Kupas Tuntas Potensi Minerba di 2026, Bisakah Topang Ekonomi RI?
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri mineral dan batubara (minerba) Indonesia berada pada persimpangan strategis di tengah fluktuasi harga komoditas global, tekanan transisi energi, serta meningkatnya tuntutan keberlanjutan.
Pemerintah pun terus mendorong penguatan tata kelola melalui kebijakan Bea Keluar, kewajiban penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) di dalam negeri, serta penyesuaian produksi untuk menjaga stabilitas pasar dan keberlanjutan cadangan nasional.
Di saat yang sama, percepatan hilirisasi mineral strategis yang meliputi komoditas nikel, tembaga, timah, hingga bauksit menjadi agenda kunci untuk memperkuat nilai tambah di dalam negeri dan memperkokoh posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Di tengah perubahan kebijakan dan dinamika pasar global tersebut, pelaku industri dihadapkan pada kebutuhan adaptasi yang cepat: menjaga kinerja bisnis, memastikan kepatuhan regulasi, mempercepat transformasi operasional yang berkelanjutan, serta mengamankan investasi jangka panjang untuk mendukung agenda hilirisasi.
Tantangan implementasi kebijakan Bea Keluar dan DHE, serta tuntutan penerapan standar Environmental Social Governance (ESG) sebagai prasyarat akses pendanaan global menjadi isu strategis yang perlu dibahas secara terbuka dan konstruktif oleh seluruh pemangku kepentingan.
Belum lagi, tahun ini para pelaku industri minerba dihadapkan oleh tantangan pemangkasan produksi batu bara dan nikel nasional dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Seperti yang diketahui, kuota produksi batu bara tahun 2026 ditetapkan sekitar 600 juta ton, atau berkurang sekitar 190 juta ton dibandingkan realisasi tahun 2025 yang mencapai 790 juta ton. Untuk bijih nikel, kuota produksi turun menjadi 250-260 juta ton dari RKAB 2025 sebesar 379 juta ton. Hal ini tentu menjadi perhatian serius bagi pelaku industri maupun pemangku kepentingan lainnya.
Dalam rangka memperdalam pembahasan tersebut, CNBC Indonesia dengan bangga menghadirkan Mining Forum 2026 dengan tema "Apa Kabar Industri Tambang RI?". Acara ini akan berlangsung pada 6 Maret 2026, pukul 15.30 - 17.55 WIB di Menara Bank Mega, Jakarta.
Mining Forum 2026 menjadi ruang diskusi strategis yang mempertemukan regulator, pembuat kebijakan, pemimpin industri, serta pemangku kepentingan terkait. Forum ini bertujuan menggali solusi atas tantangan kebijakan dan pasar global, mengidentifikasi peluang transformasi industri mineral dan batubara, serta merumuskan strategi kolaboratif untuk memperkuat hilirisasi dan tata kelola pertambangan nasional.
Rencananya, acara tersebut akan dihadiri sejumlah aktor penting di industri minerba. Selanjutnya, sesi diskusi akan diisi oleh Tri Winarno - Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Bambang Patijaya - Ketua Komisi XII DPR RI, Irwandy Arif - Chairman Indonesia Mining Institute, Gita Mahyarani - Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Ahmad Kharis - Wakil Ketuan Umum I ASPINDO, dan Rachmat Makkasau - Ketua Indonesia Mining Association (IMA).
Pantau terus cnbcindonesia.com dan CNBC Indonesia TV untuk update informasi seputar ekonomi dan bisnis.
(dpu/dpu) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]