Perang Timur Tengah Bikin Dunia Panik, Bank Sentral Terancam Buntu
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan yang terus bereskalasi di Timur Tengah mulai mengguncang arah kebijakan moneter global. Konflik yang melibatkan Iran memicu lonjakan harga energi dan ketidakpastian ekonomi, sehingga memaksa bank sentral di berbagai negara meninjau ulang strategi mereka di tengah risiko inflasi yang kembali meningkat.
Lonjakan harga minyak menjadi salah satu pemicu utama kekhawatiran tersebut. Harga minyak bahkan sempat menembus US$113 per barel. Kenaikan ini memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global serta potensi tekanan inflasi yang lebih besar di banyak negara.
Kepala Ekonom Pasar Negara Berkembang di Dai-ichi Life Research Institute, Toru Nishihama, mengatakan situasi ini membuat banyak bank sentral berada dalam posisi sulit. Menurutnya, tekanan datang baik dari pasar maupun pemerintah yang sama-sama menginginkan stabilitas ekonomi.
"Banyak bank sentral akan menghadapi keputusan sulit karena mereka berada di bawah tekanan dari pasar dan pemerintah," kata Nishihama, seperti dikutip Reuters, Senin (9/3/2026). "Dengan tidak adanya akhir yang jelas dari konflik tersebut, risiko stagflasi meningkat dari hari ke hari."
Dampaknya langsung terasa di pasar keuangan Asia. Pasar saham melemah sementara dolar AS menguat karena investor mencari aset yang lebih aman.
Situasi ini menambah tekanan bagi bank sentral, terutama di negara berkembang yang harus menghadapi kenaikan biaya energi sekaligus risiko arus keluar modal.
Di Asia, sejumlah bank sentral diperkirakan harus menyesuaikan arah kebijakan mereka. Sumber yang mengetahui rencana kebijakan mengatakan Bank Sentral India kemungkinan akan tetap fokus mendorong pertumbuhan dengan menjaga suku bunga tetap rendah.
Namun, lonjakan permintaan terhadap dolar AS di tengah ketidakpastian geopolitik berpotensi memaksa otoritas moneter India melakukan intervensi lebih besar untuk menopang nilai tukar rupee.
Tekanan juga dirasakan negara dengan ekonomi berbasis manufaktur seperti Korea Selatan dan Jepang yang sangat bergantung pada stabilitas perdagangan global serta biaya bahan baku yang rendah.
Ekonom Citigroup Kim Jin-wook menilai Bank Sentral Korea untuk saat ini kemungkinan belum akan menaikkan suku bunga hanya karena lonjakan harga minyak.
"Untuk saat ini, kami tetap percaya Bank Sentral Korea kemungkinan tidak akan menaikkan suku bunga kebijakan sebagai respons terhadap harga minyak yang lebih tinggi dari perkiraan," kata Kim.
Ia menilai langkah pemerintah menahan harga bahan bakar membantu membatasi dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi.
Di negara maju, dilema kebijakan juga semakin terasa. Bank Sentral Jepang, misalnya, menghadapi tekanan tambahan karena inflasi telah melampaui target 2% selama hampir empat tahun terakhir.
Jika harga minyak bertahan di sekitar US$110 per barel selama setahun, riset Nomura memperkirakan pertumbuhan ekonomi Jepang bisa berkurang sekitar 0,39 poin persentase.
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, memperingatkan lonjakan harga energi dapat memicu tekanan inflasi global yang lebih luas. Menurutnya, kenaikan harga minyak sebesar 10% yang berlangsung sepanjang tahun dapat meningkatkan inflasi global sekitar 40 basis poin.
"Kita melihat ketahanan ekonomi kembali diuji oleh konflik baru di Timur Tengah," kata Georgieva dalam sebuah simposium di Tokyo. "Saran saya kepada para pembuat kebijakan dalam lingkungan global baru ini adalah pikirkan hal yang tak terbayangkan dan bersiap menghadapinya."
Â
(luc/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]