MARKET DATA

Cadangan Emas BI Tertinggal, The Fed Tembus 8.000 Ton

Khoirul Anam,  CNBC Indonesia
30 January 2026 18:16
Deputi Bidang Koordinasi Energi & Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Elen Setiadi menyampaikan paparan dalam acara Gold Outlook 2026 di Menara Bank Mega, Jakarta, Jumat (30/1/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Deputi Bidang Koordinasi Energi & Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Elen Setiadi menyampaikan paparan dalam acara Gold Outlook 2026 di Menara Bank Mega, Jakarta, Jumat (30/1/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah mendorong Bank Indonesia (BI) untuk memperkuat cadangan emas, yang masih tertinggal dibanding bank sentral negara-negara lain.

Tujuannya, untuk menjaga stabilitas harga emas, yang kini menjadi salah satu kontributor terbesar pendorong tekanan harga alias inflasi.

"Emas merupakan salah satu sumber inflasi, kita lihat di data BPS pada 2024 ke 2025 itu 58% dari inflasi emas. Itu berkontribusi di bawah 1%," kata Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Elen Setiadi dalam acara Gold Outlook 2026 CNBC Indonesia, Jakarta, Jumat (30/1/2026).

Oleh sebab itu, pemerintah menganggap, BI dapat menjadi salah satu stabilitor harga dengan memperkuat cadangan emas, sebagaimana bank sentral negara lain.

Menurut catatan, Kemenko Perekonomian, cadangan emas BI baru sekitar 200-300 ton, jauh tertinggal dari cadangan emas bank sentral Amerika Serikat (AS), the Federal Reserve (The Fed) sebanyak 8.000 ton, dan bank sentral China, yakni People's Bank of China (PBOC) sebanyak 6.000 ton.

"Indonesia itu bank sentralnya sedikit sekali dibanding Amerika yang mungkin sudah 8.000 ton, China 6.000 ton, untuk kita, data pastinya belum dapat tapi diperkirakan di bawah 200-300 ton," kata Elen.

Dengan catatan itu, pemerintah menganggap, ke depan Bank Sentral bisa menjadi backup stabilisasi harga emas di belakang bank bullion untuk mengimbangi tingginya permintaan emas saat ini.

"Sama seperti sistem perbankan, sehingga bullion bank ini makin lama makin stabil, ada satu sisi di belakangnya Bank Indonesia, ini yang satu perlu kita kaji lebih dalam," paparnya.

(arj/haa)
[Gambas:Video CNBC]
Next Article RI Ternyata Pemilik Cadangan Emas Terbesar ke-4 Dunia, Ini Buktinya


Most Popular
Features