MARKET DATA
Internasional

Geger! Dubes Iran Bongkar Skenario Licik CIA & Mossad di Perang ISIS

Tommy Patrio Sorongan,  CNBC Indonesia
03 March 2026 06:05
Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyampaikan pidatonya dalam konferensi pers di kediaman Duta Besar Iran, menyusul serangan Israel dan AS terhadap Iran dan pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, di Jakarta, Indonesia, 2 Maret 2026. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana
Foto: Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyampaikan pidatonya dalam konferensi pers di kediaman Duta Besar Iran, menyusul serangan Israel dan AS terhadap Iran dan pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, di Jakarta, Indonesia, 2 Maret 2026. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Jakarta, CNBC Indonesia - Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, membeberkan dugaan keterlibatan dinas intelijen Amerika Serikat (AS), Central Intelligence Agency (CIA), dan intelijen Israel, Mossad, dalam berbagai upaya menciptakan instabilitas di Teheran. Pernyataan tersebut disampaikan Boroujerdi dalam konferensi pers di Jakarta.

Kepada awak media, Boroujerdi menuding kekuatan Barat secara sengaja menyusupkan agen-agen intelijen ke tengah aksi damai masyarakat Iran untuk membajak demonstrasi, memicu kerusuhan, dan menciptakan korban jiwa dalam jumlah besar di dalam negeri.

Ia menjelaskan, sebelum melakukan serangan fisik, pihak-pihak yang bermusuhan dengan Iran terlebih dahulu menekan perekonomian negara tersebut guna menumbuhkan ketidakpuasan publik. Kondisi itu, menurutnya, dimanfaatkan untuk mendorong masyarakat turun ke jalan, yang kemudian menjadi celah masuk bagi operasi intelijen asing guna memperburuk situasi melalui aksi kekerasan.

"Setelah itu mereka menjalankan proyek menciptakan korban yang maksimal. Tentu agen-agen CIA dan Mossad berada di tengah-tengah mereka untuk menciptakan korban yang banyak. Nantinya, dengan dalih mendukung masyarakat yang berdemonstrasi, mereka melancarkan serangan terhadap Iran," ujar Boroujerdi, Senin (2/3/2026).

Pemerintah Iran, lanjut Boroujerdi, juga menyoroti ironi klaim AS yang mengaku ingin membantu rakyat Iran, namun di saat bersamaan justru menyebabkan penderitaan warga sipil, termasuk anak-anak. Ia menegaskan, rekam jejak intervensi AS di berbagai negara seperti Irak dan Afghanistan tidak pernah menghadirkan kesejahteraan, melainkan kehancuran.

"Hal ironis lain adalah klaim bahwa Amerika Serikat ingin membantu masyarakat Iran. Saya ingin bertanya, bantuan seperti apa yang dimaksud? Sampai ratusan anak sekolah dasar menjadi korban. Bantuan seperti apa ini?" tegasnya.

Boroujerdi juga memaparkan sejarah panjang intervensi AS terhadap Iran, mulai dari kudeta tahun 1953 hingga dukungan terhadap rezim Saddam Hussein dalam perang delapan tahun melawan Iran sejak 1980.

Ia menilai puncak kontradiksi tersebut terjadi pada 2020, ketika AS secara terbuka membunuh seorang jenderal senior Iran yang dikenal sebagai tokoh kunci dalam memerangi kelompok teroris ISIS di kawasan.

"Pada tahun 2020, ketika mereka melihat tidak berhasil membuat Iran tunduk, mereka melakukan aksi teror dengan membunuh seorang jenderal senior Iran yang merupakan pahlawan anti-ISIS di Irak. Mereka turun tangan langsung melakukan pembunuhan itu," kata Boroujerdi.

Ketegangan, menurutnya, semakin meningkat pada 2024 dan 2025, saat Iran menuding AS memprovokasi Israel untuk menyerang kantor konsulat serta sejumlah situs militer dan ekonomi Iran. Boroujerdi menyebut serangan pada Juni 2025 bahkan menyasar fasilitas nuklir damai Iran yang berada di bawah pengawasan langsung International Atomic Energy Agency (IAEA), dan mengakibatkan tewasnya sejumlah pejabat senior militer.

"Pada Juni 2025, mereka melakukan penyerangan terhadap situs nuklir damai Republik Islam Iran yang berada di bawah pengawasan langsung IAEA," tambahnya.

Di akhir pernyataannya, Boroujerdi mengecam apa yang ia sebut sebagai standar ganda Barat dalam isu Hak Asasi Manusia (HAM) dan demokrasi, yang dinilai hanya dijadikan alat politik. Ia mempertanyakan mengapa narasi HAM tidak pernah diterapkan secara konsisten, khususnya terhadap puluhan ribu korban perempuan dan anak-anak di Gaza, Palestina.

"Jika mereka benar-benar khawatir terhadap kondisi anak-anak dan perempuan, mengapa anak-anak dan perempuan di Gaza dibiarkan? Mengapa puluhan ribu dari mereka justru menjadi korban?" pungkas Boroujerdi, sembari meminta awak media melakukan verifikasi ketat terhadap informasi yang bersumber dari media atau pihak yang berafiliasi dengan AS dan Israel.

AS-Israel melakukan serangan terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026. Serangan tersebut kemudian menewaskan beberapa tokoh penting Iran, salah satunya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

(tps/tfa) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Orang Ini Nyaris Jadi Wakil Menteri, Ternyata Intel Israel


Most Popular
Features