah untuk memastikan kredibilitas pertahanan sekutu dan membantu meredakan ketegangan regional yang kian memuncak.

"Tujuan kami adalah mempertahankan posisi defensif yang ketat, berdiri bersama semua negara yang diserang oleh Iran dalam pembalasannya, untuk memastikan kredibilitas kami, dan berkontribusi pada de-eskalasi regional. Pada akhirnya, kami bertujuan untuk menjamin kebebasan navigasi dan keamanan maritim," kata Macron menjelaskan misi utamanya.

Selama ini, aktivitas angkatan laut utama Uni Eropa di wilayah tersebut berfokus pada operasi Aspides, sebuah misi di Laut Merah yang diluncurkan awal tahun 2024. Misi tersebut dibentuk untuk melindungi kapal-kapal komersial dari serangan militan Houthi di Yaman yang beraliansi dengan Iran dan mendukung kelompok Hamas dalam perang melawan Israel.

Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis pun menyambut baik langkah Prancis dan menyerukan negara Eropa lainnya untuk turut memperkuat kehadiran militer mereka. Menurutnya, dibutuhkan aksi nyata yang lebih masif untuk menunjukkan kekuatan Eropa di tengah krisis keamanan global saat ini.

"Saya juga akan menambahkan suara saya kepada rekan-rekan Eropa lainnya untuk memperkuat operasi Aspides dengan lebih banyak kapal. Hanya sedikit dari kami yang berpartisipasi, tetapi di sini juga kita perlu menunjukkan solidaritas Eropa kita secara lebih praktis," tutur Mitsotakis.

Secara rinci, Prancis akan mengirimkan total delapan kapal perang, satu gugus tugas kapal induk, dan dua kapal induk helikopter ke kawasan tersebut. Macron menyatakan bahwa jumlah kapal perang Prancis yang diperbantukan untuk misi Aspides akan meningkat menjadi dua unit dari yang sebelumnya hanya satu kapal.

Rencana pengerahan ini kemungkinan besar akan menjangkau Selat Hormuz yang merupakan jalur vital pengiriman minyak dunia. Prancis saat ini sedang mempersiapkan misi pengawalan teknis yang melibatkan kerja sama dengan negara-negara di dalam maupun di luar kawasan Eropa guna memastikan jalur perdagangan tetap terbuka.

"Kami sedang dalam proses menyiapkan misi pertahanan murni, misi pengawalan murni, yang harus dipersiapkan bersama dengan negara-negara Eropa maupun non-Eropa, dan tujuannya adalah untuk memungkinkan, sesegera mungkin setelah fase konflik yang paling intens berakhir, pengawalan kapal kontainer dan kapal tanker untuk membuka kembali Selat Hormuz secara bertahap," pungkas Macron menutup pernyataannya.


(tps/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Bantu AS, Australia-Prancis Kirim Kapal Perang ke Timur Tengah