Harga Minyak Melejit, Prabowo Minta Hati-Hati Hitung Subsidi BBM
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan, bahwa PResiden RI Prabowo Subianto meminta supaya pihaknya hati-hati dalam menghitung subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Apalagi, saat ini harga minyak sedang mengalami kenaikan imbas ditutupnya Selat Hormuz, Iran.
Dalam catatan Bahlil, saat ini harga minyak mentah dunia sudah mencapai US$ 78 per barel di atas dari harga asumsi dalam APBN 2026 yang mencapai US$ 70 per barel.
"Ini harus hati-hati kepada kenaikan subsidi oleh negara. Kenaikan harga ICP negara ditambah pendapatan dari 600 ribu barel per hari produksi. Arahan Presiden harus hati-hati hitung memastikan BBM dalam negeri untuk memberikan kepastian ke masyarakat," ungkap Bahlil dalam Konfrensi Pers di Kantor Kementerian ESDM, Selasa (3/3/2026).
Berkaitan dengan tutupnya Selat Hormuz, Bahlil menerangkan, hal itu berdampak pada suplai energi global. Di mana, dalam pandangannya, Selat Hormuz dilewati sebanyak 20,1 juta barel per hari suplai minyak dunia.
"20,1 juta barel itu termasuk di dalamnya adadalah Indonesia melakukan crude impor dari middle east yang lewat Selat Hormuz. Namun dengan dinamika yang ada, ternyata dari situ 20-25% selebihnya kita ambil dari Afrika, Angola, Amerika, Brazil. Secara keseluruhan 20-25% dari Selat Hormuz selebihnya dari sana," terang Bahlil.
Nah, agar tidak terperangkap ke dalam dinamika global itu. Berdasarkan kajian, pihaknya akan mengambil alternatif lain yakni dengan mengalihkan impor dari Middle East ke Amerika Serikat (AS).
"Berdasarkan kajian kami, ada yang mengatakan 4 minggu (perang) tapi keyakinan kami ini tidak bisa diramal kapan selesai. Ini gak bisa diramal. Bisa cepat bisa lambat. Kami ambil alternatif terjelek, skenarionya sekarang, ini crude dari middle east sebagian dialihkan ambil dari Amerika supaya ada kepastian ketersediaan," tegas Bahlil.
(pgr/pgr) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]