Internasional

Iran Makin Mencekam! Update Terkini Korban Jiwa-Warga Sipil Berjatuhan

Tommy Patrio Sorongan, CNBC Indonesia
Selasa, 03/03/2026 16:00 WIB
Foto: (via REUTERS/Majid Asgaripour)

Jakarta, CNBC Indonesia - Eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran dilaporkan telah memakan korban jiwa dalam jumlah yang sangat besar sejak pecah pada akhir pekan lalu. Kelompok hak asasi manusia melaporkan bahwa sudah ribuan korban tewas dalam serangan Washington dan Tel Aviv ke Negeri Persia itu sejak Sabtu (28/2/2026).

Lembaga Bulan Sabit Merah Iran memberikan pernyataan awal bahwa setidaknya 555 orang telah tewas di seluruh negeri. Namun, data terbaru dari kelompok hak asasi manusia Hengaw yang berbasis di Norwegia menunjukkan angka yang jauh lebih mengerikan, di mana total kematian pada hari ketiga telah mencapai sedikitnya 1.500 orang, yang terdiri dari 200 warga sipil dan 1.300 anggota pasukan keamanan Iran.

Hengaw menyatakan keprihatinan mendalam atas melonjaknya angka kematian warga sipil, terutama di Provinsi Hormozgan, Iran Selatan. Hal ini menyusul serangan rudal yang menghantam sebuah sekolah dasar anak perempuan di Minab pada akhir pekan kemarin yang dilaporkan menewaskan lebih dari 150 orang, termasuk anak-anak.


Bersamaan dengan rentetan serangan gabungan AS-Israel yang terus menggempur beberapa kota besar, penduduk di dalam Iran melaporkan adanya gelombang peringatan dan pesan singkat dari otoritas keamanan melalui ponsel mereka.

Di Kota Sanandaj, Kurdistan Iran, warga menerima pesan dari organisasi intelijen Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang memperingatkan bahwa setiap pergerakan publik atau kehadiran di jalanan akan dianggap sebagai bentuk kerja sama langsung dengan musuh.

Pihak berwenang Iran dalam pesan tersebut menyatakan bahwa langkah tegas ini diambil untuk mencegah aksi teroris dan kerusuhan jalanan. Mereka menggambarkan potensi pergerakan massa sebagai langkah lanjutan dari rencana musuh untuk mengacaukan stabilitas negara di tengah invasi.

Kondisi di ibu kota Teheran dilaporkan sangat mencekam dengan pemadaman internet yang hampir total. Seorang mahasiswa di Tehran mengungkapkan bahwa rezim kembali memutus akses internet saat warga berusaha saling terhubung untuk mencari cara melemahkan rezim dan membalas dendam atas kematian rekan-rekan mereka.

"Teheran dibom dengan sangat hebat, tidak mungkin mengetahui kapan, di mana, dan bagaimana kami bisa memprotes dan memobilisasi massa karena jalanan berubah menjadi berbahaya dengan cepat. Kami tidak tahu di mana tempat persembunyian IRGC dan itu merupakan risiko besar bagi kami orang biasa," ujar mahasiswa tersebut kepada The Guardian.

Ketakutan serupa dirasakan oleh warga di wilayah Kurdistan yang merasa terjebak di tengah gencatan senjata dan intimidasi aparat. Seorang mahasiswa Kurdi menyampaikan pesan melalui kerabatnya di luar negeri bahwa peringatan dari rezim bertujuan untuk memastikan warga tetap berada di lokasi serangan agar pemerintah bisa menyalahkan pihak asing.

"Dengan adanya peringatan ini, bahkan jika kami berencana untuk melarikan diri dari pengeboman, agen rezim akan menangkap kami dan menjatuhkan tuduhan teror. Seluruh poin dari peringatan ini adalah untuk memastikan kami terjebak sehingga mereka dapat menyalahkan Trump dan kawan-kawan, serta mempersenjatai serangan di lingkungan yang berdekatan dengan pangkalan IRGC. Kami sangat mengenal rezim ini dan taktiknya tidak berubah," tulis mahasiswa Kurdi tersebut.

Selain jatuhnya korban jiwa, infrastruktur sipil juga mulai lumpuh total akibat serangan udara. Warga di Kota Mahabad melaporkan bahwa aliran listrik telah diputus sepenuhnya sejak Senin setelah jet tempur AS-Israel menghantam wilayah tersebut. Sementara itu di Kota Urmia, para narapidana di penjara lokal terpaksa menempelkan lakban pada jendela sel untuk meredam suara ledakan dahsyat yang terjadi di sekitar kompleks penjara.

Kritik tajam juga datang dari Hiwa Bahrami, Kepala Departemen Hubungan Luar Negeri Partai Demokrat Kurdistan Iran. Ia menuduh pemerintah Iran sengaja menempatkan pangkalan militer di tengah pemukiman warga untuk menjadikan penduduk sebagai tameng hidup.

"Rezim telah dengan sengaja mendirikan pangkalan militer dan mengerahkan pasukannya di dalam wilayah padat penduduk, menempatkan warga sipil pada risiko yang signifikan di banyak daerah, termasuk Kurdistan Iran," kata Hiwa Bahrami dalam pernyataannya.

Kekhawatiran akan keselamatan nyawa kini membuat warga Tehran berbondong-bondong melarikan diri ke kota-kota kecil seiring meningkatnya intensitas serangan. Matin, seorang mantan jurnalis di Tehran, mengaku sangat ketakutan melihat gumpalan asap hitam yang menyelimuti langit ibu kota dan tumpukan puing bangunan akibat ledakan yang terus-menerus terjadi.

"Lihat, kami ingin kebebasan dan kami ingin IRGC membayar setiap tetes darah yang telah dikorbankan keluarga kami untuk perjuangan ini. Namun sejak pagi ini, video yang saya lihat menghancurkan hati saya. Siapa yang akan mengembalikan mereka yang mati di tangan bom-bom yang datang? Saya menyalahkan rezim karena membawa kami ke titik ini, tapi bukan berarti saya tidak takut serangan AS akan membunuh orang tidak berdosa. Melihat kota tercinta dalam keadaan seperti ini bukanlah sesuatu yang bisa saya rayakan. Saya sangat khawatir pada anak-anak di negara ini," ungkap Matin.

Senada dengan Matin, seorang pembuat film di Tehran bernama Zhila menyatakan bahwa masa depan generasi muda Iran telah hancur oleh sanksi dan kebijakan rezim yang melumpuhkan ekonomi. Meski menentang perang, ia merasa rakyat Iran kini berada dalam posisi yang sangat sulit dan dilematis.

"Kaum muda kami tidak memiliki masa depan di negara ini, sanksi dan setiap pembatasan lain yang melumpuhkan ekonomi adalah perbuatan rezim karena mereka terus menjadi kaya. Meskipun demikian, saya tetap berharap kita bisa menjatuhkan rezim ini. Kami telah mencoba segalanya, jadi meskipun saya menentang perang ini, saya tidak percaya kami punya pilihan selain mencari bantuan. Berapa banyak yang mati adalah sesuatu yang membunuh saya di dalam, tetapi juga berapa banyak yang dibunuh oleh rezim masih segar di ingatan kami. Kami telah menjadi sangat mati rasa setelah apa yang kami lihat di bulan Januari," tutur Zhila.

Hingga saat ini, pertempuran masih terus berlangsung dan jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah seiring belum adanya tanda-tanda gencatan senjata dari kedua belah pihak.


(tps/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Duka Minab Anak-Anak Korban Serangan Dimakamkan