MARKET DATA
Internasional

Putra Shah Iran Serukan 'Perang Salib' Lawan Teheran, Minta Eropa Ikut

sef,  CNBC Indonesia
06 March 2026 13:00
Reza Pahlavi, putra Shah terakhir Iran yang diasingkan dan tokoh terkemuka dalam oposisi yang terpecah-pecah, berbicara selama konferensi pers di Washington, D.C., AS, Jumat (16/1/2026). (REUTERS/Jonathan Ernst)
Foto: Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang diasingkan di Washington, D.C., AS. (REUTERS/Jonathan Ernst)

Jakarta, CNBC Indonesia - Putra pemimpin Iran sebelum era Republik Islam Iran, Reza Pahlavi, meminta negara Eropa bergabung dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Teheran. Ia bahkan menyerukan "perang salib" melawan pemerintah Iran saat ini.

Reza Pahlevi (65) adalah putra dari Shah terakhir Iran yang kini hidup dalam pengasingan di Amerika. Seruannya itu muncul dalam panggilan prank yang dilakukan oleh duo komedian Rusia Vovan dan Lexus, yang berpura-pura menjadi Kanselir Jerman Friedrich Merz.

"Eropa harus bergabung dalam perang salib melawan rezim (Iran)," ujarnya dalam rekaman yang viral di media sosial X, dimuat juga laman RT, Jumat (6/3/2026).

Ia juga menyerukan ke rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintah. Menurutnya, momen saat ini tepat menjatuhkan pemerintahan yang menggulingkan ayahnya dalam Revolusi Iran 1979.


Ia pun menyatakan kesiapannya kembali ke Iran untuk memimpin pemerintahan transisi. Ia menegaskan otoritas yang saat ini berkuasa di Teheran tidak memiliki legitimasi.

Meski demikian, sikap Eropa sebenarnya terpecah. Inggris dan Spanyol sempat menolak memberikan akses pangkalan militer mereka kepada pasukan AS yang terlibat dalam serangan terhadap Iran.

Namun London kemudian mengubah sikapnya setelah mendapat tekanan dari Presiden AS Donald Trump. Sementara itu, Madrid juga mengumumkan akan mengirim kapal perang ke Siprus untuk melindungi pangkalan Angkatan Udara Inggris dari kemungkinan serangan Iran, bersama Italia, Prancis, dan Belanda.

Sebelumnya, serangan besar-besaran yang dilakukan militer AS dan Israel terhadap Iran dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, sejumlah komandan militer senior, serta ratusan warga sipil. Sebagai balasan, Teheran meluncurkan gelombang serangan drone dan rudal ke Israel serta menargetkan fasilitas militer AS di berbagai wilayah Timur Tengah.

Eskalasi konflik ini meningkatkan kekhawatiran global bahwa perang dapat meluas dan melibatkan lebih banyak negara di kawasan maupun kekuatan internasional. Penutupan Selat Hormuz juga membuat kenaikan harga energi, minyak dan gas, yang melewati perairan itu.

(sef/sef) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Iran Chaos! Warga Turun ke Jalan Kutuk Khamenei & Masjid Dibakar


Most Popular
Features