Teheran Buka Suara soal Pengkhianat di Ring 1 Iran, Ada Peran Mossad
Jakarta, CNBC Indonesia - Duta Besar (Dubes) Iran untuk Republik Indonesia, Mohammad Boroujerdi menyampaikan tanggapan resmi terkait isu infiltrasi pihak asing di internal pemerintahan Iran. Hal ini sebagai respons atas berbagai spekulasi yang muncul usai serangan presisi yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke wilayah Iran hingga menewaskan pemimpin negara tersebut, Ayatollah Ali Khamenei.
Boroujerdi mengungkapkan kemungkinan adanya elemen pengkhianatan dalam sebuah struktur negara adalah hal yang lumrah terjadi di kancah geopolitik global. Dia menegaskan bahwa praktik mata-mata tidak hanya spesifik menyasar satu negara, melainkan menjadi tantangan bagi semua negara di dunia dalam menjaga kedaulatannya.
"Pengkhianat atau berkhianat mungkin saja ada. Dan hal itu mungkin saja terjadi di negara mana pun, dan saya yakin di semua negara di dunia pengkhianat dan pihak yang memata-matai ada," ujar Boroujerdi dalam sebuah pernyataan pers di kediamannya di Jakarta, dikutip Minggu (8/3/2026).
Selain itu, Boroujerdi juga menyoroti peran aktif intelijen Israel yang menurutnya telah tersebar luas di berbagai wilayah, terutama di negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Menurutnya, jaringan agen tersebut telah dididik sedemikian rupa untuk menjalankan misi di luar batas wilayah mereka sendiri.
"Rezim Zionis Israel telah mendidik agen mata-mata dan intelijen mereka hampir di semua negara dunia, khususnya negara-negara Islam. Dan hal ini tidak terbatas atau tidak berhenti di Iran," jelasnya.
Lebih lanjut, Boroujerdi memberikan peringatan mengenai keberadaan jaringan intelijen asing yang kemungkinan juga beroperasi di Indonesia. Dia menyarankan agar publik melihat kecenderungan pihak-pihak tertentu dalam mendukung langkah politik Israel sebagai salah satu indikator adanya aktivitas mata-mata.
"Saya yakin di hampir semua negara dunia mereka memiliki mata-mata dan intelijen. Lihatlah di Indonesia, pihak mana yang mendukung langkah Rezim Zionis Israel. Dari sana bisa ketahuan indikasi siapa yang melakukan mata-mata dan merupakan intelijen dari Amerika Serikat," ungkapnya.
Dubes Iran tersebut tidak menampik bahwa negaranya beberapa kali telah dirugikan oleh aksi individu yang membelot. Namun, ia menekankan bahwa pengalaman menghadapi pengkhianatan tersebut telah memberikan pelajaran berharga bagi Iran dalam memperkuat ketahanan internalnya.
"Tentu negara saya telah dipukul oleh para pengkhianat yang pernah ada dan sedang ada. Tetapi kami telah belajar banyak dari hal-hal tersebut. Kita harus meyakini secara bersama bahwa pihak yang berkhianat merupakan pihak yang tidak mungkin memberikan dukungan langsung dan nyata kepada pihak di mana dia berafiliasi," jelas Boroujerdi.
Tak ketinggalan, Boroujerdi juga memaparkan modus operandi yang sering digunakan oleh para pengkhianat. Di antaranya dengan memicu polarisasi dan perbedaan pendapat di tengah umat Islam. Hal ini dipandang sebagai upaya sistematis untuk meruntuhkan persatuan yang seharusnya menjadi tameng bagi dunia Islam.
"Tetapi dia melakukan langkah-langkah lain sebagai dukungan, yaitu menyebarluaskan perbedaan pendapat antara berbagai barisan dan golongan dunia Islam. Ketika persatuan diperlukan oleh umat Islam, pihak pengkhianat ini mencoba untuk melakukan pengkotak-kotakan dan mengelompokkan dunia Islam. Dan pengkhianat adalah musuh bersama seluruh negara Islam dan seluruh negara dunia," paparnya.
Boroujerdi menganalogikan persatuan dunia Islam sebagai atap sebuah rumah yang melindungi seluruh penghuninya tanpa membedakan latar belakang mazhab. Ia mengingatkan bahwa jika atap persatuan tersebut runtuh akibat pengkhianatan, maka seluruh elemen di dalamnya akan menjadi korban.
"Apabila terdapat sebuah atap di atas sebuah rumah yang roboh, semua orang yang berada di bawah atap tersebut akan menjadi korban. Atap yang sedang roboh ini tidak menyaring apakah Anda bergolongan mazhab Syiah, Ahlussunnah wal Jamaah, Maliki, Hanafi, Syafii, dan lain sebagainya. Atap yang saya maksud adalah Islam," paparnya.
