Harga BBM Bakal Naik Efek Perang AS-Iran? Ini Kata Airlangga

Zahwa Madjid, CNBC Indonesia
Senin, 02/03/2026 17:00 WIB
Foto: Suasana salah satu SPBU Pertamina di Jakarta, Senin (1/12/2025). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah mewanti-wanti harga bahan bakar minyak (BBM) berpotensi naik imbas perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran sejak akhir pekan lalu.

Sebagaimana diketahui, perang yang terjadi di kawasan produsen utama minyak mentah dunia itu telah mempengaruhi harga-harga energi. Harga minyak mentah dunia tercatat telah mengalami kenaikan signifikan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, sebagai negara yang memiliki status net importir minyak mentah, maka gejolak harga minyak dunia akan langsung mempengaruhi harga BBM di dalam negeri.


"Otomatis akan naik sama seperti saat perang Ukraina kan naik," kata Airlangga di kantornya, Jakarta, Senin (2/3/2026).

Meski begitu, Airlangga memastikan, harga BBM di tanah air tidak akan mengalami kenaikan siginfikan dalam waktu dekat. Sebab, pasokan minyak mentah dunia masih sangat mencukupi.

"Tetapi kan kali ini supply dari Amerika juga akan meningkat dan OPEC juga meningkatkan kapasitasnya," ujar Airlangga.

"Jadi nanti kita monitor dulu," tegasnya.

Sebagai informasi, berdasarkan data Refinitiv pada Senin (2/3/2026) pukul 10.00 WIB, harga minyak Brent tercatat US$ 76,43 per barel, sedangkan WTI berada di level US$70,05 per barel.

Posisi ini menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan penutupan Jumat (27/2/2026) ketika Brent masih berada di US$72,48 per barel dan WTI di US$67,02 per barel.

Kenaikan harga ini pun menurut para pakar masih akan terjadi pada masa mendatang, mengingat Iran juga telah memutuskan untuk menutup salah satu jalur utama perdagangan dunia, yakni Selat Hormuz.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira memproyeksikan harga minyak mentah dunia berpotensi tembus di level US$100 hingga US$120 per barel.

"Selat Hormuz yang terganggu akan mempengaruhi 20% pasokan minyak dunia," ujar Bhima kepada CNBC Indonesia, Senin (2/3/2026).

Menurut Bhima, situasi diperburuk oleh meningkatnya risiko keamanan di kawasan konflik, termasuk penolakan pengajuan asuransi bagi kapal-kapal logistik yang melintasi area tersebut. Hal ini berpotensi menghambat distribusi dan mempersulit proses impor minyak bagi banyak negara, termasuk Indonesia.

Sebagai negara net importir minyak, Indonesia juga ia anggap akan menghadapi konsekuensi fiskal yang signifikan. Dalam simulasi APBN 2026, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel di atas asumsi APBN dapat menambah beban belanja negara sekitar Rp10,3 triliun

Artinya jika minyak tembus US$100 hingga US$120 per barel maka belanja negara bisa naik hingga Rp515 triliun pada 2026. Bukan hanya beban subsidi BBM, tapi juga kompensasi ke Pertamina, dan beban subsidi listrik.

"Ada beban ganda langsung ke APBN. Kondisi diperburuk oleh kekhawatiran flight to quality dari investor menyebabkan pelemahan rupiah," kata Bhima.

Di sisi lain, ia juga mengatakan sektor pangan rentan terdampak, terutama yang sensitif terhadap fluktuasi kurs dan gangguan rantai impor, seperti kedelai, gandum, daging. Imported inflation dari minyak dan pangan akan menciptakan downward spiral ke daya beli masyarakat.

"Masyarakat jelas tidak siap harga BBM dan inflasi volatile food naik berlebihan. Jika konflik berlanjut dan meluas bahkan banyak negara berkembang jatuh pada krisis ekonomi," kata dia.

Terpisah, Praktisi minyak dan gas bumi (migas) yang juga merupakan Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC) Hadi Ismoyo menilai konflik terbaru di Timur Tengah jauh lebih serius dibandingkan ketegangan sebelumnya.

Menurutnya, gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran yakni Ayatollah Ali Khamenei menjadi titik balik eskalasi yang semakin meluas, termasuk dengan ditutupnya Selat Hormuz.

"Artinya 20% pasokan minyak dunia akan hilang, dan pasokan 30% LNG dunia akan hilang dari pasar. Harga komoditas minyak dan LNG akan naik dengan signifikan," katanya.

Ia pun memproyeksikan kondisi ke depan akan semakin memburuk. Mengingat Imam Khamenei bukan hanya Pemimpin Tertinggi Negara yang menentukan kebijakan strategis, namun juga Pemimpin Tinggi di jajaran Ulama Syiah yang sangat dicintai pengikutnya.

"Dan ini akan membangkitkan dendam bersayap seperti wafatnya Imam Husein di Padang Karbala dengan cara US dan Israel membunuhnya dengan cara kejam," ujarnya.


(arj/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: OPEC+ Siap Tingkatkan Produksi di Tengah Ketegangan AS-Iran