Trump Gigit Jari, Menlu Oman Tegas Bilang Iran Tak Punya Bom Nuklir
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Luar Negeri Oman Badr bin Hamad Al Busaidi mengungkap adanya terobosan penting dalam pembicaraan tidak langsung soal nuklir baru antara Amerika Serikat dan Iran. Itu termasuk komitmen Iran untuk tidak lagi menimbun uranium yang diperkaya.
Badr bin Hamad Al Busaidi menyebut hasil negosiasi terbaru sebagai kemajuan besar. Dalam wawancara dengan CBS News di Washington DC, ia mengatakan kesepakatan damai kini dalam jangkauan jika diplomasi diberi ruang untuk bekerja.
"Jika tujuan utamanya adalah untuk memastikan selamanya bahwa Iran tidak dapat memiliki bom nuklir, saya pikir kita telah memecahkan masalah itu melalui negosiasi ini dengan menyepakati terobosan yang sangat penting yang belum pernah dicapai sebelumnya," kata Al Busaidi dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (28/2/2026).
Ia menegaskan, kini yang dibahas adalah kebijakan "nol penimbunan" uranium yang diperkaya. Artinya, Iran tidak akan menyimpan stok material yang berpotensi digunakan untuk membuat senjata nuklir. Tanpa penimbunan, kata ia, peluang memproduksi bom nuklir tertutup.
"Menurut saya, pencapaian terpenting adalah kesepakatan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki material nuklir yang dapat digunakan untuk membuat bom," ujarnya.
Selain itu, proses verifikasi akan dilakukan secara penuh dan menyeluruh oleh International Atomic Energy Agency (IAEA), badan pengawas nuklir PBB. Al Busaidi juga mengatakan, Iran akan menurunkan stok material nuklir yang saat ini dimiliki ke level serendah mungkin dan mengubahnya menjadi bahan bakar.
Bahan bakar tersebut bersifat tidak dapat dikembalikan ke bentuk semula, sehingga memperkecil risiko pengayaan ulang. Menurutnya, pendekatan ini membuat perdebatan soal tingkat pengayaan uranium menjadi kurang relevan, karena fokusnya kini pada larangan penimbunan.
Terkait tuntutan terbaru Amerika Serikat mengenai program rudal Iran, Al Busaidi menyebut Teheran terbuka untuk membahas semua isu. Ia berharap kemajuan dalam perundingan terbaru di Jenewa cukup untuk mencegah potensi serangan militer AS terhadap Iran.
"Kami telah membuat kemajuan yang sangat signifikan," ujarnya, meski mengakui masih ada sejumlah detail yang perlu dirampungkan.
Sebelumnya, Al Busaidi juga bertemu dengan Wakil Presiden AS JD Vance. Pernyataannya muncul di tengah sikap Presiden AS Donald Trump yang mengirim sinyal campuran.
Trump mengaku tidak sepenuhnya puas dengan jalannya negosiasi di Jenewa. Ia menyatakan Iran seharusnya segera mencapai kesepakatan dan menyebut langkah tersebut sebagai keputusan yang cerdas.
"Kami tidak begitu senang dengan cara mereka bernegosiasi," kata Trump. "Seharusnya membuat kesepakatan, mereka akan cerdas jika membuat kesepakatan," katanya.
Meski menyatakan lebih memilih solusi diplomatik, Trump juga mengatakan bahwa penggunaan kekuatan militer tetap menjadi opsi jika diperlukan. Pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran dijadwalkan berlanjut pada Senin mendatang di Wina, Austria. Oman kembali berperan sebagai mediator dalam upaya merumuskan paket kesepakatan komprehensif antara kedua negara.
(wur) Add
source on Google