Boroujerdi melanjutkan, dunia Islam adalah pihak yang berada di bawah atap tersebut. Persatuan menjadi atap yang berada di atas dunia Islam. "Apabila atap persatuan roboh, maka dia akan menjadikan semua pihak dan golongan yang berada di Islam sebagai pihak yang menjadi korban," imbuh dia.
Seperti yang diketahui, serangan militer dilancarkan AS dan Israel ke Iran sejak 28 Februari 2026 lalu. Dilaporkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan itu, termasuk sejumlah pejabat.
Terduga Mata-Mata
Namun, ada satu-satunya orang yang selamat dari serangan itu. Ia adalah Jenderal Esmail Qaani atau dikenal juga dengan Ismail Qaani.
Ia merupakan komandan Pasukan Quds, sayap operasi luar negeri elit Iran yang mempersenjatai dan mengoordinasikan "Poros Perlawanan" di seluruh Timur Tengah, bagian dari Garda Revolusi Iran (IRGC). Fakta tersebut kemudian membuat Qaani dituduh melakukan spionase atau aksi mata-mata di negaranya. Tuduhan kepada Qaani bukan tanpa alasan, mengingat ia juga selamat dari dua serangan Israel di tahun-tahun sebelumnya.
Lantas, apakah benar adanya para pengkhianat di lingkaran dalam Khamenei?
Sebenarnya, pihak Mossad telah membantah tuduhan ini. Dalam sebuah pernyataan yang dimuat di laman Turki Haberler, Mossad mengatakan bahwa Ismail Qaani selaku Komandan Pasukan Quds dari IRGC bukanlah mata-mata agen intelijen asal Israel tersebut.
Pernyataan itu menolak spekulasi selama berbulan-bulan bahwa jenderal Iran itu telah membelot ke dinas intelijen Israel. Namun, ini tak menghentikan interogasi.
Qaani selama ini dikenal sebagai komandan berpangkat tinggi yang bertanggung jawab atas operasi luar negeri IRGC. Ia ditunjuk untuk menggantikan mantan pemimpin pasukan Quds Qassem Soleimani, yang tewas pada tahun 2020, dalam sebuah operasi pembunuhan AS di Baghdad, Irak.
Namun, selama masa jabatannya, "Poros Perlawanan" Timur Tengah yang dibangun sebelumnya, termasuk Hamaz di Gaza serta Hizbullah di Lebanon hancur. Kepala politik Hamas Ismail Haniyeh dibunuh dan pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah meninggal dunia.
Qaani seharusnya menjadi komandan yang bertanggung jawab langsung atas pengelolaan jaringan proksi regional selama perang regional. Dalam kepemimpinannya banyak sosok penting lain juga tereliminasi.
Selama perang Iran-Israel selama 12 hari tahun lalu, Qaani sempat dinyatakan tewas oleh beberapa media. Namun, tiba-tiba ia muncul kembali ke publik dalam perayaan publik di Teheran pada akhir Juni 2025, mengenakan pakaian sipil dan topi baseball, dalam keadaan sehat.
Kejadian yang sama terjadi pada Oktober 2024 ketika ia dinyatakan tewas. Akan tetapi, ia kemudian dilaporkan diinterogasi dan muncul kembali di televisi pemerintah.
Sementara itu, Israel telah menerbitkan daftar pejabat Iran dan pejabat yang terkait dengan Iran yang ingin mereka singkirkan. Akhir pekan lalu, daftar itu dinyatakan lengkap, namun tidak ada nama Qaani di dalamnya.
Di sisi lain, The National menyebut laporan baru yang menunjukkan Qaani sudah ditangkap, diinterogasi atau bahkan dieksekusi. Ada beberapa akun di media sosial yang mengklaim soal itu.
"Esmail Qaani, kepala Pasukan Quds Iran telah dieksekusi oleh IRGC," kata sebuah akun X dimuat The National, beberapa hari lalu.
"Dia telah selamat dari semua upaya pembunuhan sejauh ini... bahkan bersama Khamenei selama pemboman AS-Israel ia berhasil melarikan diri," tambah laman itu.
"Sebelumnya, dia ditahan oleh IRGC karena dicurigai sebagai agen Mossad," lanjut pernyataan di laman tersebut.
Sayangnya, hingga saat ini belum ada pernyataan dari pemerintah Iran. IRGC juga tidak memberi klarifikasi resmi.
(luc/luc) Add
source on Google