Pakar: Perang AS-Israel vs Iran Berpotensi Panjang, RI Diminta Waspada
Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran dinilai berpotensi berlangsung lama dan memicu dampak ekonomi global yang serius. Sejumlah pakar kebijakan luar negeri Indonesia mulai bersuara terkait situasi ini.
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, menilai eskalasi konflik justru menguat setelah meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Menurutnya, pemimpin pengganti yang lebih militan memandang Khamenei sebagai martir, sehingga memilih garis keras.
"Ini yang tidak diharapkan oleh Donald Trump. Trump berharap seperti di Venezuela, setelah pemimpinnya dicokok, penggantinya mau berdamai dan tunduk. Tapi yang terjadi sebaliknya, sehingga perang berpotensi berlangsung lama," kata Hikmahanto kepada CNBC Indonesia, Senin (2/3/2026).
Ia menjelaskan serangan berbalik terjadi karena Iran membalas ke negara-negara Timur Tengah yang memiliki pangkalan militer AS, yang digunakan untuk menyerang Iran. Namun, sebagian rudal meleset dan mengenai instalasi sipil seperti bandara dan gedung.
"Ini diterjemahkan oleh negara-negara Teluk sebagai serangan Iran terhadap mereka, sehingga saat ini mereka bersiap menyerang Iran," ujarnya.
Menurut Hikmahanto, strategi Indonesia saat ini seharusnya difokuskan pada antisipasi dampak jika perang berlarut-larut, terutama kemungkinan penutupan Selat Hormuz.
"Kalau Selat Hormuz ditutup, dampaknya adalah perlambatan perekonomian dunia yang berimbas pada ekonomi nasional dan mendorong inflasi," katanya.
Ia juga menyinggung implikasi politik di AS, dengan menilai konflik ini. Apakah bisa dimanfaatkan Trump di dalam negeri.
"Isu perang ini akan menentukan apakah ada upaya pemakzulan, karena ada keharusan pemerintah berkonsultasi dengan Kongres bila akan berperang," ujarnya.
Pandangan senada disampaikan Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI sekaligus Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal. Ia menyebut dunia terkejut dengan serangan AS dan Israel terhadap Iran, terlebih karena terjadi di bulan Ramadan.
"Ini menunjukkan ketidakpekaan terhadap suasana batin dunia Islam," kata Dino.
Dino menilai tujuan serangan kali ini bukan sekadar menghentikan kapasitas nuklir Iran, melainkan menumbangkan pemerintah di Teheran. Menurutnya, berbagai instrumen, mulai dari aksi militer, oposisi politik, mobilisasi massa hingga operasi intelijen, akan dikerahkan untuk tujuan tersebut, sementara Iran juga tidak akan tinggal diam.
"Iran berbeda dengan Venezuela karena memiliki jaringan politik dan militer yang signifikan di Timur Tengah. Perang ini hampir pasti akan menyeret pihak-pihak lain dan menyebarkan guncangan ke luar wilayah Iran," ujarnya.
Ia menegaskan, sekalipun pemerintah Iran tumbang, hal itu tidak otomatis membenarkan aksi militer yang dilakukan AS dan Israel. Dino juga menyinggung potensi perang dunia ke-3 (PD III).
"Jika intervensi ugal-ugalan seperti ini dibenarkan, dunia bisa terjerumus ke perang dunia ketiga," katanya.
Dino juga menekankan bahwa dalam konflik ini Iran adalah pihak yang diserang, bukan penyerang. Gagalnya perundingan tidak memberi pembenaran bagi Amerika Serikat untuk menyerang Iran, apalagi ujarnya, mediator seperti Oman menyebut ada kemajuan signifikan dalam perundingan.
Terkait sikap Indonesia sebagai mediator, menilai langkah itu tidak realistis karena AS jarang mau dimediasi pihak ketiga dan hubungan Indonesia-Iran saat ini belum cukup dekat. Ia juga menilai mediasi akan mensyaratkan pertemuan dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang dinilainya mustahil secara politik dan berisiko besar di dalam negeri.
"Yang paling penting bagi Indonesia bukan mencari peran sebagai juru damai dalam konflik ini karena tidak realistis, tetapi menegaskan posisi secara jelas dan tegas. Serangan Israel dan AS terhadap Iran bertentangan dengan prinsip hukum internasional dan dengan nilai-nilai yang selama ini disampaikan Indonesia," kata Dino.
"Berbeda pendapat dengan Amerika Serikat tidak berarti bermusuhan, dan bermitra juga tidak berarti tunduk," pungkasnya menyinggung bebas aktif.
source on Google [Gambas:Video CNBC]