Internasional

Media AS Sebut Arab Saudi Diam-Diam Lobi Trump agar Serang Iran

luc, CNBC Indonesia
Senin, 02/03/2026 15:30 WIB
Foto: REUTERS/Tom Brenner
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan udara besar-besaran Amerika Serikat ke Iran pada Sabtu (1/3/2026) dalam operasi "Epic Fury" yang diperintahkan Presiden Donald Trump untuk menggempur kepemimpinan dan instalasi militer Teheran disebut-sebut mendapat dorongan intens dari dua sekutu Washington di Timur Tengah, Israel dan Arab Saudi.

Menurut empat sumber yang mengetahui pembahasan internal tersebut, sebagaimana dilansir The Washington Post, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman sama-sama mendorong Trump agar mengambil langkah militer terhadap Iran.

Serangan itu pada jam pertama dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sejumlah pejabat senior lainnya, dalam operasi gabungan Israel dan AS untuk mengakhiri hampir empat dekade kekuasaannya.


Lobi Senyap Riyadh dan Kampanye Terbuka Israel

Empat sumber tersebut menyebut Pangeran MBS melakukan beberapa panggilan telepon pribadi kepada Trump dalam sebulan terakhir untuk mengadvokasi serangan AS, meskipun secara terbuka ia menyatakan mendukung solusi diplomatik.

Sementara itu, Netanyahu melanjutkan kampanye publiknya yang telah lama berlangsung untuk mendorong serangan AS terhadap Iran, yang ia pandang sebagai ancaman eksistensial bagi Israel.

Upaya gabungan keduanya disebut membantu meyakinkan Trump untuk memerintahkan kampanye udara besar-besaran terhadap kepemimpinan dan militer Iran. Keputusan itu diambil meskipun penilaian intelijen AS sebelumnya menyebut pasukan Iran kecil kemungkinannya menjadi ancaman langsung terhadap daratan utama AS dalam satu dekade ke depan.

Serangan ini pun menandai penyimpangan besar dari kebijakan puluhan tahun Washington yang menahan diri untuk tidak melakukan upaya penuh menggulingkan pemerintahan negara berpenduduk lebih dari 90 juta jiwa tersebut. Langkah itu juga berbeda tajam dari operasi militer Trump sebelumnya yang jauh lebih terbatas.

"Tidak ada presiden yang bersedia melakukan apa yang saya bersedia lakukan malam ini," kata Trump kepada rakyat Iran dalam pidato video saat bom-bom AS menghantam berbagai target di Iran.

"Sekarang Anda memiliki presiden yang memberi Anda apa yang Anda inginkan, jadi mari kita lihat bagaimana Anda meresponsnya."

Diplomasi yang Gagal

Dorongan Saudi agar AS menyerang terjadi saat utusan presiden Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner, sedang menjalankan negosiasi dengan pejabat Iran terkait program nuklir dan rudal negara tersebut.

Di tengah proses itu, Riyadh sempat mengeluarkan pernyataan, setelah percakapan telepon antara MBS dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, bahwa Arab Saudi tidak akan mengizinkan wilayah udara atau teritorinya digunakan untuk menyerang Iran.

Namun dalam pembicaraan tertutup dengan pejabat AS, pemimpin Saudi memperingatkan bahwa Iran akan keluar lebih kuat dan lebih berbahaya jika AS tidak menyerang sekarang, setelah mengerahkan kehadiran militer terbesar di Timur Tengah sejak invasi Irak 2003, menurut sumber-sumber tersebut.

Posisi itu diperkuat oleh saudaranya, Menteri Pertahanan Saudi Khalid bin Salman, yang pada Januari mengadakan pertemuan tertutup dengan pejabat AS di Washington dan memperingatkan risiko jika serangan tidak dilakukan.

Sikap Riyadh yang tampak rumit kemungkinan mencerminkan keinginannya menghindari pembalasan Iran terhadap infrastruktur minyak Saudi yang rentan, sekaligus memandang Teheran sebagai musuh utama di kawasan. Adapun rivalitas panjang antara Iran yang didominasi Syiah dan Arab Saudi yang dipimpin Sunni telah memicu berbagai perang proksi di Timur Tengah.

Setelah serangan awal AS pada Sabtu, Iran memang membalas dengan menyerang Arab Saudi. Riyadh merespons dengan pernyataan keras yang mengecam serangan tersebut dan menyerukan komunitas internasional untuk "mengambil semua tindakan yang diperlukan dan tegas" menghadapi Iran.

Seorang pejabat Saudi menyatakan bahwa Riyadh telah "konsisten dalam mendukung upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan yang kredibel dengan Iran. Sepanjang komunikasi kami dengan pemerintahan Trump, kami tidak pernah melobi presiden untuk mengadopsi kebijakan yang berbeda."

Frustrasi Trump dan Eskalasi Cepat

Kontak terakhir Witkoff dan Kushner dengan pejabat Iran terjadi di Jenewa pada Kamis, pertemuan tingkat tinggi ketiga sejak awal Februari. Seorang pejabat senior pemerintahan Trump mengatakan mereka meninggalkan pembicaraan dengan keyakinan bahwa Teheran mempermainkan isu kebutuhan pengayaan nuklir.

"Sangat jelas bahwa tujuan mereka adalah untuk mempertahankan kemampuan mereka melakukan pengayaan uranium sehingga, seiring waktu, mereka dapat menggunakannya untuk membuat bom nuklir," ujar pejabat tersebut.

Pada Jumat sore, saat tiba di Corpus Christi, Texas, untuk kampanye menjelang pemilihan pendahuluan, retorika Trump meningkat. Ia berulang kali menyatakan dirinya "tidak senang" dengan negosiator Iran.

