MARKET DATA
Internasional

Rusia Ancam Negara Eropa, Jadi Target Serangan Berikutnya jika...

tfa,  CNBC Indonesia
24 April 2026 21:40
Presiden Rusia Vladimir Putin memberi isyarat saat ia dan Presiden AS Donald Trump (tidak terlihat) mengadakan konferensi pers setelah pertemuan mereka untuk merundingkan akhir perang di Ukraina, di Pangkalan Gabungan Elmendorf-Richardson, di Anchora
Foto: Presiden Rusia Vladimir Putin memberi isyarat saat ia dan Presiden AS Donald Trump (tidak terlihat) mengadakan konferensi pers setelah pertemuan mereka untuk merundingkan akhir perang di Ukraina, di Pangkalan Gabungan Elmendorf-Richardson, di Anchorage, Alaska, AS, 15 Agustus 2025. (REUTERS/Kevin Lamarque)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rusia memperingatkan negara-negara Eropa agar tidak menampung pesawat pengebom strategis berkemampuan nuklir milik Prancis. Moskow menegaskan, langkah tersebut berpotensi menjadikan negara tuan rumah sebagai target serangan jika konflik besar pecah.

Peringatan itu disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Alexander Grushko menyusul rencana Presiden Prancis Emmanuel Macron yang ingin memperluas peran nuklir negaranya di kawasan Eropa. Dalam pengumuman pada Maret lalu, Macron membuka peluang bagi negara-negara mitra untuk menampung pesawat berkemampuan nuklir Prancis secara sementara.

Grushko menilai langkah tersebut sebagai bagian dari "eskalasi yang tidak terkendali" dalam kapasitas nuklir NATO, yang menurutnya meningkatkan ancaman strategis terhadap Rusia.

"Jelas, militer kami akan dipaksa untuk memperhatikan hal ini secara serius, termasuk memperbarui daftar target prioritas jika terjadi konflik besar," ujar Grushko dalam wawancara dengan media pemerintah Russia Today, dikutip Jumat (24/4/2026).

Ia juga menegaskan bahwa kebijakan Prancis justru berisiko melemahkan keamanan negara-negara Eropa yang terlibat.

"Alih-alih memperkuat pertahanan sekutu seperti yang diklaim Prancis, yang bahkan tanpa jaminan pasti, langkah ini justru akan memperburuk keamanan mereka," tambahnya.

Macron diketahui tengah membahas skema tersebut dengan sejumlah negara Eropa, termasuk Inggris, Jerman, Polandia, Belanda, Belgia, Yunani, Swedia, dan Denmark.

Inisiatif ini muncul di tengah dorongan negara-negara Eropa anggota NATO untuk mengambil tanggung jawab lebih besar atas pertahanan mereka sendiri. Hal itu terjadi setelah meningkatnya kritik dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap aliansi tersebut, serta dinamika geopolitik terbaru.

Di sisi lain, berakhirnya perjanjian terakhir yang membatasi persenjataan nuklir strategis antara Rusia dan Amerika Serikat pada Februari lalu menciptakan kekosongan dalam pengendalian senjata global. Kondisi ini terjadi saat tensi geopolitik meningkat tajam akibat konflik di Ukraina dan ketegangan di Timur Tengah.

Grushko menegaskan bahwa dialog ke depan terkait pengendalian senjata nuklir harus mempertimbangkan kekuatan gabungan NATO, termasuk persenjataan Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat.

Sementara itu, NATO pada pekan ini mengkritik kebijakan nuklir Rusia dan China, serta mendesak kedua negara untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat guna meningkatkan stabilitas dan transparansi global. Seruan tersebut disampaikan menjelang konferensi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York yang akan meninjau implementasi perjanjian non-proliferasi nuklir.

(tfa/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Eropa Memanas! Rusia Tembus Wilayah NATO, Jet Tempur Dikerahkan


Most Popular
Features