MARKET DATA

Subsidi Bakal Bengkak Gegara Perang, Bahlil: Kita Hitung Hati-Hati

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
05 March 2026 11:50
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia (ESDM), Bahliul Lahadalia di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia (ESDM), Bahliul Lahadalia di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengakui bahwa memanasnya geopolitik di Timur Tengah berdampak pada harga energi dunia yang juga mempengaruhi subsidi energi di dalam negeri.

Harga minyak mentah dunia saat ini memang terus mengalami kenaikan, di atas angka asumsi yang ditetapkan dalam APBN 2026 senilai US$ 70 per barel. Mengutip Refinitiv, pada Kamis (5/3/2026), harga minyak Brent tembus US$ 83,82 per barel atau naik 3% dan WTI US$ 77,17 per barel naik 3,4%.

"Yang enggak bisa itu adalah memang ada terjadi kenaikan dan itu berdampak pada subsidi. Jadi sekarang kita lagi menghitung secara baik, dengan hati-hati," terang Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Kamis (5/3/2026).

Sebagai gambaran, naiknya harga minyak mentah dunia dipicu atas belum meredanya perang antara Iran dengan Israel bersama Amerika Serikat (AS). Konflik ini justru berimbas pada tutupnya urat nadi peredaran minyak dunia yakni Selat Hormuz atau Teluk Persia yang tercatat memiliki peredaran minyak hingga 20,1 juta barel per hari.

Indonesia termasuk salah satu negara yang terkena imbas dengan ditutupnya selat Hormuz itu. Maklum, sebagai negara Importir, 19% impor minyak secara nasional berasal dari Selat Hormuz tersebut.

Tapi, Bahlil meyakinkan bahwa ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) di Indonesia masih dalam kondisi aman. Pemerintah terus berusaha menyiapkan alternatif untuk memastikan komoditas itu tersedia untuk masyarakat.

"Kita tahu geopolitik tidak dalam kondisi yang baik-baik saja, tapi untuk kesiapan pemerintah dalam mendesain, mempersiapkan semua alternatif untuk ketersediaan BBM dan LPG, Insya Allah aman," terang ucap Bahlil.

Sebelumnya, Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron membenarkan, bahwa saat ini kargo minyak mentah yang berasal dari Timur Tengah mengangkut sekitar 19% dari nilai impor secara keseluruhan.

"Sekitar 19% dan saat ini kami sudah melaksanakan proses distribusi melalui sistem reguler alternatif maupun emergensi. Jadi untuk ketahanan energi nasional Pertamina telah menyampaikan sistem tersebut untuk bisa memenuhi kebutuhan nasional," terang Baron di Grha Pertamia, dikutip Rabu (4/3/2026).

Pertamina saat ini sedang melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan energi nasional.

"Jadi alternatif-alternatif yang sedang kita lakukan tentu dalam proses karena ini baru beberapa hari. Dan nanti kami akan update ke media untuk kesiapan proses alternatif tersebut," tegas Baron.

(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Realisasi Belanja Subsidi & Kompensasi Rp 192 T per 30 September 2025


Most Popular
Features