Awas Perang! Negara Ini Serbu Kamp Militer Tetangganya, Tawan Pasukan
Jakarta, CNBCÂ Indonesia - Hubungan diplomatik di kawasan Afrika Barat mendadak panas membara setelah militer Guinea secara resmi mengonfirmasi penangkapan terhadap 16 tentara dari negara tetangganya, Sierra Leone. Ketegangan ini memicu kekhawatiran baru di tengah sengketa perbatasan lama yang tak kunjung usai di antara kedua negara tersebut.
Kementerian Pertahanan Nasional Guinea dalam laporan resminya pada hari Rabu (25/2/2026) menyatakan bahwa belasan tentara tersebut ditahan karena diduga telah melintasi perbatasan dan masuk ke wilayah kedaulatan Guinea tanpa izin resmi. Pihak Guinea mengklaim bahwa tindakan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap integritas wilayah mereka.
Kementerian tersebut menyatakan bahwa pasukan tentara itu mendirikan tenda dan mengibarkan bendera nasional mereka di area Koudaya, yang diklaim masuk dalam wilayah perbatasan Faranah milik Guinea.
"Peralatan serta pasokan milik para prajurit tersebut kini telah disita, dan investigasi resmi telah dibuka oleh Kementerian Pertahanan Nasional Guinea," demikian pernyataan lembaga tersebut dikutip Russia Today.
Namun, Pemerintah Sierra Leone memberikan versi cerita yang sangat berbeda dan menegaskan bahwa personel mereka tidak melakukan pelanggaran. Pihak Freetown mengklaim bahwa tim keamanan mereka sebenarnya sedang melakukan aktivitas pembangunan pada hari Senin di lahan yang mereka anggap sebagai wilayah kedaulatan sah Sierra Leone.
"Pada saat kejadian, personel keamanan Sierra Leone sedang sibuk membuat batu bata untuk pembangunan pos perbatasan dan fasilitas akomodasi yang ditujukan untuk mendukung operasi keamanan di area tersebut. Bendera nasional Sierra Leone telah dikibarkan di dalam wilayah yang diakui sebagai milik Sierra Leone," tegas Kementerian Informasi Sierra Leone.
Perselisihan perbatasan antara Guinea dan Sierra Leone ini sebenarnya memiliki akar sejarah yang dalam, yakni berasal dari masa Perang Saudara Sierra Leone yang berlangsung dari tahun 1991 hingga 2002. Selama konflik berdarah tersebut, Guinea mengerahkan pasukan untuk membantu Sierra Leone, namun mereka tidak sepenuhnya menarik diri setelah pertempuran berakhir.
Hal ini menyebabkan sengketa wilayah yang terus berlangsung hingga saat ini, termasuk perebutan wilayah Yenga yang dikenal kaya akan cadangan intan. Ketegangan terus berkobar berulang kali dalam beberapa tahun terakhir karena kedua negara sama-sama saling klaim di sepanjang garis batas negara yang belum disepakati sepenuhnya tersebut.
Konfrontasi sebelumnya sering kali melibatkan tuduhan timbal balik mengenai pelintasan ilegal oleh personel militer dan ketidaksepakatan mengenai di mana tepatnya letak garis perbatasan yang presisi. Selain masalah wilayah, hubungan kedua tetangga ini juga sempat memanas karena isu kriminalitas lintas negara pada awal tahun ini.
Pada awal 2025, Sierra Leone sempat memanggil pulang duta besarnya untuk Guinea setelah sebuah kendaraan kedutaan Sierra Leone ditemukan membawa tujuh koper berisi zat yang diduga kokain.
Otoritas Guinea menyita kendaraan tersebut dan menahan penumpangnya atas tuduhan perdagangan narkoba, yang memicu Freetown untuk menarik duta besarnya guna melakukan konsultasi, meski kedua pemerintah kemudian menandatangani perjanjian untuk melakukan investigasi bersama atas insiden tersebut.
source on Google [Gambas:Video CNBC]