MARKET DATA

Bos Pengembang Ungkap Dampak Perang AS-Israel Vs Iran, Harga Rumah?

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
06 March 2026 13:20
Joko Suranto dalam Ngobrol Bareng Ketum DPP REI di Jakarta, Rabu (20/11/2024). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)
Foto: Joko Suranto dalam Ngobrol Bareng Ketum DPP REI di Jakarta, Rabu (20/11/2024). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga komoditas dan pelemahan nilai tukar rupiah dinilai belum memberi tekanan besar terhadap sektor properti nasional.

Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI) Joko Suranto mengatakan dampak utama konflik global terhadap sektor properti lebih banyak berasal dari kenaikan biaya logistik akibat harga energi yang meningkat.

"Kalau dampak yang awal adalah pasti kalau itu kaitannya dengan bahan bakar. Ketika itu kaitannya ini kan berarti naik dari sisi biaya logistik," kata Joko kepada CNBC Indonesia, Jumat (6/3/2026).

Meski demikian, ia memperkirakan kenaikan biaya logistik tersebut masih berada dalam batas yang dapat dikelola oleh pengembang. "Ketika kita berbicara biaya logistik, saya rasa kenaikannya nggak sampai 10%," ujarnya.

Menurut Joko, dampak kenaikan biaya logistik terhadap harga rumah juga tidak terlalu besar karena komponen transportasi hanya memengaruhi sebagian kecil dari total biaya pembangunan rumah.

Ia menjelaskan bahwa biaya pembangunan fisik biasanya hanya sekitar 35% dari total harga rumah. Dengan asumsi kenaikan biaya logistik 10%, dampak terhadap harga rumah hanya sekitar 3,5%.

"Kalau kita hitung dari biaya harga jual misalkan satu rumah itu kan 35% dari bangunan. Artinya yang naik kan 35% kali 10%, jadi taruhlah 35% plus 3,5%," jelasnya.

Selain itu, industri bahan bangunan di Indonesia juga dinilai cukup kuat sehingga ketergantungan terhadap impor relatif kecil.

Banyak pabrik material bangunan seperti semen, keramik hingga komponen konstruksi telah tersebar di berbagai wilayah yang berkembang sebagai kawasan properti baru.

"Kita masih punya kekayaan sumber daya alam dalam kaitannya material. Itu juga masih relatif support terhadap pertumbuhan ini," kata Joko.

Dengan kondisi tersebut, REI menilai sektor properti nasional masih memiliki ketahanan yang cukup kuat menghadapi gejolak eksternal.

"Selama fluktuasinya tidak sangat eksponensial, kita masih bisa mengelola risiko kenaikan itu masih terkelola juga," tutupnya.

(hoi/hoi) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bos BI Ramal Ekonomi Masih Dibayangi 'Hantu Ketidakpastian' di 2026


Most Popular
Features