"Saat ini aku sedang sibuk dengan banyak hal," katanya kepada massa pendukung. "Kita harus membuat keputusan besar, Anda tahu itu. Tidak mudah, tidak mudah. Kita harus membuat keputusan yang sangat besar."

Ia kemudian terbang ke Palm Beach dan menghadiri acara di resor Mar-a-Lago sebelum merekam pidato pengumuman serangan.

Meskipun pengerahan besar pasukan AS dalam dua bulan terakhir telah memberi sinyal kemungkinan aksi militer, rekam jejak Trump sebelumnya tidak menunjukkan ia akan memilih perang pilihan di Timur Tengah dengan tujuan perubahan rezim.

Dalam menjelaskan keputusannya, Trump merujuk kembali ke Revolusi Iran 1979. Ia menyebut serangan AS sebagai balasan atas puluhan tahun konflik, termasuk penyanderaan 52 warga Amerika pada 1979, tewasnya 241 prajurit AS dalam pemboman barak Beirut 1983 oleh Hizbullah yang didukung Iran, serta serangan 2000 terhadap USS Cole yang menurutnya Iran "kemungkinan" terlibat, meski AS lama mengaitkannya dengan al-Qaeda.

Trump juga menyebut adanya "ancaman yang akan segera terjadi dari rezim Iran" dan menuduh Teheran terus mengembangkan senjata nuklir serta rudal jarak jauh yang "akan segera mencapai tanah air Amerika."

Namun kedua klaim tersebut dipertanyakan. Trump sebelumnya menyatakan AS telah "melenyapkan" program nuklir Iran pada musim panas lalu. Badan Energi Atom Internasional menyebut tidak ada bukti Iran memulai kembali pengayaan uranium atau memiliki rencana aktif membangun bom.

Penilaian Badan Intelijen Pertahanan AS tahun lalu juga tidak menemukan indikasi pengembangan rudal balistik antarbenua (ICBM) dam jika diputuskan untuk kembali dikembangkan, Iran diperkirakan memerlukan waktu satu dekade.

Trump juga menyerukan rakyat Iran untuk "mengambil alih" pemerintah mereka dan menjanjikan "imunitas penuh" bagi aparat keamanan yang bergabung, tanpa menjelaskan mekanismenya.

Perdebatan di Washington

Wakil Presiden JD Vance menyaksikan operasi militer dari Situation Room Gedung Putih, terhubung dengan Trump dan tim keamanan nasional yang memantau dari Mar-a-Lago. Ia didampingi Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard, Menteri Energi Chris Wright, dan Menteri Keuangan Scott Bessent.

Vance sebelumnya mengatakan kepada The Washington Post bahwa ia tetap seorang "skeptis" terhadap intervensi militer asing dan menyatakan tidak ada peluang operasi di Iran akan berkembang menjadi perang berkepanjangan.

Partai Demokrat mendesak Trump menjelaskan dasar keputusannya. "Apa ancaman nyata yang dihadapi Amerika?" kata Senator Mark R. Warner, Demokrat senior di Komite Intelijen Senat. "Saya tidak tahu jawabannya."

Warner, yang mengikuti pengarahan rahasia bersama Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Direktur CIA John Ratcliffe, mengatakan ia tidak melihat ancaman yang "benar-benar layak untuk menempatkan pasukan kita dalam bahaya."

Dalam pengarahan kepada "Gang of Eight", Rubio disebut menyampaikan bahwa waktu dan tujuan misi dipengaruhi oleh fakta bahwa Israel akan menyerang dengan atau tanpa AS.

"Jadi, satu-satunya perdebatan yang tampaknya tersisa adalah apakah AS akan melancarkan serangan bersamaan dengan Israel atau apakah AS akan menunggu sampai Iran membalas serangan terhadap target militer AS di kawasan tersebut dan kemudian terlibat," kata seorang sumber.

Langkah Selanjutnya

Trump kini menyatakan berharap aparat keamanan Iran "akan bergabung secara damai dengan Patriot Iran, dan bekerja sama sebagai satu kesatuan untuk mengembalikan negara ini ke kejayaan yang layak didapatkan." Pada Januari, aparat tersebut disebut menewaskan ribuan demonstran.

"Namun, pemboman besar-besaran dan tepat sasaran akan terus berlanjut tanpa henti sepanjang minggu ini, atau selama diperlukan untuk mencapai tujuan kita yaitu PERDAMAIAN DI SELURUH TIMUR TENGAH DAN, BAHKAN, DI SELURUH DUNIA!" tegas Trump.

Pertanyaan besar kini adalah apakah serangan udara dan rudal dapat mewujudkan ambisi Trump yang makin luas, mulai dari pemerintahan baru yang bersahabat dengan AS di Iran dan Venezuela, hingga mengakhiri operasi militan dukungan Iran di Yaman serta mengalahkan kelompok teroris di Nigeria dan Somalia.

"Sejarah tidak berpihak pada upaya untuk mengubah dan merestrukturisasi secara fundamental politik internal suatu negara hanya dengan menggunakan kekuatan udara," tutur Aaron David Miller, mantan diplomat AS yang menangani isu Timur Tengah di pemerintahan Republik dan Demokrat.

"Ini sangat mirip dengan gaya Trump, dalam artian dia mencoba mencari jalan tengah antara terjebak dalam konflik tanpa akhir yang akan merusak ekonomi Amerika dan merenggut nyawa warga Amerika, di satu sisi, dan di sisi lain mengerahkan kekuatan militer Amerika dalam semacam operasi untung-untungan," ujarnya.

 


(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump Kumpulkan 'Dewa Perang' Israel-Saudi, Mau Serang Iran?