Trump "Bakar" Duit, Biaya AS Perangi Iran Tembus Rp15 Triliun Per Hari
Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa hari setelah Amerika Serikat melancarkan operasi militer besar terhadap Iran, biaya perang yang harus ditanggung pembayar pajak AS mulai menjadi sorotan dengan nilai diperkirakan mencapai sekitar Rp15 triliun per hari.
Hingga kini belum ada tanda-tanda konflik akan segera berakhir, sementara para analis memperkirakan pengeluaran Washington untuk operasi militer tersebut mencapai hampir satu miliar dolar setiap hari.
Operasi militer yang dikenal sebagai Operation Epic Fury berlangsung di tengah perang terbuka antara AS dan Iran. Namun, hingga saat ini Pentagon belum merilis perkiraan resmi mengenai total biaya operasi tersebut, dan pemerintah juga belum mengajukan permintaan anggaran tambahan kepada Kongres untuk mendanai perang itu.
Sejumlah pengamat kebijakan publik menilai ketidakpastian situasi di medan perang membuat biaya keseluruhan konflik sulit diprediksi.
"Ini sangat tidak dapat diprediksi sehingga kita tidak akan mengetahui biayanya sampai semuanya selesai," kata Lindsay Koshgarian, direktur program National Priorities Project di Institute of Policy Studies, dilansir CNN International, Jumat (6/3/2026).
Koshgarian juga menilai konflik tersebut tidak diperlukan dan justru mengalihkan perhatian dari agenda domestik.
"Konflik ini tidak perlu dan mengambil sumber daya dari kebijakan lain yang bisa membuat hidup warga Amerika lebih terjangkau," ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa sejarah menunjukkan perang bisa berujung pada biaya yang sangat besar.
"Biaya perang Irak akhirnya mencapai hampir US$3 triliun," kata Koshgarian.
Hampir US$900 Juta per Hari
Analisis terbaru dari lembaga pemikir di Washington menunjukkan bahwa operasi militer AS terhadap Iran saat ini menelan biaya sekitar US$891,4 juta per hari atau sekitar Rp15 triliun.
Perkiraan tersebut dibuat oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) berdasarkan data yang dipublikasikan Pentagon mengenai target yang diserang serta aset militer yang dikerahkan dalam operasi tersebut.
Dalam laporannya, CSIS memperkirakan biaya perang dapat menurun jika Amerika Serikat mulai menggunakan persenjataan yang lebih murah dan jika intensitas serangan Iran berkurang.
Namun lembaga tersebut menekankan bahwa perkembangan di medan perang tetap menjadi faktor utama yang menentukan biaya akhir konflik.
"Namun biaya di masa depan sebagian besar akan bergantung pada intensitas operasi dan efektivitas pembalasan Iran," tulis CSIS dalam laporannya.
Operasi Udara dan Laut Jadi Pengeluaran Terbesar
Menurut analisis tersebut, sebagian besar biaya perang berasal dari operasi udara, laut, dan darat yang dilakukan militer Amerika Serikat.
Operasi udara diperkirakan menelan biaya sekitar US$30 juta per hari, sementara operasi angkatan laut memerlukan sekitar US$15 juta per hari.
Di sisi lain, operasi darat diperkirakan memerlukan sekitar US$1,6 juta per hari.
CSIS juga merinci sejumlah aset militer paling mahal yang digunakan dalam operasi tersebut.
Untuk kekuatan udara, biaya harian mencakup pesawat tanker dan kargo sekitar US$9 juta per hari, sayap udara kapal induk sekitar US$5 juta per hari, jet tempur nonsiluman sekitar US$5 juta per hari, dan jet tempur siluman sekitar US$5 juta per hari.
Sementara itu, dalam operasi laut biaya mencakup kapal induk sekitar US$6 juta per hari dan kapal perusak sekitar US$5 juta per hari.
Untuk operasi darat, biaya terdiri dari brigade artileri sekitar US$1 juta per hari dan batalion Garda Nasional kurang dari US$1 juta per hari.
Lebih Mahal dari Serangan Iran Tahun Lalu
Biaya perang yang terjadi saat ini juga jauh melampaui operasi militer AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025 yang dikenal sebagai Operation Midnight Hammer.
Operasi tahun lalu hanya berlangsung sekitar dua setengah jam, tetapi tetap menelan biaya miliaran dolar.
Menurut analisis CSIS, 100 jam pertama perang saat ini telah menghabiskan sekitar US$3,7 miliar.
Sebagai perbandingan, proyek penelitian Costs of War dari Brown University memperkirakan operasi Midnight Hammer tahun lalu menelan biaya antara US$2,04 miliar hingga US$2,26 miliar.
Dalam operasi tersebut, biaya terbesar berasal dari penggunaan berbagai senjata dan pesawat tempur canggih, termasuk 40 bom MOP seberat 30.000 pound dengan biaya antara US$49 juta hingga US$70 juta, 7 pesawat pengebom siluman B-2 dengan biaya antara US$31,75 juta hingga US$37,8 juta, dan 24 rudal Tomahawk dengan biaya sekitar US$36 juta hingga US$45,6 juta.
Potensi Biaya hingga US$95 Miliar
Meski biaya harian perang sudah sangat besar, total pengeluaran akhir konflik masih sangat bergantung pada berapa lama perang berlangsung.
Pemerintahan Presiden Donald Trump sendiri memberikan berbagai perkiraan waktu yang berubah-ubah mengenai durasi operasi tersebut, mulai dari dua minggu, empat minggu hingga enam minggu.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bahkan mengisyaratkan bahwa operasi militer masih akan meningkat.
"Kami baru saja memulai," kata Hegseth pada Rabu. Ia menambahkan bahwa pasukan Amerika akan "mempercepat" operasi mereka.
Sementara itu, Kent Smetters, direktur fakultas Penn Wharton Budget Model di University of Pennsylvania, memperkirakan biaya total perang bisa sangat besar jika konflik berlangsung selama dua bulan.
Menurutnya, perang dua bulan dapat menelan biaya antara US$40 miliar hingga US$95 miliar, tergantung pada apakah AS mengerahkan pasukan darat serta seberapa cepat persediaan persenjataan harus diganti.
Namun, Smetters menilai biaya perang tersebut masih lebih kecil dibandingkan potensi kerugian jika Iran berhasil memiliki senjata nuklir.
Ia memperingatkan bahwa skenario tersebut dapat menimbulkan "kerusakan bernilai triliunan dolar."
Â
(luc/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]