Krisis Perang AS-Iran Menghantam Asia, Begini Langkah RI Cs
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah di seluruh kawasan Asia kini sedang berjuang keras mencari alternatif energi guna melindungi perekonomian mereka dari dampak terburuk krisis energi yang dipicu oleh perang Iran. Namun, upaya penyelamatan ini memakan biaya yang sangat mahal dan mulai membebani anggaran negara-negara importir minyak terbesar di dunia tersebut.
Mengutip laporan Reuters pada Selasa, (05/05/2026), gangguan pasokan akibat konflik ini memicu Bank Pembangunan Asia (ADB) untuk memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi bagi negara berkembang di Asia dan Pasifik menjadi 4,7% tahun ini. Selain itu, ADB juga menaikkan prospek inflasi di kawasan tersebut menjadi 5,2% untuk periode tahun ini.
Data Kpler menunjukkan bahwa keseluruhan impor minyak ke Asia, yang mengandalkan 85% pengiriman minyak mentah dari Teluk, merosot tajam hingga 30% pada bulan April dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ke level terendah sejak Oktober 2015 ini terjadi setelah dua bulan penutupan hampir total Selat Hormuz, yang merupakan jalur kunci bagi seperlima pasokan minyak dan gas global.
Tekanan fiskal semakin meningkat di seluruh kawasan, terutama di Asia Selatan, karena pemerintah harus menggelontorkan dana miliaran dolar AS untuk subsidi dan penghapusan bea masuk demi mengompensasi kenaikan harga. Sektor pengilangan di India, misalnya, harus menanggung rugi sekitar 100 rupee atau setara US$ 1,06 (Rp 18.288) per liter untuk diesel demi menjaga harga tetap stabil di masyarakat.
Hanna Luchnikava-Schorsch dari S&P Global Market Intelligence memberikan penjelasan terkait langkah darurat yang diambil oleh negara-negara di kawasan Asia.
"Garis pertahanan pertama adalah pemerintah memutuskan untuk menyerap guncangan awal dengan memberikan subsidi atau memotong cukai pada produk bahan bakar," kata Luchnikava-Schorsch.
Beberapa negara telah bergerak membatasi penggunaan bahan bakar atau menindak tegas penimbunan, sementara sebagian lainnya mulai membatasi ekspor. China, sebagai importir minyak terbesar di dunia, mencoba melindungi dirinya dengan cadangan yang besar dan rantai pasokan energi yang beragam, meskipun Beijing tetap memberikan pengecualian ekspor untuk beberapa pembeli regional.
Meskipun pemerintah di Asia terus menguras sumber daya fiskal, cadangan devisa, dan stok minyak, Goldman Sachs mencatat bahwa dampak ekonomi perang ini belum seburuk yang dikhawatirkan. Namun, lembaga tersebut tetap memangkas proyeksi pertumbuhan 2026 untuk Jepang dan beberapa negara Asia Tenggara.
Analis Goldman Sachs dalam catatannya mempertanyakan ketahanan ekonomi yang terjadi saat ini di tengah menipisnya stok cadangan.
"Seberapa banyak ketahanan yang terlihat sejauh ini mencerminkan faktor struktural dibandingkan penurunan stok penyangga yang tidak berkelanjutan?" tulis analis tersebut.
Mata uang pasar berkembang di Asia juga mengalami tekanan hebat terhadap dolar AS, di mana peso, rupee, dan rupiah semuanya mencetak rekor terendah baru. Sejak perang dimulai akhir Februari, rupiah tercatat telah melemah lebih dari 2,5%, sementara peso Filipina anjlok lebih dari 5%.
Ekonomi Asia Selatan seperti Pakistan, Bangladesh, dan Sri Lanka disebut sebagai yang paling rentan terhadap beban krisis ini. Pakistan bahkan harus membayar sekitar US$ 18,88 per juta unit termal Inggris untuk satu kargo LNG, atau kira-kira US$ 30 juta (Rp 517,59 miliar) lebih mahal dari harga pasar sebelum perang.
Hanna Luchnikava-Schorsch kembali menekankan kerentanan negara-negara tersebut dalam menghadapi lonjakan harga energi dunia.
"Negara-negara ini menggunakan lebih banyak sumber daya mereka untuk mensubsidi perusahaan energi publik domestik dan pada dasarnya melindungi konsumen akhir dari guncangan harga energi. Ini juga merupakan negara-negara yang memiliki penyangga fiskal paling tipis," tambah Luchnikava-Schorsch.
Di sisi lain, Indonesia sebagai produsen energi telah menginstruksikan para operator untuk memprioritaskan pasar domestik dibandingkan ekspor dan menghentikan pengiriman LNG yang tidak terikat kontrak. Ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini juga mulai melirik Afrika dan Amerika Latin untuk menggantikan minyak Timur Tengah, serta berencana membeli 150 juta barel dari Rusia hingga akhir tahun.
Jepang, yang membeli 95% minyaknya dari Timur Tengah, terpaksa meningkatkan pembelian minyak dari AS dengan harga pasar spot yang melonjak serta biaya pengiriman yang jauh lebih mahal. Sebagai langkah darurat, pada hari Jumat, Jepang mulai melepas 36 juta barel minyak mentah dari cadangan nasionalnya untuk menjaga stabilitas pasokan dalam negeri.
(tps/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]