Pemerintah Klaim Harga Pangan Masih Aman Saat Ramadan
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 0,68% pada bulan Februari 2026. Inflasi ini didorong oleh lonjakan harga pangan di momen Ramadan. Adapun, secara tahun kalender, inflasi kalender sebesar 0,53%.
Sepanjang tahun, inflasi Februari 2026 tercatat sebesar 4,76% (yoy).
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu mengatakan meningkatnya inflasi Februari 2026 utamanya dipengaruhi oleh kebijakan diskon listrik pada awal tahun 2025. Sehingga secara tahunan, inflasi periode ini terlihat lebih tinggi.
"Dengan mengeluarkan dampak diskon listrik di awal tahun 2025, inflasi Februari 2026 diperkirakan 2,59%," ujar Febrio dalam keterangan resminya dikutip Senin (2/3/2026).
Berdasarkan komponennya, inflasi harga diatur Pemerintah pada Februari 2026 mencapai 12,66% (yoy). Sementara itu, harga pangan bergejolak mencapai 4,64%, dipicu gangguan cuaca dan tekanan permintaan menjelang bulan Ramadan.
Sementara inflasi beras berada di level 3,5%. adapun beberapa komoditas pangan lain seperti gula pasir, cabe rawit, bawang putih dan cabe merah mengalami deflasi. Inflasi inti tercatat 2,63% (yoy), utamanya didorong oleh peningkatan harga emas perhiasan 72,95% (yoy). "Dengan mengeluarkan dampak emas, inflasi inti Februari 2026 diperkirakan sebesar 1,4%,"ujarnya.
Febrio menilai, tekanan harga tetap terkendali dan diperkirakan akan kembali normal mulai Maret 2026.
"Pemerintah berkomitmen memastikan harga pangan tetap terjangkau selama periode Ramadan dan Idulfitri melalui penguatan pasokan, kelancaran distribusi, serta pengawasan harga, antara lain melalui program Gerakan Pangan Murah dan fasilitasi distribusi antar daerah," ujarnya.
(mij/mij) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]