MARKET DATA

Fitch Revisi Outlook RI Jadi Negatif, Bos Pengusaha Bunyikan Alarm

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
09 March 2026 16:10
Ilustrasi Lahan Industri. (Dok Ist)
Foto: Ilustrasi Lahan Industri. (Dok Ist)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perubahan prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif oleh Fitch Ratings memicu kekhawatiran dari kalangan pelaku industri. Perubahan outlook dari stabil menjadi negatif dinilai mencerminkan meningkatnya perhatian pasar global terhadap konsistensi kebijakan ekonomi dan tata kelola fiskal Indonesia.

Penilaian lembaga pemeringkat internasional seperti Fitch bukan sekadar indikator teknis, tetapi juga menjadi referensi penting bagi investor dalam membaca risiko suatu negara.

"Outlook negatif bukan sekadar penilaian teknis lembaga pemeringkat. Ini adalah peringatan bahwa pasar global mulai melihat meningkatnya ketidakpastian kebijakan. Jika tidak segera direspons dengan langkah korektif yang jelas, dampaknya bisa langsung terasa pada investasi industri, biaya pembiayaan proyek, dan kepercayaan investor," kata Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Ahmad Maruf Maulana dalam keterangannya, Senin (9/3/26).

Revisi outlook tersebut berkaitan dengan meningkatnya ketidakpastian kebijakan ekonomi. Situasi ini dinilai datang pada fase krusial bagi proses industrialisasi nasional. Berbagai sektor manufaktur strategis seperti elektronik, energi baru terbarukan, baterai kendaraan listrik hingga industri berbasis hilirisasi sumber daya alam tengah membutuhkan aliran investasi besar dalam jangka panjang.

Dalam jangka panjang, kondisi ini juga berpotensi menekan daya saing Indonesia dalam perebutan investasi di kawasan Asia Tenggara, terutama dibandingkan dengan negara seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia yang dinilai terus memperkuat kepastian regulasi dan tata kelola investasi.

Perubahan outlook tersebut terjadi di tengah situasi ekonomi global yang semakin tidak stabil. Ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat memicu kekhawatiran terhadap stabilitas jalur logistik global. Salah satu jalur yang menjadi perhatian adalah Selat Hormuz yang merupakan jalur utama perdagangan energi dunia.

"Dalam kondisi dunia yang sedang menghadapi konflik geopolitik dan gangguan jalur logistik global, arus investasi internasional cenderung melambat. Karena itu strategi paling realistis bagi Indonesia adalah memastikan percepatan realisasi investasi yang sudah memiliki komitmen," ujar Ahmad Maruf Maulana.

Pemerintah perlu mendorong berbagai terobosan untuk mempercepat implementasi investasi di lapangan, mulai dari penyederhanaan proses perizinan, peningkatan kepastian regulasi hingga memperkuat koordinasi antara kementerian dan pemerintah daerah.

"Indonesia tidak kekurangan potensi. Kita memiliki pasar domestik yang besar, sumber daya alam yang melimpah, serta posisi strategis dalam rantai pasok global. Namun semua itu tidak akan cukup jika investor mulai meragukan konsistensi kebijakan ekonomi kita. Stabilitas kebijakan adalah fondasi utama industrialisasi," tegasnya.

HKI juga mendorong pemerintah untuk menjaga disiplin fiskal, memperkuat konsistensi kebijakan makroekonomi, serta meningkatkan transparansi regulasi bagi dunia usaha agar kepastian investasi tetap terjaga.

"Industrialisasi tidak bisa berjalan di tengah ketidakpastian. Investor membutuhkan kepastian bahwa kebijakan ekonomi Indonesia stabil dan dapat diprediksi dalam jangka panjang. Jika sinyal negatif ini tidak segera ditangani, Indonesia berisiko kehilangan momentum industrialisasi yang sedang dibangun," kata Maruf.

(dce) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Manufaktur RI Memang Tumbuh, Tapi Menperin Akui Kalah dari Negara Ini


Most Popular
Features